Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Borok Beberapa Dosen Universitas di Malang yang Suka Membolos, Menjadi Mafia Nilai, dan Malah Menipu Mahasiswa

Kristian Ndori oleh Kristian Ndori
9 November 2023
A A
Universitas di Malang Dirusak oleh Dosen Penipu dan Mafia Nilai MOJOK.CO

Ilustrasi Universitas di Malang Dirusak oleh Dosen Penipu dan Mafia Nilai. (Mojok.co/Dena Isni)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sungguh brengsek, ada saja oknum dosen beberapa universitas di Malang yang menjadi mafia nilai dan suka menipu mahasiswanya. Brengsek!

Minggu lalu, saya membaca sebuah tulisan dari Sara Salim tentang gratifikasi dosen Universitas Brawijaya Malang yang nitip makan ke mahasiswa semester akhir tapi tidak mau bayar. Adalah Mojok yang memuat tulisan tersebut. Fenomena seperti ini sebenarnya sudah banyak terjadi. Namun, banyak mahasiswa universitas di Malang tidak berani speak up saja.

Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa jalur beasiswa. Nah, ada saja dosen yang memanfaat status ini dengan bersikap seenaknya. Mahasiswa tidak bisa apa-apa karena takut kehilangan bantuan. 

Oleh sebab itu, saya juga ingin membagikan cerita tentang “borok dosen” pengajar-pembimbing yang ada di beberapa universitas di Malang. Untuk mengetahui keburukan dosen, saya dan teman-teman ngopi melakukan survei.

Harapan saya dan teman-teman itu sederhana. Kami ingin hati dosen pengajar mendapat ketukan kesadaran bahwa yang mereka lakukan adalah salah.

Oknum dosen sebuah universitas di Malang malas mengajar dan kebanyakan memberi tugas

Fenomena ini menjadi “camilan” bagi mahasiswa yang tidak berkualitas. Mahasiswa macam ini dengan bangga menyambut kekosongan kelas karena dosen tidak masuk. Mereka bersorak-sorai karena mempunyai banyak sekali jam kosong. Mereka akan main-main, ngopi, ngegame, dan berpacaran.

Kami menemukan fenomena ini dari Miko (23 tahun, nama samaran). Dia kuliah di salah satu universitas di Malang. Kata Miko, ada beberapa dosen yang malas mengajar dengan bermacam alasan di luar nalar. Untuk mengisi kelasnya, dosen hanya memberikan tugas. 

Masalahnya, soal dari tugas-tugas itu berasal dari bahan yang belum dipelajari mahasiswa. Maka, mau tidak mau, mereka hanya mengandalkan buku dan Google sebagai “mata pencaharian” mengisi jawaban.

“Hampir setiap ada kelas beliau hampir tidak pernah masuk dengan seratus alasan, dan mengabarinya selalu mendadak. Kesel cok!” Kata Miko.

Bahkan, untuk mendata presensi tidak pernah di buku presensi. Dosen tersebut hanya mengandalkan presensi Google Classroom. Padahal, dosen tersebut sangat rajin menandatangani presensi kehadiran mengajar setiap hari. Sayang seribu sayang, pihak universitas di Malang itu tidak menanamkan formula yang efektif untuk memantau kinerja dosen tersebut. Benar-benar makan gaji buta.

Saya dan teman-teman mengira, bahwa mungkin saja dosen ini nyambi di universitas lain di Malang. TAPI NYATANYA TIDAK. Beliau hanya mengajar satu kampus saja. Padahal, mereka mendapatkan upah untuk melayani mahasiswa, tapi nyatanya cuma mau gajinya, tapi nggak mau kerja. Lebih menyebalkan lagi adalah kalau meminta tanda tangan KRS, sangat jarang di lingkungan kampus, maunya di luar. Sekalian di luar Malang sana! Di Nepal, misalnya. Biar jauh sekalian!

Ada saja dosen universitas di Malang yang suka menipu

Persoalan lain datang dari Fitri (24 tahun, tentu saja nama samaran). Saat ini, Fitri masih kuliah, juga di Kota Malang. Fitri mengatakan bahwa dosen di kelasnya suka menipu. Alasannya beragam. Mulai dari istrinya sakit, lagi nggak enak badan, dan bahkan ada pertemuan di luar kota sebagai utusan kampus.

Ah, alasan seperti ini klasik sekali. Sayangnya, ada saja mahasiswa yang malas dan sudah kehilangan marwah. Alasan-alasan klasik dari dosen di Malang itu sangat membantu mereka. Mereka menganggap dosen tersebut sangatlah keren dan mereka mengagungkannya.

“Hampir setiap ada kelas beliau selalu bilang istrinya sakit, lagi nggak enak badan, dan lagi meeting di luar kota. Sudah begitu, dia tidak memberikan tugas sama sekali,” kata Fitri. Ini menunjukan bahwa dosen tersebut sudah melanggar kode etik. Saya menyebutnya “dosen tidak berkualitas”.

Iklan

Dosen yang menghindar dari kejaran mahasiswa semester akhir

Menjelang akhir perkuliahan, mahasiswa harus menyusun skripsi. Mulai dari menentukan tema, menyusun judul, hingga mencapai bab 3. Inilah masa-masa depresi dan menjengkelkan bagi semua mahasiswa akhir. Semakin menderita karena mereka sulit sekali menemui dosen pembimbing universitas di Malang. 

Terkadang, mereka harus menunggu berjam-jam di depan ruangan dosen pembimbing. Bahkan mereka sampai seharian tanpa mendapat kabar.

Kirana (24 tahun, bukan nama asli) masih aktif sebagai mahasiswa universitas di Malang. Dia juga mengalami nasib serupa. Nahasnya, Kirana sempat depresi dan memutuskan pulang kampung untuk menenangkan diri.

“Aku hampir setiap hari mengemis minta ACC judul. Saya WA dosen, tapi tidak dibalas. Kadang cuma dibaca saja,” tutur Kirana.

Tidak hanya itu, Kirana sempat membuat janji untuk ketemu esok harinya demi ACC judul. Namun, janji hanya sebatas janji. Dosen tersebut sampai 4 kali mengingkari janji. Tertekan, Kirana kesal dan selalu menangis di kampus. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk pulang kampung demi menenangkan diri.

Ini bisa saja sebagai bentuk penghindaran. Penerapan aktivitas Tri Dharma terkait Pendidikan dan Pengajaran tidak diterapkan sama sekali. Dosen malah melanggar dengan seenak jidatnya. Mending mundur saja daripada makan gaji buta. 

Selain Kirana, ada juga Ahmed (26 tahun). Dia adalah mahasiswa semester akhir, satu universitas di Malang sama Kirana. Ahmed memilih “jalan pintas” untuk memuluskan perjalanan skripsinya. Dia melakukan gratifikasi supaya dosen mau mempercepat skripsinya. Dan cara itu sangat ampuh. Untuk bayaran awal sampai bab 3, Ahmed menghabiskan uang sekitar 3 juta rupiah.

“Aku sudah malas bolak-balik kampus. Toh ujung-ujungnya nggak bakal ketemu dosen itu. Aku sogok aja tiga juta. Pehh, langsung ACC”, ucap Ahmed. Apakah hanya kekuatan rupiah yang bisa memuluskan jalan skripsi semua mahasiswa universitas di Malang?

Dosen mafia nilai yang gemar mempermainkan mahasiswa

Mafia tidak hanya ada di dunia kriminalitas. Di sebuah universitas di Malang ada juga mafia. Dia adalah dosen yang yang melakukan penggelapan berkewajiban.

Kami menemukan dosen mafia nilai yang masih aktif di dunia kampus. Peran ini sangat terikat dengan istilah gratifikasi.

Bagi mahasiswa yang tidak terlalu pintar dan jarang masuk, tentu akan mendapatkan nilai yang buruk. Nah, untuk meningkatkan indeks prestasinya, para mahasiswa akan menyogok dosennya dengan dua cara, yaitu money dan body.

Kami mendapatkan info terkait fenomena ini dari Tania dan Daniel, mahasiswa universitas di Malang dan tentu saja bukan nama asli. Jadi, mereka adalah mahasiswa yang jarang masuk kelas karena alasan bekerja. Makanya, mereka jadi jarang mengumpul tugas. Akibatnya, mereka mendapat IPK yang terbilang jelek. Daniel, adalah mahasiswa yang tidak lolos SNBT dan memilih “jalan ninja” dengan menyogok pihak kampus agar dirinya bisa lolos.

“Biyen iku, aku gak lolos SNBT. Aku menggok dalan liyane. Ta mbayar kampuse, wis sampe saiki iso mblebu”, kata Daniel.

Kejadian berbeda terjadi kepada Tania, yang tidak pernah melihat nilainya. Alasanya, ada oknum dosen yang menahan nilai tersebut. Padahal, Tania sudah melunasi semua biaya. 

Usut punya usut, ternyata Tania belum membayar “uang buku dan modul” milik dosen. Harganya kisaran Rp500 ribu untuk 4 buku paket. Mendengar informasi itu, Tania segera “melunasi” kewajiban membeli buku paket milik dosennya. Nah, lucunya, sampai sekarang, Tania tidak pernah melihat bentuk dan model buku itu. Uangnya benar-benar lenyap.

“Dosen meminta mahasiswa untuk membeli bukunya. Harganya kisaran Rp500 ribu, tapi sampai sekarang bukunya tidak pernah kami pegang. Sudahlah, intinya nilai keluar dan cepat-cepat lulus”, kenang Tania.

Jadi, dari beberapa kisah mahasiswa universitas di Malang, kita bisa menyimpulkan bahwa ada saja dosen yang menempuh jalan busuk untuk mendapatkan keuntungan. Iya, tidak semua dosen punya borok seperti itu. Sebagian dosen di Malang benar-benar menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bagi yang brengsek, mending cepat sadar dan bertobat, deh.

Penulis:

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Sudah Tahu Gratifikasi, Dosen Pembimbing di Universitas Brawijaya Masih Titip Makanan ke Mahasiswa Skripsi dan Nggak Bayar dan kisah brengsek lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 9 November 2023 oleh

Tags: Jawa Timurkampus di malangKota Malangmahasiswa malangMalangUniversitas BrawijayaUniversitas di Malang
Kristian Ndori

Kristian Ndori

Mahasiswa, kuliah di Malang.

Artikel Terkait

Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO
Ragam

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Pulau Bawean Begitu Indah, tapi Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Saya Tinggal Selama 6 Bulan di Pulau Bawean: Pulau Indah yang Warganya Terpaksa Mandiri karena Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri

15 Desember 2025
UB Kampus Liar, UGM Ajari Mahasiswa Gak Omong Kosong MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Saya Menjadi Mahasiswa yang Jago Bertahan Hidup di UB, lalu Tiba-tiba Menjadi Pintar ketika Kuliah di UGM

9 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Restoran All You Can Eat adalah Penipuan Terbesar Abad Ini: Mending Nasi Padang yang Lebih Manusiawi MOJOK.CO

Restoran All You Can Eat adalah Penipuan Terbesar Abad Ini: Mending Nasi Padang, Lebih Manusiawi

26 Januari 2026
OB dan satpam kantor, orang paling tulus untuk berbagi kerja ketimbang teman-teman di tempat kerja MOJOK.CO

OB dan Satpam Kantor Paling Nyaman buat Berbagi Cerita dan Berkeluh Kesah, Lebih Tulus ketimbang Teman Kerja yang Kebanyakan Bermuka Dua

21 Januari 2026
Open Donasi Bodong Mengeksploitasi Kemiskinan MOJOK.CO

Gara-Gara Kapitalisme, Kita Lebih Mudah Nyawer Gift TikTok atau Berdonasi Online daripada Membantu Tetangga yang Susah

22 Januari 2026
Pelatihan kerja untuk calon pekerja migran di Jogja. MOJOK.CO

Skill yang Harus Kamu Kuasai sebagai Pekerja Migran “Elite” agar Nggak Dipandang Sebelah Mata

25 Januari 2026
Warung Bakso Horor di Selatan Jogja MOJOK.CO

Warung Bakso Horor di Selatan Jogja: Teror Gaib yang Tak Kunjung dan Belum akan Berhenti

22 Januari 2026
KP2MI buka pelatihan kerja untuk calon pekerja migran di Jogja. MOJOK.CO

LPP Agro Nusantara Akan Buka Pelatihan di Bawah Naungan KP2MI untuk Tingkatkan Keterampilan Pekerja Migran Indonesia

25 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.