Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Benarkah Saya Menolak Undangan Red Carpet Gala Premiere AADC 2?

Puthut EA oleh Puthut EA
23 April 2016
A A
Benarkah Saya Menolak Undangan Red Carpet Gala Premiere AADC 2?

Benarkah Saya Menolak Undangan Red Carpet Gala Premiere AADC 2?

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya baru bangun tidur ketika Marzuki Mohamad a.k.a Kill The DJ, musisi yang tidak ada hubungan famili dengan Goenawan Mohamad itu, atau yang biasa saya sapa dengan panggilan Mas Juki, menghubungi saya via Whatsapp.

Tiap kali mendengar nama Mas Juki, di kepala saya selalu muncul tokoh penting di novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang banyak dilupakan orang: Marjuki. Ya, kusir pribadi Nyi Ontosoroh yang sering mengantar dan menjemput Minke dalam berbagai kisah suka dan duka. Tanpa Marjuki, mobilitas Minke pastilah terhambat.

Iklan

Duh, malah kepanjangan nulis soal Mas Juki. Intinya, beliau menawari saya undangan menghadiri ‘Red Carpet Gala Premiere AADC 2’.

Tentu saja saya menolak. Ealah, tak lama kemudian penolakan saya muncul melalui cuitan di Twitter. Beliau bilang, saya menolak undangan tersebut karena grogi.

Ini harusnya jadi berita; kepala suku @mojokdotco sdr @Puthutea menolak undangan red karpet gala premiere #AADC2 dikarenakan beliau “grogi”

— Marzuki Mohamad (@killthedj) April 22, 2016

Karena cuitan tersebut sudah kadung muncul di publik, tentu saya harus memberikan klarifikasi. Lewat media apa? Ya tentu saja lewat media yang punya power besar seperti Mojok ini. Sebagai Kepala Suku, pastilah tulisan saya dimuat. Kalau Mas Juki atau Dian Sastro nanti memberi tanggapan, tinggal saya bilang saja ke pihak Redaktur agar tidak memuat. Lho, tapi ngomong-ngomong kenapa sampai ada Dian Sastro? Apa urusan dia dalam kaitan antara Mas Juki, saya, dan Gala Premiere AADC 2? Maaf ya, nama itu nyelonong begitu saja.

Jadi begini. Saya sebetulnya mau saja menghadiri acara tersebut, tapi setelah saya renungkan, hal itu akan mengurangi kenikmatan saya dalam menonton AADC 2. Kalian pasti bisa membayangkan kalau misalnya saya dapat kursi di dekat Dian Sastro. Sepanjang pemutaran film itu, pastilah saya tak jenak. Merasa diawasi, diperhatikan, dicuri-curi pandang. Gak enak banget, kan? Kalau berani, ayo beradu pandang. Bersitatap. Sekalian yang lama…

Kalau diperhatikan diam-diam macam begitu, saya yang susah. Pas saya lihat nanti dia pura-pura enggak melihat. Begitu saya menonton lagi, dia memperhatikan saya. Kan saya jadi serbasalah. Hampir bisa dipastikan saya tak bakal bisa khusyuk menikmati AADC 2, padahal film ini sudah saya tunggu jauh hari sebelum ide AADC 2 hinggap di benak sutradara dan produser film. Visi saya tajam sekali, bukan?

Bagi saya, film Indonesia sementara ini hanya ada 3: Naga Bonar (tidak pakai 2), AADC, dan film Indonesia lain. Setelah AADC 2 muncul, bagi saya, film Indonesia ada 4. Sekalipun ketika tulisan ini saya buat,  saya belum menonton AADC 2, tapi saya yakin AADC 2 bagus. Kalau jelek pastilah itu salah Mas Juki. Eh…

Maka dari itu, tentu tidak mungkin saya mau mengikhlaskan diri mengurangi kekhusyukan menonton AADC 2 hanya dengan iming-iming ‘Red Carpet’-lah, ‘Gala Premiere’-lah… Apalagi cuma diiming-imingi ketemu Dian Sastro.

Jadi, ingat ya Mas Juki, bahwa saya tidak grogi. Kalaupun grogi ya sedikit, lah. Manusiawi. Namanya juga cinta pertama, eh pertemuan pertama maksud saya. Sekali lagi, itu hanya soal saya tidak mau mengurangi kadar fokus dan khusyuk dalam menonton film yang sudah bukan hanya puluhan purnama, melainkan ratusan purnama saya tunggu. Ini bukti bahwa saya bukan sembarang penonton AADC. Saya penonton AADC garis keras, yang berdiri di barisan pelopor paling depan, dan hanya dibekali satu prinsip: negosiasi gagal, bentrok!

Ibarat suporter, saya adalah suporter garis keras yang duduknya di Curva Sud. Rela kecapekan, rela berteriak sampai hilang suara, bahkan kalau perlu harus rela bersitegang dan berkelahi dengan suporter lawan. Kalau bukan saya, atau orang-orang sejenis saya, terus siapa lagi? Kami, yakni saya dan para suporter garis keras AADC inilah yang menjadi pelantang, diseminator, penyampai pesan ke khalayak luas tanpa peduli strategi pemasaran dan gimmick yang dipakai pihak produser untuk memperkenalkan AADC 2 ke publik. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Urusan kami hanya satu: menonton.

Menonton AADC 2 bagi orang-orang seperti kami, adalah suatu momentum sakral. Di saat seperti itu, gedung bioskop menjelma menjadi kuil suci. Red Carpet yang digelar di Gala Premiere, tak akan bisa menandingi keagungan tempat ibadah bernama gedung bioskop itu, yang belum mungkin kami alami sepuluh atau dua puluh tahun sekali.

Kami datang laiknya Romanisti yang beranggapan AS Roma adalah AS Roma. Sementara Barca, MU, Juventus, Chelsea, termasuk Napoli dll itu hanyalah klub sepakbola. Tempat kami di stadion adalah di Curva Sud. Bukan di tribun VIP.

Iklan

AADC adalah AADC. Bukan yang lain. Titik. AADC 2 adalah AADC 2. Bukan yang lain. Titik. Kalau perlu dalam sehari kami menonton 3 kali, selama 5 hari berturut-turut. Bahkan kalau perlu kami duduki gedung bioskop dan kami dirikan tenda di halamannya.

Kami tak akan peduli semua teori perfilman, tak butuh mendengar dan membaca para kritikus film, dan sekian analisis yang membuat film AADC menjadi sangat profan. Sangat ilmiah. Mencoba memotong rantai psikologis yang mengikat kami dengan Dian Sastro, eh dengan film itu. Kami tak peduli dengan semua puja-puji atau caci-maki soal film itu. Termasuk seremonial-seremonial yang bagi pihak pembuat film penting, tapi bagi kami sama sekali tak penting dan tak berguna. Diadakan atau tidak, tak ada pengaruhnya buat kami. Hal yang paling penting bagi kami hanyalah menonton AADC 2 sepuas kami, dan merayakannya sesuai dengan cara dan gaya kami.

Jadi Mas Juki, istilah grogi itu tidak tepat. Sebab yang tepat adalah istilah gentar. Hal yang susah dideskripsikan. Emosi yang sudah campur aduk tak karuan, karena sudah lama kami menunggu sampai lumut tumbuh di dinding waktu.

Jadi Mas Juki, ini bukan soal Dian Sastro. Urusan saya dengan dia sudah lama kelar. Saya sudah punya anak dan istri. Dia juga sudah punya anak dan suami. Kami berdua sudah sama-sama bahagia dengan keluarga kami masing-masing. Terlebih, kami berdua tak saling kenal. Jangan berlebihan.

Jadi Mas Juki, ini soal AADC 2. Bahwa dalam film yang entah kenapa makin ditunggu malah makin mendebarkan itu ada Dian Sastro, ya pastilah. Harus. AADC 2 tanpa Dian Sastro ibarat orang kelaparan di tengah malam, malas keluar karena hujan turun lebat dengan petir menggelegar, dan stok mie instan habis.

Kalau cuma soal ‘Red Carpet’ itu, terlalu duniawi buat saya. Karena AADC 2 ini sudah menyentuh dimensi spiritual. Sudah seperti membersihkan karpet masjid sebelum bulan Ramadan tiba.

Paham Sampeyan wahai, Mas Juki? Nek ora paham, tak tabrak sisan lho…

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2018 oleh

Tags: aadc2AS RomaDian Sastrofeatured
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

AS Roma, Felix Afena-Gyan, dan Jose Mourinho Memeluk Masa Depan MOJOK.CO
Balbalan

AS Roma, Felix Afena-Gyan, dan Jose Mourinho Memeluk Masa Depan

22 November 2021
Menunggu Dian Sastro di Gudeg Ceker Mbok Joyo
Liputan

Menunggu Dian Sastro di Gudeg Ceker Mbok Joyo

30 Oktober 2021
Madrasah Serie A: Lukaku Lulus Cum Laude, Tammy Abraham Memesona di Hari Pertama MOJOK.CO
Balbalan

Madrasah Serie A: Lukaku Lulus Cum Laude, Tammy Abraham Memesona di Hari Pertama

23 Agustus 2021
ilustrasi Rekomendasi Lagu Karaoke buat Mbak Dian Sastro biar PPKM-nya Semakin Asyik mojok.co
Pojokan

Rekomendasi Lagu Karaoke buat Mbak Dian Sastro biar PPKM-nya Semakin Asyik

15 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
penyakit, cuci darah.MOJOK.CO

‘Gaji Habis buat Cuci Darah’ – Yang Perlu Kamu Ketahui soal “Tren” Penyakit Lansia yang Menyerang Generasi Muda

19 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Wisata Plunyon Kalikuning Yogyakarta. MOJOK.CO

Ekspektasi Menikmati “Lantai Dua Jogja” di Plunyon Kalikuning Rusak karena Ulah Jamet dan Beberapa Spot yang Tak Terawat

15 Juni 2026
Kirab pusaka malam 1 Suro di kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, tidak hanya upaya menjaga warisan budaya-tradisi turun-temurun. Tapi juga jadi penggerak ekonomi daerah MOJOK.CO

Nilai Lain Kirab Malam 1 Suro di Surakarta: Jadi Daya Tarik Lintas Zaman, Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Daerah Jateng

17 Juni 2026
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.