Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

Urfa Qurrota Ainy Qurrota Ainy oleh Urfa Qurrota Ainy Qurrota Ainy
7 Agustus 2026
A A
Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Ilustrasi Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Anak juga membutuhkan kosakata emosi untuk bekal empati

Banyak orang tua mendaftarkan anaknya les membaca, matematika, hingga bahasa asing sejak usia dini. Semua itu penting. Namun, jangan sampai karena ingin anak segera pintar, juara olimpiade, dan menjadi komisaris pada usia muda, kita melupakan kemampuan yang lebih mendasar: mengenali emosi.

Literasi emosi bahkan dapat diajarkan sebelum anak mengenal abjad. Ketika anak marah karena dilarang bermain, orang tua bisa berkata, “Kamu marah karena masih ingin bermain, ya?” Begitu pula ketika anak merasa kecewa, takut, malu, kesepian, atau cemas.

Iklan

Memberi nama pada emosi bukan berarti membenarkan setiap perilaku anak. Anak tetap perlu memahami batasan. Namun, sebelum belajar mengelola perasaan, ia harus tahu perasaan apa yang sedang dihadapinya.

Saya teringat ketika membacakan buku berjudul Petualangan Sekeping Kancing kepada putri saya. Buku itu berkisah tentang sebuah kancing yang terlepas, diabaikan, dan dilupakan. Setelah berpetualang ke berbagai tempat, si Kancing akhirnya bertemu Bonita, seorang anak yang membuatnya merasa berguna dengan menjadikannya bagian penting dari sebuah boneka.

Setelah cerita berakhir, saya bertanya kepada putri saya, “Apakah kamu pernah merasa diabaikan seperti Kancing?”

Ia mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Katanya, setiap kali saya marah, ia merasa seperti si Kancing. Tangisnya pecah dan cerita panjang mengalir dari mulutnya.

Jawaban itu membuat saya terdiam. Saya membacakan buku tersebut dengan niat mengajari anak memahami perasaan tokohnya. Ternyata, sayalah yang sedang diajari melihat kemarahan sendiri dari sudut pandang anak.

Anak mungkin sudah mengenal kata “senang” dan “sedih”, tetapi perasaan diabaikan jauh lebih rumit. Di dalamnya dapat tersimpan kesepian, kecewa, cemas, marah, malu, sekaligus takut.

Jika anak hanya mengenal kata “sedih”, semua pengalaman yang kompleks itu akan masuk ke satu map besar bernama Sedih. Ia akan kesulitan memahami dan menjelaskan kebutuhannya karena tidak memiliki kosakata yang cukup. Jika memahami emosinya sendiri saja sulit, bagaimana kita berharap ia mampu memahami perasaan orang lain?

Membaca buku saja tidak cukup

Buku dapat membawa anak memasuki pengalaman yang belum pernah dialaminya. Melalui tokoh fiksi, anak dapat mengenal rasa kehilangan, kecemburuan, kegagalan, kesepian, dan ketakutan tanpa harus mengalami semuanya secara langsung.

Namun, membaca saja tidak cukup. Pendidikan tinggi membuat seseorang membaca banyak bahan akademik, tetapi membaca untuk menguasai pengetahuan tidak selalu sama dengan membaca untuk memahami manusia lain.

Karena itu, jangan buru-buru menutup buku setelah cerita berakhir. Ajak anak berbicara. Bantulah anak merefleksikan cerita yang ia baca. Tanyakan hal-hal yang bisa menambah kosakata dan literasi emosinya. Misalnya:

“Apa perasaanmu setelah baca buku tadi?” 

“Tadi tokohnya kenapa?”

“Menurutmu kenapa tokohnya memilih melakukan itu?”

“Kalau kamu jadi tokohnya, kamu bakal melakukan apa?”

“Kamu pernah nggak merasakan hal yang sama?”

Jangan hanya bertanya, “Apa pesan moralnya?”

Iklan

Pertanyaan tentang pesan moral sering membuat anak sibuk mencari jawaban yang dianggap benar. Padahal, percakapan tentang perasaan dapat membantunya memahami bahwa orang lain mungkin melihat dan merasakan suatu kejadian secara berbeda.

Menumbuhkan empati tentu bukan pekerjaan simsalabim. Empati tidak dapat dijejalkan ke kepala seperti nama organ tubuh atau rumus geometri. Ia tumbuh perlahan melalui pengalaman, percakapan, teladan, dan kualitas hubungan anak dengan orang-orang terdekatnya.

Kita juga tidak bisa menyerahkan semua tugas ini kepada guru di sekolah. Bagaimanapun, peran orang tua lebih besar dan utama. Menurut studi, kemampuan berempati merupakan kombinasi antara gen bawaan dan kualitas pengasuhan. 

Sepintar apa pun kelak anak kita, setinggi apa pun sekolahnya, sebanyak apa pun gelarnya, semua itu kehilangan arti apabila ia gagal memanusiakan sesama.

Di tengah interaksi media sosial yang semakin mudah mengubah penderitaan orang menjadi bahan olok-olok, barangkali keterampilan paling penting bukan hanya menciptakan teknologi agar manusia dapat berjalan di planet lain. Keterampilan paling penting adalah bersedia berhenti sejenak, lalu mencoba berjalan dengan sepatu orang lain.

Turut berduka cita untuk keluarga Yurizal. Semoga almarhum mendapat ketenangan dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Penulis: Urfa Qurrota ‘Ainy
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Alasan Mengapa Orang Bisa Tidak Memiliki Empati Sampai Meminta Orang Miskin Jangan Punya Anak

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2026 oleh

Tags: anakempatinirempatiorang tuaparenting
Urfa Qurrota Ainy Qurrota Ainy

Urfa Qurrota Ainy Qurrota Ainy

Urfa Qurrota Ainy adalah seorang ibu dan penulis cerita anak, di samping sejumlah genre lainnya, termasuk kesehatan mental. Karya-karyanya diterbitkan di Let’s Read Asia, Elex Media, dan Buku Mojok. Kalau sedang malas menulis, biasanya ia bantu-bantu suami petik cabai dan sayur di kebun.

Artikel Terkait

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.