Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Apakah Ustadz Bachtiar Nasir Mau Bikin Anti-Munafik Munafik Club?

Arlian Buana oleh Arlian Buana
26 Juni 2017
A A
esai bachtiar nasir mojok

esai bachtiar nasir mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di hari nan fitri, ketika tangan tak mampu menjabat, kaki tak mampu melangkah, dan mulut tak mampu berucap, saya kaget bukan main. Di Twitter, ramai orang membicarakan khotbah ustadz idola saya, Bachtiar Nasir, yang isinya: “Islam toleran adalah Islam setan”. Hampir copot jantung saya.

Mana mungkin?

Adalah hil yang mustahal Ustadz Bachtiar, Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), salah satu korlap Aksi Bela Islam yang legendaris, mengucapkan sesuatu yang bertolak-belakang dengan semangat keislaman yang damai, toleran, rahmatan lil alamin.

Untung ada Youtube. (Youtube, Youtube, Youtube lebih dari TV. Boom!).

Saya putar berulang-ulang khotbah beliau di Masjid Al-Azhar Jakarta itu 212 kali. Alhamdulillah, tidak ada ucapan seperti yang dituduhkan kepadanya di atas. Dan sekali lagi alhamdulillah, si penyebar pertama konten palsu itu segera menghapus twitnya mengoreksi dan meminta maaf.

Ustadz Bachtiar hanya menekankan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh utama umat manusia yang paling nyata. Beliau menceritakan peristiwa Adam yang tergoda bisikan setan untuk memakan buah khuldi. Adam lupa bahwa setan adalah musuhnya. Adam lengah. Karena, firman Allah, ditirukan Ustadz Bachtiar, “Tidak kudapati kesungguhan pada Adam untuk menjadikan setan sebagai musuhnya, sehingga dia toleran kepada setan.

“Jadi kalau ada yang mengatakan umat Islam adalah umat intoleran, pasti itu kelompok setan.”

Apa hubungan antara Adam yang toleran dengan setan dan umat Islam yang dianggap intoleran? Tidak ada. Enak didengar saja. Jauh lebih enak ketimbang beat Young Lex. Semacam vickynisasi yang mengkudeta hati. O aza ya kan~

Ustadz idola saya tak pernah salah.

Kalau beliau salah, tidak mungkin Presiden Jokowi mau menerima beliau di Istana Negara. Hubungannya? Kok masih cari hubungan sih, memangnya situ jomblo? O aza ya kan~

Yang paling memukau dari khotbah Idul Fitri tersebut adalah ketika beliau bilang, “Walau ada yang menuduh Pilkada Jakarta adalah pilkada yang berbau SARA, tapi itu hanyalah orang-orang munafik yang gagal memahami.” Mantap soul.

Inilah dia. Tak cukup diumbar di mimbar Jumatan, perkara ini wajib pula disinggung di mimbar Idul Fitri.

Sebetulnya ini topik perdebatan basi dan membosankan yang sulit ditemukan ujungnya. Masing-masing pihak punya pembenaran yang sukar dipertemukan. Tapi karena junjungan saya Ustadz Bachtiar membahasnya lagi, mari kita bicarakan pelan-pelan. Lagi pula memang penting, kok. Betul-betul penting.

Pascapilgub DKI, banyak pihak yang menyebut kontestasi yang dimenangkan pasangan Anies-Sandi itu sebagai Pilkada yang kental dengan isu SARA. Selain kencangnya peringatan untuk memilih pemimpin Islam dan santernya penolakan memandikan jenazah pemilih pemimpin kafir, menurut exit poll SMRC dan beberapa lembaga lain: faktor agama memang berperan besar bagi kekalahan inkamben Ahok-Djarot.

Iklan

Kemenangan Anies-Sandi itu, dan sentralnya isu agama dalam pilgub, dianggap beberapa pihak sebagai kemenangan kelompok Islam konservatif, atau bahkan radikal, dan kemenangan prasangka atas pluralisme. Agak lebay, sih. Hanya karena segerombolan muslim radikal ada di kubu pemenang bukan berarti itu adalah kemenangan kelompok radikal.

Tapi harus diakui, kampanye dalam Pilgub DKI tempo hari sangat brutal dalam mengeksploitasi isu keagamaan. Di media sosial, hampir setiap hari kita menyaksikan perdebatan agama. Ujaran kebencian kepada etnis tertentu terus-menerus direproduksi, seruan “halal darahnya”, diikuti cap “kafir” dan “munafik” seperti yang disebut lagi oleh Ustadz Bachtiar.

Setuju saya dengan Ustadz Bachtiar, 411 persen setuju: itu bukan pilkada berbau SARA, melainkan pilkada dengan politisasi agama secara membabi-buta. Meski saya tidak tahu siapa yang Ustadz Bachtiar maksud dengan “orang-orang munafik yang gagal memahami”. Sumpah, saya nggak tahu.

Sekarang baiknya kita lupakan pilkada, mari berwiraswasta.

Karena sudah sangat sering diulang-ulang, “kafir” dan “munafik” sepertinya bagus dijadikan brand. Di beberapa kota yang saya kunjungi beberapa bulan belakangan, sudah banyak kedai 212 atau 411. Kedai Munafik, kedengarannya boleh juga.

Atau, yang jangkauan pemasarannya bisa lebih luas, usaha pakaian dengan merk Anti-Munafik Munafik Club. Kalau Ustadz Bachtiar Nasir mau bergabung, pasti akan laris manis tanjung kimpul.

Omong-omong, kemarin Ustadz Bachtiar dapat sepeda dari Jokowi?

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2017 oleh

Tags: ahokAnies BaswdanBachtiar NasirjokowiKafirmunafik
Arlian Buana

Arlian Buana

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Kabar

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Ambisnya Orang Tua di Jogja Demi Sekolah Favorit untuk Anaknya MOJOK.CO

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.