Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Alun-Alun Temanggung yang Seperti Kuburan Itu Lebih Baik Dibongkar Saja Daripada Tidak Berguna!

Khoirul Atfifudin oleh Khoirul Atfifudin
28 Juni 2024
A A
Alun-Alun Temanggung Kayak Kuburan, Mending Dibongkar Saja MOJOK.CO

Ilustrasi Alun-Alun Temanggung Kayak Kuburan, Mending Dibongkar Saja. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mempertanyakan fungsi Alun-Alun Temanggung

Kamu kamu bertanya tentang fungsi Alun-Alun Temanggung saat ini, saya tidak bisa menjawabnya. Paling saya bisa menjawab kalau tempat itu hanya terpakai untuk upacara ketika peringatan tertentu. Atau ketika ada acara dari pemerintahan. 

Seolah hanya pemerintah saja yang bisa mengisi alun-alun. Masyarakat sekitar seakan diabaikan karena tidak ada hal menarik di sana untuk saat ini.

Iklan

Bagaimana mungkin masyarakat mau ke Alun-Alun Temanggung yang aksesnya saja sulit. Tidak ada pedagang seperti dulu. Kalau dulu, anak SMP bisa naik ke alun-alun tapi kalau sekarang harus melewati “pintu masuk” yang ada di beberapa titik. 

Belum lagi kalau tidak salah, Alun-Alun Temanggung tidak memiliki tempat parkir. Ada, sih, cuma muat beberapa motor saja. Itu saja sepertinya bukan tempat parkir yang sebenarnya. Jadi kalau pengunjung mau main ke ke alun-alun, kendaraan harus parkir di toko-toko sekitar atau pendopo Pengayoman yang dekat dengan alun-alun.

Pembangkangan pedagang untuk nekat jualan

Ketika melewati Alun-Alun Temanggung sewaktu pulang dari Jogja, saya mendapati cukup banyak pedagang yang nekat berjualan di situ. Padahal, sebenarnya, pedagang tidak boleh lagi jualan di sana.

Mereka melakukan itu saya kira adalah wujud pembangkangan dalam level akar rumput. Para pedagang tetap nekat berjualan agar alun-alun bisa kembali ramai. Atau mereka mungkin belum bisa move on karena dulu ketika berjualan di sana masih relatif ramai. Sekarang, pendapatan mereka pasti berkurang.

Hal itu saya kira memang benar. Konteksnya adalah semenjak pemerintah merenovasi Alun-Alun Temanggung, semua pedagang pindah di samping pendopo Pengayoman. Namun, ketika lewat, saya melihat tidak banyak yang beli. Tidak seperti saat para pedagang di alun-alun. 

Ketika menempatkan diri sebagai konsumen, saya jadi tidak begitu minat. Saya jadi berpikir dua kali untuk jajan di samping pendopo karena kesannya agak gimana gitu.

Jadi wajar jika penghasilan para pedagang lebih banyak ketika mereka berjualan di alun-alun tempo dulu. Saya jadi merasa alun-alun jadi “berjarak” dengan masyarakat. Tempat yang dulu ramai dan menjadi pusat perhatian kini malah menjadi sepi seperti kuburan. Tidak ada gunanya bagi masyarakat.

Ketidakbecusan pemerintah dalam membangun public space

Sebenarnya, menurut kabar yang beredar, renovasi Alun-Alun Temanggung ini awalnya mendapat kritikan. Banyak pihak yang tidak setuju. Namun, pemerintah setempat kala itu ngeyel. Keukeuh untuk renovasi. Dan benar, ketakutan orang-orang itu terbukti.

Sebenarnya, alun-alun adalah salah satu korban ketidakbecusan pembangunan dari pemerintah setempat. Masih banyak tempat publik yang ketika kena renovasi malah daya tariknya berkurang atau malah tidak ada. 

Misalnya Taman Kali Progo Kranggan. Setelah renovasi, tempat itu malah menjadi sepi. Taman Parakan juga memiliki nasib yang kurang lebih sama. Ada lagi Taman Pancasila atau yang biasa disebut Tugu Jam. Tempat itu, walau di tengah kota, tapi sepi peminat.

Mencontoh daerah lain itu tidak salah, kok

Saya kira Pemerintah Temanggung ketika merenovasi sesuatu, wajib belajar dari daerah lain. Misalnya Wonosobo, yang alun-alunnya mendapat apresiasi dari banyak pihak. 

Jangan sampai pembangunan hanya membuang-buang anggaran. Sudah buang-buang anggaran, tapi hasilnya tidak sesuai harapan masyarakat. Padahal yang namanya public space memang untuk masyarakat, kan? Kalau masyarakatnya saja malas datang lantas apa manfaatnya? 

Iklan

Oleh karena itu, dari berbagai persoalan yang saya jelaskan di atas, apa tidak lebih baik jika Alun-Alun Temanggung yang seperti kuburan ini dibongkar saja. Daripada tidak berguna dan berjarak dengan masyarakat. 

Pemerintah merenovasi alun-alun supaya jalanan tidak macet, kan? Supaya kendaraan bisa leluasa lalu-lalang, kan? Kalau dibongkar, jalanan bisa makin tambah luas, lho. Tidak ada lagi macet. 

Begitu, kan, bapak/ibu di Pemerintah Temanggung? Saya kira lebih baik Temanggung tidak punya alun-alun daripada punya tapi fungsinya tidak ada. Malah seperti kuburan di tengah kota. Apa gunanya coba!

Penulis: Khoirul Atfifudin

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Semrawutnya Alun-Alun Temanggung: Niatnya Healing, Malah jadi Pusing dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2024 oleh

Tags: Alun-Alun TemanggungAlun-Alun Temanggung dikritikAlun-Alun Wonosobojawa tengahJogjatemanggung
Khoirul Atfifudin

Khoirul Atfifudin

Penyuka musik dan tertarik menulis.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.