MOJOK.CO – Berikut artikel terpopuler Mojok sepanjang 2025. Isinya berbagai keresahan lintas generasi yang terekam secara jujur. Mari.
Selama 2025, rubrik ESAI Mojok menayangkan ratusan artikel dengan berbagai tema. Mulai dari musik sampai kritik kepada sistem. Namun, satu hal yang pasti, semuanya berasal dari kejujuran orang biasa yang mencari tempat untuk bersuara.
Nah, berikut adalah 5 artikel yang menjadi terpopuler selama 2025. Kita mulai dari kesayangan masyarakat Jogja pada umumnya. Dan saya yakin, masyarakat Indonesia juga mencintai entitas indah satu ini.
#1 Sheila on 7, Band Aneh yang Bikin Kita Percaya Keajaiban, artikel terpopuler Mojok 2025
Musik Sheila on 7 menemani manusia lintas generasi di Indonesia. Bangsa Millennial hingga Generasi Z akrab dengan suara manis Duta sang vokalis. Bahkan, bagi beberapa orang, karya monumental Sheila on 7 tak akan membosankan meski kamu memutarnya sampai kiamat menjelang nanti.
Lirik-lirik Sheila on 7 itu sederhana. Namun, justru karena sederhana itu, mereka mampu merasuk ke kehidupan lintas generasi. Dan bagi Moddie Alvianto Wicaksono, sang penulis artikel di Mojok ini, Sheila on 7 menempati sisi spesial di hatinya. Bagi Moddie, Sheila on 7 memberinya keajaiban terus-menerus. Bahkan semakin magis di usia 30 tahun Sheila on 7 berkarya.
Jika kamu ingin merasakan keajaiban yang sama, klik tautan berikut untuk menikmati Sheila on 7.
#2 Nasib Sial Mudik dari Jogja ke Sumatra via Merak-Bakauheni Akibat Terlalu Berharap ke ASDP dan Pelni
“Bagi para pemudik dari Jogja menuju Sumatra via jalur darat, pertaruhan paling penting adalah saat menyeberang pulau. Sebab, rute Merak-Bakauheni, di puncak arus mudik berlangsung akan menguji mental dan fisikmu. Salah satu tips dari saya adalah jangan terlalu percaya sama Pelni dan ASDP.”
Begitu tulis Razi Andika di Mojok. Pengalaman adalah guru terbaik, kata orang-orang bijak masa lampau. Dan di Mojok sendiri, segala story berdasarkan pengalaman selalu mendapatkan atensi besar. Kamu tahu, artikel berdasarkan pengalaman adalah sesuatu yang useful dan tak lekang oleh waktu.
#3 Kebijakan ASN Jakarta Naik Transportasi Umum Tiap Rabu Mungkin Niat Baik, tapi Malah Melahirkan Celah Tipu Muslihat yang Besar
Seto Wicaksono adalah salah satu penulis produktif di Mojok. Jumlah artikelnya sudah tembus 600 biji. Lulusan Psikologi dan berpengalaman selama puluhan tahun sebagai recruiter menjelaskan sebuah potensi risiko dari sebuah sistem. Sebuah artikel yang membuka mata kita bersama.
Artikel ini merupakan gambaran betapa kebijakan yang terlihat indah, tetap menyimpan risiko. Bahkan “tipu muslihat” kata Seto.
#4 Menjadi Liar di UNY, Menikmati Kasih Sayang Dosen dan Menjadi Mahasiswa Tertib di UAD, artikel unik di Mojok
Kisah di dunia kampus adalah salah satu tema yang “mendominasi” Mojok dan Terminal Mojok beberapa tahun ke belakang. Tidak hanya relate, tema ini memberi nuansa first hand experience karena banyak pembaca, yang jelas mahasiswa, sedang menjalani pengalaman yang sama.
Janu Wisnanto harus pindah kampus jika ingin lulus. Semua karena dia terlalu menikmati masa-masa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sempat resah dan khawatir, Janu justru mendapatkan sambutan yang begitu hangat dari Universitas Ahmad Dahlan.
Bersama UNY, Janu menikmati masa-masa yang penuh ekspresi. Bebas sebagai manusia dan berpikir dalam kerangka yang liar. Dan bersama UAD, Janu jadi lebih disiplin dan dewasa sebagai manusia.
Apakah kamu merasakan kegelisahan dan kelegaan yang sama? Mari duduk dan mendengarkan kisah Janu.
#5 Plengkung Gading Jogja yang Ditutup, “Takhta untuk Rakyat” yang Mati, bukti cinta Mojok
Begitulah. Mojok dan Jogja.
Banyak orang memandang kami “terlalu membenci” Jogja. Artikel Mojok terlalu keras mengkritik, kebablasan, dan nggak tahu diri. Apalagi Mojok tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta (baca: Jogja).
Namun, kami percaya. Bahwa cinta itu senantiasa jujur. Rasa sakit paling nyata adalah ketika orang yang paling cinta memilih untuk diam karena lelah. Mojok tidak mau kesedihan itu terjadi. Kami jujur karena cinta. Dan Prabu Yudianto, adalah penulis yang paling fasih menerjemahkan cinta Mojok kepada Jogja.
Cinta untuk Jogja ini ditulis dengan kejujuran oleh manusia yang lahir dan menyerap aura dari dalam Keraton Yogyakarta itu sendiri. Oleh sebab itu, yang Prabu tulis adalah gambaran nyata dari kegelisahan zaman dari balik tembok keraton. Suara yang tak bisa dibeli dan bakal lestari.
Mari, meniti setiap senti dari kalimat indah “Takhta untuk rakyat” bersama Prabu.
BACA JUGA berbagai artikel menarik dan menggemaskan di rubrik ESAI.














