#3 Kebijakan ASN Jakarta Naik Transportasi Umum Tiap Rabu Mungkin Niat Baik, tapi Malah Melahirkan Celah Tipu Muslihat yang Besar
Seto Wicaksono adalah salah satu penulis produktif di Mojok. Jumlah artikelnya sudah tembus 600 biji. Lulusan Psikologi dan berpengalaman selama puluhan tahun sebagai recruiter menjelaskan sebuah potensi risiko dari sebuah sistem. Sebuah artikel yang membuka mata kita bersama.
Artikel ini merupakan gambaran betapa kebijakan yang terlihat indah, tetap menyimpan risiko. Bahkan “tipu muslihat” kata Seto.
#4 Menjadi Liar di UNY, Menikmati Kasih Sayang Dosen dan Menjadi Mahasiswa Tertib di UAD, artikel unik di Mojok
Kisah di dunia kampus adalah salah satu tema yang “mendominasi” Mojok dan Terminal Mojok beberapa tahun ke belakang. Tidak hanya relate, tema ini memberi nuansa first hand experience karena banyak pembaca, yang jelas mahasiswa, sedang menjalani pengalaman yang sama.
Janu Wisnanto harus pindah kampus jika ingin lulus. Semua karena dia terlalu menikmati masa-masa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sempat resah dan khawatir, Janu justru mendapatkan sambutan yang begitu hangat dari Universitas Ahmad Dahlan.
Bersama UNY, Janu menikmati masa-masa yang penuh ekspresi. Bebas sebagai manusia dan berpikir dalam kerangka yang liar. Dan bersama UAD, Janu jadi lebih disiplin dan dewasa sebagai manusia.
Apakah kamu merasakan kegelisahan dan kelegaan yang sama? Mari duduk dan mendengarkan kisah Janu.
#5 Plengkung Gading Jogja yang Ditutup, “Takhta untuk Rakyat” yang Mati, bukti cinta Mojok
Begitulah. Mojok dan Jogja.
Banyak orang memandang kami “terlalu membenci” Jogja. Artikel Mojok terlalu keras mengkritik, kebablasan, dan nggak tahu diri. Apalagi Mojok tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta (baca: Jogja).
Namun, kami percaya. Bahwa cinta itu senantiasa jujur. Rasa sakit paling nyata adalah ketika orang yang paling cinta memilih untuk diam karena lelah. Mojok tidak mau kesedihan itu terjadi. Kami jujur karena cinta. Dan Prabu Yudianto, adalah penulis yang paling fasih menerjemahkan cinta Mojok kepada Jogja.
Cinta untuk Jogja ini ditulis dengan kejujuran oleh manusia yang lahir dan menyerap aura dari dalam Keraton Yogyakarta itu sendiri. Oleh sebab itu, yang Prabu tulis adalah gambaran nyata dari kegelisahan zaman dari balik tembok keraton. Suara yang tak bisa dibeli dan bakal lestari.
Mari, meniti setiap senti dari kalimat indah “Takhta untuk rakyat” bersama Prabu.
BACA JUGA berbagai artikel menarik dan menggemaskan di rubrik ESAI.














