Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

3 Tradisi Lebaran yang Patut Dicurigai Diimpor Diam-diam dari Cina

Novi Basuki oleh Novi Basuki
5 Juni 2019
A A
3 Tradisi Lebaran yang Patut Dicurigai Diimpor Diam-diam dari Cina - Mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Nggak usah sok-sokan anti-aseng kalau kamu belum tahu bahwa ada 3 tradisi lebaran di Nusantara yang sangat mirip dengan tradisi di Cina.

Alkisah, tatkala mayoritas masyarakat Nusantara masih menjadi penganut animisme penyembah pohon, batu, dan sebangsanya, pendatang dari Cina yang mayoritas bermastautin di pesisir pantai pulau Jawa justru sudah banyak yang menjadi pemeluk Islam. Konon, para ikhwan muslim asal Cina ini umumnya bersih-bersih, sedangkan penduduk lokal yang masih dalam kondisi “kafir” itu dekil-dekil.

Iklan

Informasi begitu saya dapat dari catatan perjalanan masyhur yang menjadi rujukan otoritatif sejarawan mancanegara berjudul Yingya Shenglan. Penyusunnya bernama Ma Huan. Seorang muslim berkebangsaan Cina yang bisa cas-cis-cus bahasa Arab dan Persia.

Berkat kecakapan berbahasanya itu, ratusan tahun silam, dia diminta mengawani Cheng Ho untuk menjadi penerjemahnya buat melakukan ekspedisi mengarungi samudera mancanegara.

Karena itu, saya kira bukanlah hil yang mustahal kalau bangsa Cina juga turut andil dalam pengislaman penduduk negara yang kelak kita kenal dengan sebutan Indonesia ini. Caranya mungkin tak melulu lewat dakwah secara langsung, melainkan juga dengan cara kawin campur dengan orang-orang lokal.

Dari data sejarah itu, saya kemudian mengonfirmasinya sendiri menjadi pengalaman saat saya bisa tinggal cukup lama di Cina.

Semakin saya bergaul dengan tradisi di Cina, semakin saya merasa bahwa ajaran Cina sekaligus tradisi keislaman yang dipraktikkan kaum muslim negara yang kerap dijadikan kambing hitam atas hampir segala permasalah di negeri kita itu, ternyata mempunyai banyak kemiripan dengan apa yang diamalkan penganut Islam di Indonesia.

Nah, mumpung lebaran, coba mari saya suguhkan beberapa kesamaan antara ajaran Cina dengan tradisi Islam yang biasa kita lakukan saat merayakan hari kemenangan ini. Biar nyunnah dengan angka ganjil, saya sebutkan tiga saja di antaranya.

Pertama, mudik alias pulang kampung.

Ajaran Cina sangat mementingkan keluarga, terutama penghormatan terhadap kedua orang tua—baik kepada yang masih hidup maupun kepada yang sudah meninggal dunia.

Filsuf Konghucu yang ajaran-ajarannya di Indonesia dianggap sebagai doktrin agama itu, pernah bersabda begini dalam kitab Lun Yu (Petuah Hikmah);

“Ketika orang tuamu masih ada, janganlah mengembara jauh-jauh dari mereka; kalau pun terpaksa mengembara, haruslah punya tujuan nyata” (fu mu zai, bu yuan you; you bi you fang).

Kenapa? Karena, kata Konghucu, “Orang tua senantiasa khawatir terhadap kesehatan anaknya” (fu mu wei qi ji zhi you).

Sebaliknya, masih menurut Konghucu, anak “tidak boleh tidak tahu usia orang tuanya; anak harus senang kalau orang tuanya panjang umur, tapi di saat yang sama juga harus sedih sebab orang tuanya kian menua” (fu mu zhi nian, bu ke bu zhi ye; yi ze yi xi, yi ze yi ju).

Iklan

Karena itu jangan heran kalau menjelang lebaran dan Imlek, mudik untuk silaturahmi dan berkumpul dengan orang tua beserta sanak famili di rumah, menjadi agenda yang terus dinanti-nanti ketibaannya oleh masyarakat Cina muslim ataupun yang non.

Bisa jadi, semangat orang Cina untuk pulang kampung itu karena mereka ingin mengamalkan tradisi turun-temurun yang diilhami dari petuah Konghucu.

Namun, tidak menutup kemungkinan juga karena di Cina, setahu saya, tidak ada tetangga-tetangga julid yang demen menanyakan saat lebaran kayak “kapan nikah?”, “kapan punya anak?”, “kerja apa sekarang?”, dan segala pertanyaan mahasulit tanpa disertai jawaban solutif yang sejenisnya.

Kedua, ziarah ke makam leluhur.

Dalam ajaran Cina yang terinspirasi dari falsafah Konghucu, hukum mendoakan orang yang sudah meninggal sangat dianjurkan. Ini menjadi salah satu wujud bakti (xiao) kita kepada leluhur.

Konghucu pernah mengimbau, “Doakanlah leluhur sebagaimana engkau merasakan keberadaannya. Sembahyanglah kepada Tuhan seakan engkau merasakan kehadiran-Nya” (ji ru zai, ji Shen ru Shen zai).

Ya, kalimat terakhir itu memang 11-12 dengan sabda Rasulullah yang artinya “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah” itu lho.

Karena itu, sejak zaman baheula, orang-orang Cina mempunyai kebiasaan nyekar ke makam leluhurnya. Setiap tahunnya, mereka bahkan punya hari raya tersendiri untuk itu. Namanya hari raya Ceng Beng.

Terkhusus yang muslim, sama seperti kebiasaan muslimin di Indonesia, muslim Cina juga biasa nyekar ke makam leluhurnya sehabis menunaikan salat idulfitri.

Uniknya, di samping menghelat tahlilan dengan membakar hio sepeti yang biasa dipakai di kelenteng, muslim peziarah kubur yang umumnya datang rombongan bersama satu keluarganya, juga biasa membawa makanan untuk disantap bersama di makam sambil bercengkerama.

Di sekitar kubur pun bahkan acap menjadi pasar dadakan yang menjual aneka penganan untuk mereka yang tidak membawanya dari rumah.

Ziarah kubur sehabis Salat Id ini pun juga membawa berkah bagi non-muslim. Sebab, pedagang-pedagang yang berjualan di sekitar makam kebanyakan memang bukan penganut Islam.

Mangkanya, kalau tuan dan puan berkesempatan ke Cina saat hari raya, orang-orang Cina yang non-muslim kemungkinan tidak akan tahu di mana letak masjid terdekat, namun boleh jadi mereka akan sigap menunjukkan di mana pemakaman muslim berada.

Penyebabnya selain karena kebiasaan nyekar kubur muslim yang juga membawa rezeki bagi non-muslim untuk berjualan, juga karena yang diberi lahan pemakaman umum oleh pemerintah Cina ya cuma muslim doang. Mereka yang non-muslim biasanya dikremasi, bukan dimakamkan.

Ketiga, halalbihalal dengan berbagi angpau.

Hari raya idulfitri bagi muslim Cina atau Imlek bagi non-muslim di sana, memang menjadi kesempatan untuk halalbihalal dan mengumpulkan angpau. Enaknya, nominal angpau orang-orang Cina, tak peduli apa agamanya, selalu besar-besar nan menggiurkan.

Sayang, entah kenapa, ketika sudah sampai pada usia yang dianggap dewasa, kita tidak diberi angpau lagi. Malah giliran kita yang harus memberi. Padahal, nyata-nyatanya, kebutuhan kita terhadap angpau berisi uang jauh melampaui anak-anak kecil yang diberi Chiki saja sudah merasa girang itu.

Gara-gara beberapa persamaan tradisi muslim Indonesia dengan muslim di Cina inilah, terus terang bikin saya kian sulit mencari di mana letak perbedaan antara ajaran Islam versus Cina yang memungkinkannya menjadi apa yang oleh Samuel Huntington sebut sebagai “the clash of civilization”.

Makanya, ketika pas Aksi 22 Mei kemarin saya dikirimi video orang-orang yang memekikkan takbir kala mereka dikompori ketuanya yang bilang bahwa kawan-kawannya telah mati ditembaki “aparat Cina”, saya tetiba ingat kata-kata Mbah Pram di buku Hoakiau di Indonesia ini:

“Anti-Tionghoa dikembangkan secara sistematik oleh golongan penguasa, dan kemudian menjalar ke golongan borjuasi, yaitu golongan modal non-Tionghoa, kemudian diambil oper oleh golongan politik, yang menganggap anti-Tionghoa sebagai perasaan umum dan menggunakannya sebagai senjata atau landasan kegiatannya untuk mendapatkan simpati dari sekelompok orang yang disangkanya rakyat, tetapi terutama sekali untuk menyelamatkan dan memperbesar modal dari golongannya sendiri.”

Selamat idulfitri. Selamat lebaran. Gongxi facai!

Terakhir diperbarui pada 3 Juni 2020 oleh

Tags: AsengcinaLebaranMudikNusantara
Novi Basuki

Novi Basuki

Kandidat Doktor di Sun Yat-sen University, Guangdong, Cina.

Artikel Terkait

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)
Kilas

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran
Catatan

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)
Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO
Catatan

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

penyakit, cuci darah.MOJOK.CO

‘Gaji Habis buat Cuci Darah’ – Yang Perlu Kamu Ketahui soal “Tren” Penyakit Lansia yang Menyerang Generasi Muda

19 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Perjalanan Kopikina menjadi kedai kopi populer di Jakarta yang dirintis oleh alumni Beasiswa LPDP MOJOK.CO

Jalan Kopikina dari Kedai Kopi Kecil dan Bukan untuk Bisnis Serius Jadi Brand Besar di Jakarta, Terapkan Ilmu dari Inggris

19 Juni 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Ragam karya dan pertunjukan dalam Ars Longa: Generatio sebagai pembuka Trilogi Seni ARTJOG MOJOK.CO

Ragam Karya dan Pertunjukan dalam “Ars Longa: Generatio” sebagai Pembuka Trilogi Seni ARTJOG

24 Juni 2026
Gen Z Habiskan Gaji untuk Konser K-Pop. MOJOK.CO

Gen Z Habiskan Gaji demi Konser K-Pop: “Balas Dendam” Terbaik untuk Penuhi Inner Child

25 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.