MOJOK.COHingga Kamis (23/5) malam, polisi sudah mengamankan terduga perusuh di aksi 22 Mei. Per hari, masing-masing mendapatkan honor Rp300 ribu rupiah. Lumayan?

Ada dua perkembangan yang terjadi dalam satu hari terkait aksi 22 Mei. Kamis (23/5) pagi, Polres Jakarta Barat sudah mengamankan 183 orang yang diduga bertindak sebagai provokator dalam aksi 22 Mei di fly over Slipi.

Kombes Hengki Haryadi, Kapolres Jakarta Barat, menegaskan bahwa para perusuh di aksi 22 Mei  itu bukan santri. “Yang demo kemarin ada yang ngakunya santri, apakah santri? Kita lihat tampang-tampangnya,” cetus Kombes Hengki.

Kombes Hengki juga menyampaikan bahwa yang diamankan mayoritas berasal dari luar daerah seperti dari Kupang, NTT, Lombok, NTB, Banten dan lain-lain. Ketika diamankan, beberapa di antaranya mulutnya bau alkohol. “Ada beberapa orang yang kami amankan, rata-rata mulutnya bau alkohol.”

“Alat bukti yang kami sita adalah bambu runcing, kemudian besi pemukul, alat senjata tajam, katapel, dan busurnya juga kami peroleh. Petasan ini 24 jam nggak pernah habis. Ini sudah disiapkan di setiap gang untuk melakukan penyerangan kepada pihak polisi, kemudian bom molotov sudah disiapkan juga. Ini bukan buat menyampaikan pendapat di muka umum, bukan. Ini memang untuk membuat kerusuhan,” tambah Kombes Hengki.

Bergeser ke Kamis malam, jumlah terduga perusuh di aksi 22 Mei sudah bertambah menjadi 442 orang. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen, Mohammad Iqbal, menyampaikannya secara langsung.

Baca juga:  Aksi 22 Mei yang Dipicu Para Elite dan Dieksekusi dengan Sukarela oleh Kita

Para pelaku ditangkap di sejumah tempat. Mulai dari sekitar Kantor Bawaslu, Patung Kuda, Sarinah, Slipi, Menteng, dan Petamburan. Mohammad Iqbal mengatakan, pelaku ditangkap polisi karena terbukti melakukan perusakan dan pembakaran kendaraan di asrama Polri Petamburan, depan Kantor Bawaslu RI, dan di depan Stasiun Gambir.

Selain informasi bertambahnya jumlah terduga perusuh, Mohammad Iqbal menjelaskan bahwa demo aksi dibagi menjadi dua segmen. Pertama, demo yang berlangsung damai dan sifatnya spontan. Kedua, datangnya sejumlah massa yang disusupkan ke dalam massa demo damai untuk membuat kacau situasi.

“Jadi, pada aksi 22 Mei itu ada dua segmen. Pertama, massa peserta aksi damai yang spontanitas. Kedua, massa perusuh yang sengaja menyusup untuk membuat rusuh,” ungkap Mohammad Iqbal. Per hari, para perusuh ini mendapat honor Rp300 ribu.

Polisi menduga ada dua kelompok yang menunggangi aksi tempo hari. Kelompok pertama adalah simpatisan ISIS. Kedua, kelompok yang memiliki senjata api.

“Mereka ini perusuh. Ini dibedakan kelompok aksi damai,” kata Iqbal. Berdasarkan pengakuan perusuh yang ditangkap, ada kelompok yang memang sudah menyiapkan senjata api. Bahkan, mereka juga melengkapi diri dengan peredam.

“Kami sudah melakukan proses BAP terhadap beberapa orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kemarin sudah juga diamankan enam tersangka yang juga membawa dua senpi. Yang pertama tadi Senpi laras panjang, yang kedua, laras pendek,” kata Iqbal.

Baca juga:  Demokrat Nggak Ngotot Jadi Cawapres, Akankah Merapat ke Jokowi?

Kelompok senjata api ini memiliki target untuk membuat kerusuhan di aksi 22 Mei. Selain itu, tujuannya untuk menciptakan martir atau pahlawan sehingga memicu kemarahan masyarakat terhadap aparat.

(yms)

Infografik Aksi 22 Mei: 442 Perusuh Ditangkap, Honornya Rp300 Ribu per Hari



Loading...



No more articles