Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
23 Maret 2026
A A
3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat MOJOK.CO

Ilustrasi 3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Munir di atas sadel motor tua Honda Astrea dan setan yang ingin membelinya

Di atas sadel motor tua Honda Astrea di jalanan Ibu Kota, Munir men-declare kepada semua jenis setan dengan uniform bernama macam-macam: semua orang bisa semau-maumu kamu suap dan beli, tapi tidak dengan “saya” dan “tim saya” (KontraS).

Karakter-karakter seperti Prabowo Subianto, jenderal yang terkenal royal memelihara loyalitas dengan uang dan bea (siswa), menempatkan sosok seperti Munir ini adalah kerikil yang berubah menjadi batu sandungan. 

Mal Cijantung yang masih beroperasi sampai hari ini di muka markas besar Kopassus adalah monumen Prabowo Subianto sebagai seorang komandan. Menyekolahkan aktivis-aktivis radikal yang kanan maupun kiri dengan beasiswa adalah gaya Prabowo Subianto dan segera menemukan kontrasnya pada diri Munir dan KontraS. 

Munir bukan aktivis biasa. Motor bebeknya bukan simbol kemiskinannya, tetapi caranya menilai apa itu “bias” dan bagaimana menakar kemampuan diri dengan ketakutan atas ketaklukan pada “gaya hidup” yang didesakkan dari dunia eksternal. 

Ketakutan ada dua. Pertama, takut dengan setan ber-toys bedil kalau-kalau bedil itu diarahkan moncongnya tepat di titik sasaran mematikan. Kedua, takut dengan anggapan dan predikat “aktivis faqir” yang karena itu mengambil dan melahap apa saja yang disodorkan di atas benepaw stainless steel dengan satu semangat: raup mumpung ada kesempatan. 

Dari kerikil kecil, Munir berubah menjadi batu sandungan. Bukan saja menjadi mimpi buruk buat perwira tinggi berkepribadian seperti Prabowo Subianto yang menyandung bintang kecemerlangannya pada suatu masa, Munir juga menjadi kerikil jumrah yang membiak banyak untuk para jenderal korup, kaya raya, dan psikopat. 

Penunggang Honda Astrea 800: Lambang Babar Purnomo 

Mungkin, nama ini, “Lambang Babar Purnomo”, terasa asing dalam algoritma informasi kita. Tapi, tidak dengan setan-setan dunia kepurbakalaan. Lambang adalah Munir-nya di dunia arkeologi. Serupa dengan Munir, ia terbunuh secara tragis tiga purnama jelang satu abad Hari Kebangkitan Nasional. 

Salah satu institusi media yang paling serius memperhatikan Lambang dan ganjilnya cerita kematiannya adalah Tempo. Majalah bertitimangsa 5 Oktober 2008 atau 8 purnama setelah hari kematian dengan judul cover story “Sufi Kota Mencari Tuhan”, cerita Lambang mengambil jatah 13 halaman; dari halaman 55 sampai 69. 

Bandingkan dengan institusi di mana Lambang Babar Purnomo menjadi anggota resmi akademianya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Di media atau portal resmi UGM, https://ugm.ac.id/, bahkan nama “Lambang Babar Purnomo” tidak terinput satu pun. Dengan cara yang sama, saya mengetik dengan frase “Hashim Djojohadikusumo”. Hasilnya, media ofisial UGM itu merekamnya. Bukan hanya satu, tetapi beberapa.

Jika Lambang adalah bagian dari keluarga UGM, betapa minor dan sungsangnya hubungan keduanya. Tak ada profil akademis Lambang Babar Purnama. 

Begitulah, bila Lambang adalah bagian dari kampus Bulaksumur. Nasibnya seperti apa yang terjadi di portal kampus itu. Suatu institusi pendidikan arkeologi bergengsi di mana Lambang Babar Purnomo menghikmati diri menerima lungsuran pengetahuan dari masa lalu yang sangat jauh. Melalui semesta arkeologi, Lambang menyerap pengetahuan tentang dunia arkaik dan kuno.

Bayangkan saja, judul skripsi Lambang di UGM yang bertarikh 1984 justru saya temukan dari blog partikelir; jauh dari rumah informasi yang sifatnya officially. Sepotong informasi skripsi “Kasine, Situs Kubur dan Situs Pemujaan Masa Perundagian” menunjukkan keahlian Lambang Babar dalam jagad purbakala di periode seperti apa. 

Masa perundagian yang dimaksud di judul skripsinya itu adalah masa di mana logam memasuki alam peradaban kita. 

Di dunia arkeologi, Lambang Babar adalah mata laser benda purbakala. Retina mata Lambang adalah mesin pemindai yang sangat diandalkan. Hanya dengan mata telanjangnya yang terlatih puluhan tahun, ia tahu identitas dari benda yang tergeletak di depannya berstatus apa. Asli apa palsu. Kalau asli, dari mana asal, berapa usia, dan tersimpan di museum mana. 

Iklan

Saat kepolisian sedang giat-giatnya mengungkap pencurian dan pemalsuan benda purbakala di Solo, Lambang diminta sebagai mata pemindai operasi. Di rumah Hashim Djojohadikusumo ditemukan separuh arca-arca yang hilang dari Museum Radya Pustaka itu. 

Ternyata, arca-arca itu datang dari makelar Hugo E. Kreijger dari balai lelang Christie di Amsterdam. Arca yang dibeli Hugo itu dipasok bangsawan Surakarta bernama Kanjeng Raden Tumenggung Heru Suryanto. 

Nah, saat mengambil arca abad 4 sampai 10 itulah, mata pemindai Lambang menangkap fosil gading purba dan 21 arca yang tidak ada dokumennya di salah satu sudut ruangan rumah Hashim.

Dengan mata yang demikian itu Lambang boleh kita sebut sebagai kamus dan katalog yang beroperasi di kawasan dengan peninggalan benda masa silamnya terbanyak di seluruh Indonesia: Jawa bagian tengah dan timur. 

Mestinya, dengan keahlian dan talenta seperti ini, Lambang adalah hero insitusi pendidikan semacam UGM. Tapi, fakta berbicara lain. 

Lambang justru adalah aib bagi pihak-pihak yang terbiasa menyelesaikan segala soal dengan uang. Karena aib, menyebut namanya sekali pun adalah perbuatan laknat dan terkutuk. 

Lambang, Honda Astrea 800, dan helm cakil di selokan

Sepulang dari rumah Hashim di Jakarta itulah teror terus membututi Lambang. Sepurnama kemudian, terjadilah malapetaka subuh, seperti paragraf ketiga laporan investigasi pertama berjudul “Lambang dalam Pusaran Mafia Purbakala” di majalah mingguan Tempo: 

“Dua jam kemudian, orang berkerumun di depan rumah sekaligus kantor agen perjalanan PT Dewata Lintas Nusantara itu. Polisi tampak sibuk. Beberapa orang mengangkat sepeda motor Honda Astrea 800 dari selokan. Juga seonggok tubuh lelaki separuh baya dengan darah membanjir dari balik helm cakil di kepalanya. Polisi memastikan si mati adalah Lambang Babar Purnomo”. 

Lambang, motor bebek Honda Astrea 800, dan helm cakil yang bersatu dalam selokan di Ring Road Utara Yogyakarta itu menggambarkan satu hal; mestinya itu semua tidak terjadi bila Lambang Babar tidak memilih hidup zuhud di atas sadel motor tuanya.

Dunia purbakala itu merupakan dunia bisnis dengan perputaran uang yang luar biasa besarnya. Bagi mereka yang mengikuti secara saksama dunia yang dicintai hidup mati Lambang Babar ini, ini semesta di mana Anda bisa memiliki segala kemewahan hidup. Sebuah dunia dari mana metafora “harta karun” dikenal. 

Karun adalah nama pralambang sosok masa silam yang kitab suci menabalkannya sebagai manusia kaya dari masa Nabi Musa dan Israel, “Qarun”. Tapi, karun juga, saat dilekatkan kata “harta” di depannya menjadi benda-benda purbakala bervaluasi luar biasa tingginya. 

Lambang Babar berada pada dua pilihan: menjadi ilmuwan sekaligus guardian (baca: aktivis purbakala) bagi “harta karun” negara atau runner/makelar “harta karun” yang melayani rasa haus yang tak habis-habis para baron kaya raya atas segala benda kuno yang bernilai tinggi yang datang dari masa silam berabad-abad lamanya. 

Jika Lambang memilih yang kedua, tentu tak ada dua kalimat ini dalam memoar Lambang Babar Purnomo: “Beberapa orang mengangkat sepeda motor Honda Astrea 800 dari selokan. Juga seonggok tubuh lelaki separuh baya dengan darah membanjir dari balik helm cakil di kepalanya”. 

Ia memilih yang pertama. Menjadi pengamal garis keras ilmu arkeologi yang diperolehnya dari kampus tercintanya—semoga pernyataan ini benar—sebuah kampus bernama Universitas Gadjah Mada (UGM).

Motor Honda Astrea dan helm cakil adalah definisi material dari informasi ber-kata sifat saat situs berita Kompas mendefinisikan life style Lambang Babar di hari-hari ia terbunuh: “sosok yang sederhana, yang selalu tampil dengan penampilan yang bersahaja”. 

Bagi runner, makelar penyuplai benda-benda purbakala, sosok berpenampilan sederhana seperti ini lebih berbahaya dari aparat-aparat penyandang bedil. 

Laporan investigasi nomor 4, “Perkenalkan. Indonesia Jones”, tercetak paragraf ini: “Untuk mengangkut barang dari Jember ke Bali, misalnya, sang runner berbekal 15 amplop untuk menyuap polisi di berbagai titik”.

Karena “miskin”, lantaran itu jadi “sosok yang sederhana” dan ber-“penampilan yang bersahaja”, Lambang Babar yang ber-Honda Astrea 800 ini mudah saja diselesaikan dengan cara yang biasa dilakukan runner ketika bekerja. 

Runner yang dimaksud dalam paragraf investigasi itu—dalam konteks dunia purbakala—adalah “mafia purbakala yang berada di tengah di antara pemilik barang, galeri, kurator, balai lelang, dan kolektor … bertugas membereskan berbagai kendala di lapangan, menjamin benda kuno sampai di tangan penadah dan kolektor dengan bersih, aman, sentosa. Urusannya terentang dari menyiapkan surat keterangan aspal, kuitansi pembelian, sampai ‘membungkam’ siapa pun yang mengganggu”.

Jadi, dalam bahasa runner, sosok seperti Lambang Babar ini masuk kategori “pengganggu”. Sialnya, dia bukan pengganggu biasa yang bersuara lantang lantaran belum dapat pembagian “jatah preman”. Ia pengganggu yang memilih sepenuh hati menjadi iron dome bagi national treasure. 

Di selokan Ring Road Utara Jogja, Lambang tersungkur bersama motor bebek tuanya dengan kepala patah akibat—dalam bahasa investigasi—dipuntir orang misterius di subuh hari. Kata seorang reserse “garis lurus”, “Itu urusan lima menit (mengungkap siapa dan apa pembunuhan Lambang), jika mau.”

Tapi, polisi Sleman yang menangani perkara ini, mengeluarkan kalimat sifat yang pendek sekali: “Kami buntu!” Kalimat sifat dari polisi itu terucap jauh sebelum kemudian nama “Hashim Djojohadikusumo”—disebutkan 12 kali dari 7 laporan investigasi Tempo, termasuk 2 artikel wawancara—tercetak dalam besluit Menteri Kebudayaan No. 78/P/2025 sebagai ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya.

Di portal situsweb UGM, sekali lagi, nama “Hashim” juga muncul, bukan sebagai dosen, tetapi pendonor pembangunan sebuah gedung “untuk keperluan laboratorium arkeologi”. 

Dua paragraf dari UGM ini menandai apa arti kedermawanan, kemuliaan, dan kagunan peradaban bangsa.

“Kami dari Yayasan sudah melihat UGM adalah lembaga pendidikan excellent, khususnya di bidang ilmu budaya. Lembaga pendidikan ilmu budaya masih diperlukan supaya generasi muda tidak lupa budaya nusantara. Ikut mencintai budaya sendiri, ikut melestarikan budaya sendiri. UGM memiliki peran besar untuk tugas dan peranan luar biasa penting itu,” katanya. Hashim menambahkan pembangunan sarana gedung dimulai pada 11 September 2008 dan menghabiskan dana sebesar 13,5 miliar rupiah.

“Bangunan terdiri atas empat lantai dengan luas keseluruhan 3.200 meter persegi. Gedung digunakan untuk keperluan laboratorium arkeologi, ruang kuliah, ruang dosen, dan ruang guru besar. Bangunan baru ini diberi nama gedung R.M. Margono Djojohadikusumo, seorang tokoh yang pernah turut menginspirasi pembangunan Indonesia di masa kemerdekaan, juga pendiri Bank BNI 46, dan yang tidak lain adalah kakek dari Hashim Djojohadikusumo”. 

Penunggang skuter matik Yamaha Aerox: Andrie Yunus

Saat Andrie Yunus lahir, Munir SH dari KontraS sedang adu nyali mengungkap fakta, mendorong institusi hukum militer, dan menghimpun gelombang opini publik untuk menyelesaikan perkara penculikan aktivis dan penghilangan paksa warga negara yang dilakukan elite tentara.

Saat Andrie Yunus lahir, Markas Besar Angkatan Darat disibukkan oleh air bah cover story media yang mem-bold nama Panglima Kostrad Letjen TNI Prabowo Subianto sebagai sosok yang bertanggung jawab dalam kasus penculikan tatkala ia masih menjabat sebagai Danjen Kopassus.

Saat Andrie Yunus tepat berusia dua bulan, Dewan Kehormatan Perwira (DKP) memberhentikan mantan Danjen Kopassus Letjen TNI Prabowo Subianto dari dinas kemiliteran. Sementara, dua lainnya, mantan Dan Grup IV/Kopassus Mayjen TNI Muchdi dan Kolonel Inf. Chairawan dibebastugaskan dari semua tugas dan jabatan struktural di institusi militer (ABRI, dulu/TNI, sekarang). 

Saat Andrie Yunus berusia nyaris masuk SD, Munir meregang nyawa di langit Rumania yang dalam bahasa dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, “Pembunuhan Munir dalam Penerbangan GA 974 pada tanggal 7 September 2004 disebabkan oleh permufakatan jahat yang diduga melibatkan pihak-pihak tertentu di lingkungan Garuda dan BIN”. 

Kini, Andrie Yunus dari KontraS, di pekan lailatul qadar di bulan suci Ramadan, berhadapan dengan air maut yang dituang ke tubuhnya saat menunggangi motor Yamaha Aerox. 

Kamera pengawas merekam kejadian itu secara jelas dan rinci. Andrie Yunus yang membanting skuter matik. Andrie Yunus yang melolong kesakitan yang teramat sangat. 

Dengan kamera pengawas publik yang jumlahnya ribuan di banyak titik di jalanan Ibu Kota pula yang kemudian menuntun polisi memberitahu siapa penunggang motor jahat yang membuat Andrie Yunus membanting motornya dan nightmare-nya yang sangat ngilu pada malam itu menerbitkan kemarahan publik yang luar biasa. 

Apa yang menimpa Andrie pada 2026, mengingatkan apa yang dialami pendahulunya, Munir, 22 tahun sebelumnya. Nyali Andrie adalah produk dari madrasah KontraS yang diwariskan Munir. 

Munir yang menunggang motor untuk mobilisasi tugas pembelaan kemanusiaan, Andrie juga menunggangi motor dalam mobilisasi tugasnya sebagai wakil koordinator Bidang Eksternal di Badan Pekerja KontraS. 

Munir mati diracun oleh sebuah operasi permufakatan jahat “yang diduga melibatkan pihak-pihak tertentu di lingkungan Garuda dan BIN”. Andrie disiram air maut yang membakar sepertiga badannya oleh operasi permufakatan jahat yang dilakukan lembaga intelijen tempur Badan Intelijen Strategis (Bais). 

Dengan melihat dari mana asal para pelaku yang berencana menghabisi Andrie Yunus itu makin menabalkan satu hal betapa berbahayanya manusia-manusia muda seperti Andrie Yunus, si penunggang Yamaha Aerox yang bernyali. Berbela pati atas nilai-nilai dasar juang yang sudah digariskan Munir dengan cetakan epitaf yang dilukis dengan tinta nyawa sendiri.

Menjadikan Andrie sebagai target operasi jahat oleh lembaga intelijen militer memberitahu publik sesuatu betapa gawatnya isu yang selama ini ditangani KontraS: memperbaiki institusi tentara. KontraS tidak benci tentara, seperti halnya bagaimana Munir memperjuangkan pasal-pasal kemakmuran prajurit di Undang-Undang TNI sejak tapal mula. 

Andrie dan KontraS ingin institusi tentara sehat dengan mengawasinya sedemikian rupa agar tidak keluar dari zona yang sangat jauh dari job desk-nya. 

Dari atas sadel motor Aerox kuningnya yang terbanting di malam ganjil kedua lailatul qadar, guardian HAM Andrie Yunus ngegas ikhtiar untuk mencegah institusi militer dibawa para jenderal begajulan bermain-main di zona kekuasaan praktis. Andrie dan KontraS tidak pernah surut bersuara, institusi tentara itu alat negara, bukan alat kekuasaan. 

Demikianlah hikayat tiga penunggang motor Honda Astrea hitam, Honda Astrea 800, dan Yamaha Aerox. Mati terhormat para penunggang motor yang tahu bagaimana menjalani hidup di aspal hitam kemartabatan. Sembuh serta tegaklah para guardian seperti Andrie Yunus dalam barisan dan “touring” nyali di marka jalan putus-putus. Itu.

Penulis: Muhidin M Dahlan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA 3 Cara Mendapatkan Uang Banyak untuk Negara: Sebuah Proposal Kontroversial yang Harus Didengarkan Presiden Prabowo dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 23 Maret 2026 oleh

Tags: esaihonda astreakontrasMunirsejarahYamaha Aerox
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO
Otomojok

Astrea Grand, Motor Honda yang Saking Iritnya, Sampai Memunculkan Mitos Tentangnya

5 April 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO
Aktual

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO
Esai

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO
Sehari-hari

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

30 Maret 2026
User kereta api (KA) ekonomi naik bus Sumber Selamat: sebenarnya kursi lebih nyaman, tapi ogah tersiksa lebih lama MOJOK.CO

User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan

2 April 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.