MOJOK.CO Fasilitas angkutan gratis di kampus Unpad ini biasa disebut “odong”. Keberadaannya cukup diharapkan, meskipun keadaannya memprihatinkan.

Saya merupakan salah satu mahasiswa di Universitas Padjadjaran, universitas yang katanya terletak di Bandung, padahal terletak di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Yang luas lahan dan medan kampusnya terlalu melelahkan untuk disusuri dengan jalan kaki ke mana-mana, apalagi jalan kaki sendirian. Lantaran sudah luas, banyak sekali tanjakan dan turunan nan terjal pula.

Sebagai mahasiswanya, saya sering mengandalkan salah satu fasilitas pemberian kampus, yaitu angkutan gratis. Kami para mahasiswa Unpad, cukup akrab dengan angkutan gratis dalam kampus yang populer dengan istilah “odong-odong”, atau cukup disebut “odong” tanpa pengulangan.

Ya, kalau klean mahasiswa Universitas Indonesia (UI) boleh berbangga dengan “bikun”. Di sini kami juga berbangga hati dengan “odong” sebagai andalan antar-jemput dalam area kampus.

Berbeda jauh dengan “bikun” andalan rakyat UI, yang banyak menggunakan bis besar berfasilitas pendingin udara dan konfigurasi tempat duduk menyamping. Mayoritas armada “odong” berjenis mikrobus yang dikaroseri di atas chassis dan kepala truk engkel Isuzu Elf 100PS long wheelbase.

Bertenagakan mesin diesel 2.800cc yang cukup untuk membawa mikrobus dengan panjang total hingga 5,5 meter dan lebar 1,8 meter ini menaiki dan menuruni medan area kampus. Sebagian kecil menggunakan Isuzu Panther dan Mitsubishi Colt L300 yang terkenal punya reputasi sebagai kendaraan perang tangguh, handal, nan indestructible. Konon, mereka baru hancur sehari setelah kiamat saking tangguhnya.

Bentuk bodinya sendiri sangat hambar dan membosankan, tidak ada garis lekuk desain yang menarik. Datar saja. Macam digambar cuma dengan penggaris dan pensil. Pun dengan kelir warnanya yang elegan main aman. Dominan warna putih dikombinasi biru tua dengan logo Universitas Padjadjaran ukuran besar di samping.

Jendelanya terbuka tanpa kaca. Sebagai pengganti kaca, diberikan terpal gulung untuk ditutup saat cuaca memburuk. Ini cukup untuk melindungi penumpang dari cipratan air hujan dan sejuta kenangan yang menyertainya. Kemudian lantai menggunakan material plat bordes yang dicat ala kadarnya. Sehingga lantai ini begitu mudah berkarat, keropos, dan akhirnya bolong karena umur dan cuaca.

Jangan berharap duduk diatas jok empuk berlapis beludru, dengan sandaran bisa diatur rebahan seperti mikrobus yang umum ditemui. Karena seluruh bangkunya berbahan fiberglass keras nan tidak ergonomis. Ampuh cepat bikin bokong tepos dan panas. Tampaknya bangku-bangku ini dicomot dari sisa bangku tribun stadion atau ruang tunggu puskesmas. Sejumlah 16 bangku ditata dengan posisi berhadap-hadapan ini, diibaratkan seperti sepenggal lirik Hotel California dari Eagles yang berbunyi, “this could be heaven or could be hell”.

“Heaven” jika di hadapan saya, duduk serombongan mahasiswi berparas jelita, yang biasanya berasal dari Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) ataupun Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Sedangkan “hell” jika di hadapan saya, duduk orang-orang dengan kelebihan tinggi badan yang mengharuskan terjadi adu dengkul untuk berbagi ruang kaki yang sempit. Rasanya lebih baik berdiri saja, tapi niat untuk berdiri selama beberapa menit perjalanan saya urungkan karena alasan yang nanti akan diceritakan.

Untuk sistem penyejuk udara mengandalkan AC (angin cepoi-cepoi), sangat bersahabat dengan suhu udara ala kaki pegunungan di Jatinangor ini. Lalu soal on-board entertainment jangan ditanya. Kalau bus malam panturaan terkenal dengan suguhan hiburan dangdut koplo sepanjang perjalanan. Kami pengguna setia odong-odong cukup puas dengan raungan mesin diesel bebas menyelinap ke dalam kabin tanpa adanya peredaman. Diselingi suara per daun beradu, decitan dari rem tromol yang kadang memekakkan telinga.

Dan terakhir, dari bising dari pintu yang dibanting sekuat tenaga para mahasiswa Unpad tiap kali menaik-turunkan penumpang. Membuat suara bantingan pintu Datsun GO+ yang terkenal aduhai pun terasa tidak ada apa-apanya.

Angkutan ini benar-benar sangat robust. Tidak ada fitur kenyamanan dan keamanan bagi penumpangnya. Harap maklum, namanya juga angkutan (((gratis))) untuk penggunaan dalam kampus. Ini juga berarti meminimalisir kerusakan yang mungkin terjadi akibat tingginya intensitas penggunaan ataupun perilaku vandalisme.

Impresi awal saya ketika masih berstatus “maba” saat perjalanan pertama menjajal “odong” ini rasanya seperti menjelajahi sebuah taman wisata alam ketimbang berada dalam lingkungan kampus. Ini semua berkat jendela terbuka yang sukses menciptakan suasana tanpa batas dengan alam sekitar. Hanya minus tour guide berbicara dengan pengeras suara portable/TOA. Heuheuheu~

Karena dibangun di atas rangka sebuah truk, tentu saja karakter bawaan truk masih kental terasa. Bantingan suspensi per daun terasa sangat keras juga rebound kelewat cepat memantul-mantul. Serta penggunaan rasio gir kasar karena peruntukkan aslinya untuk mengangkut beban berat dan memaksimalkan torsi mesin. Setiap kali start dari posisi berhenti, terasa ada hentakan dibarengi desis suara turbo intercooler saat pedal gas diinjak. Sebuah kombinasi ampuh untuk mengeluarkan paksa makanan dalam lambung lewat mulut.

Sebagian pembaca yang kebetulan sesama mahasiswa Unpad, ataupun alumni yang pernah mengandalkan “odong”, tentu sudah paham betul dan maklum soal kebiasaan yang jamak ditemui. Terlebih saat “rush hour” sekitar pukul 07.00-08.00.

Perbandingan jumlah armada “odong” dan penggunanya sangat tidak berimbang. Hal ini mengakibatkan peperangan mahasiswa Unpad demi bisa terangkut untuk mengejar jam masuk kelas pagi. Alhasil saling sikut dan saling serobot tak terhindarkan. Ini mirip seperti kondisi di stasiun kereta commuter line, hanya saja dengan skala yang lebih kecil. Yang kuat dan yang berani, yang terangkut duluan.

Setelah terangkut, peperangan tidak selesai begitu saja! Penumpang dalam “odong” yang pada kondisi ideal hanya diisi 16 penumpang duduk. Namun, justru dijejali hingga 2x kapasitas ideal oleh penumpang yang rela berdiri. Tapi eh tapi, “odong” tidak pernah dirancang untuk mengangkut penumpang berdiri, jadi mereka tidak memiliki pegangan hidup berupa handgrip menggantung di plafon yang biasa ditemui di bis kota kekinian.

Terjebak di situasi macam ini, apalagi ditambah hati deg-degan ngejar kelas pagi. Lalu, perut kosong belum sarapan, bawaan seabrek-abrek. Dan juga aroma penumpang sebelah belum mandi gara-gara bangun kesiangan. Plus kalau dapat driver dengan gaya nyetir separuh Toretto, separuh gaya Takumi yang langsung tancap gas padahal pintu belum semua ditutup. Operan gigi ngeloncat, ngedrift gaspol di tikungan atau ngerem mendadak, bikin seisi “odong” kompak terdorong yang untungnya tidak keluar berhamburan. Begitu turun dari “odong” dijamin mood ngampus pagi ambyar seketika. Ujungnya malah nongkrong di kantin terus tipsen. Loh, eh?



Tirto.ID
Loading...

No more articles