MOJOK.COMasjid Nabawi menjadi semakin ramai, saat memasuki malam ke 21 Ramadan. Jamaah berlomba mencari kemuliaan Lailatul Qadar.

Memasuki malam ke 21 Ramadan—setelah menunaikan 20 rakaat tarawih—Imam Masjid Nabawi Syaikh Ali Huzaifi mengumumkan bahwa witir akan dilaksanakan pada separuh akhir malam. Waktu menunjukan kurang lebih pukul satu dini hari. Muazin mengumumkan akan dilaksanakan Qiyamul Lail atau salat malam. Salat dilakukan sebanyak delapan rakaat dan diakhiri dengan witir sebanyak tiga rakaat.

Malam itu jemaah Masjid Nabawi memang lebih ramai dari malam sebelumnya. Berbeda dengan kondisi jamaah masjid di tanah air yang mungkin karena efek jentikan Thanos menjadi berkurang setengahnya atau bahkan lebih. Sepuluh hari terakhir, baik di Nabawi Madinah atau Masjidil Haram Mekkah, justru makin ramai terutama pada malam ganjil dan utamanya lagi pada malam ke 27.

Salat Qiyamul Lail usai dilaksanakan. Kemudian saya menuju ke luar di mana sajian sahur banyak disediakan oleh para muhsinin alias donator. Pilihannya begitu banyak dan beragam, karena orang-orang ingin lebih memaksimalkan ibadahnya pada hari-hari akhir Ramadan.

Itikaf pada sepuluh hari akhir Ramadan adalah kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sampai beliau meninggal dunia. Ketika Ramadan beliau yang terakhir kalinya, beliau justru beritikaf sebanyak dua puluh hari. Beliau bahkan turut serta mengajak keluarganya serta mengencangkan sarungnya demi berburu apa yang disebut Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar adalah sebuah malam yang kemuliaannya melebihi seribu bulan. Setiap amal kebaikan yang dilakukan pada malam itu nilainya akan setara dengan amal seribu bulan. Setiap muslim sangat berharap supaya dapat mendapatkan anugerah tersebut.

Lalu kenapa malam hari tidak siang hari?

Lah malam saja orang banyak yang lalai buat mencarinya apalagi siang? Lagipula pada siang hari kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi. Dari mulai mahalnya tiket mudik sampai harga mukena Syahrini dan hal-hal lainnya.

Lalu kapan itu terjadi?

Nabi Muhammad memberikan petunjuk untuk mencarinya pada sepuluh hari akhir Ramadan. Utamanya lagi pada malam-malam ganjil. Namun, kapan persisnya para ulama berbeda pendapat. Setiap pendapat punya dalil tersendiri. Imam Ghozali sendiri punya rumusan tersendiri mengenai hal ini. Kata beliau, kalau awal Ramadan hari A misalnya, maka Lailatul Qadar akan jatuh pada tanggal X. Hal ini sebagaimana terekam pada kitab-kitab ulama syafiiyah.

Baca juga:  5 Hal Dramatis yang Bisa Terjadi Saat Salat Tarawih di Masjid

Ada juga yang menghitung dengan jumlah huruf Lailatul Qadar yang terdiri dari 9 huruf, lalu dikalikan tiga sebagaimana Allah menyebut malam ini di dalam surat Al-Qadar dan hasilnya 27. Mirip-mirip cocoklagi bukan? Memang, pendapat yang mengatakan bahwa malam ini terjadi pada malam ke 27 adalah pendapat mayoritas para ulama.

Lalu kenapa Allah menyembunyikannya jika terdapat kebaikan yang begitu besar di dalamnya?

Bicara Lailatul Qadar mirip-mirip dengan perkara cari jodoh. Sama-sama rahasia dan sama-sama anugerah yang besar jika berhasil mendapatkannya. Ketika dia menjadi rahasia Allah, maka kita akan menjadi lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menjemputnya.

Bagaimana cara mendapatkannya?

Ada yang mengatakan harus menghidupkan malam dengan cara beribadah selama satu malam full. Ada juga yang mengatakan minimal lebih dari setengah malam, jadi jika satu malam ada sepuluh jam maka minimal 6 jam waktu yang harus kita habiskan untuk beribadah. Ada juga yang mengatakan beberapa jam juga boleh. Terakhir, ada pula yang mengatakan minimal banget dengan mengerjakan salat Isya dan Subuh secara berjamaah, InsyaAllah bisa mendapatkan kemuliaannya. Lebih lengkap, lihat keterangan yang dibawakan Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathoiful Maarif.

Dari keterangan ini pula bisa ditarik kesimpulan bahwa itikaf bukanlah syarat dalam menjemput malam ini. Namun, kondisi itikaf biasanya akan mampu untuk menambah semangat dan fokus seseorang dalam beribadah.

Lantas, apa yang ada di dalam Lailatul Qadar?

Di dalamnya terdapat salam atau kedamaian dan keselamatan. Bisa juga diartikan bahwa malaikat menghormati dan mengucapkan salam kepada siapa saja yang mendapat karunia Lailatul Qadar. Sebagaimana kebiasaan malaikat nanti yang mengucapkan salam kepada penghuni surga. Jadi mirip-mirip gladi resik lah sebelum nanti masuk surga beneran. Amiiin.

Baca juga:  Budaya Kita adalah Melarang Warung Makan Buka Saat Puasa

Ibnu Asyur membawakan pendapat yang cukup menarik. Beliau bilang bahwa makna salam di situ adalah mashdar yang mengandung perintah untuk berbuat atau merealisasikan kedamaian dan keselamatan. Beliau membawakan hadis bahwasannya Rasulullah sebetulnya ingin mengabarkan tentang kapan terjadinya Lailatul Qadar itu. Lalu di hadapan beliau ada dua orang sahabat yang terlibat argumen cukup keras. Melihat hal itu, akhirnya beliau mengurungkan diri dan mengatakan semoga (dengan aku merahasiakan hal itu) baik untuk kalian semua. Maksudnya adalah supaya kita menjadi lebih bersungguh-sungguh dalam mencarinya.

Menarik dicermati untuk kita sebagai anak negeri. Friksi dua orang sahabat yang sebatas adu argumen menjadi salah satu sebab terhalangnya kita mengetahui Lailatul Qadar yang di dalamnya terdapat salam kedamaian dan keamanan. Lalu bagaimana dengan friksi antar dua kelompok yang massanya bisa dibilang tidak sedikit? Mengingat kondisi bangsa yang cukup panas pada hari belakangan ini baiknya kita wujudkan salam kedamaian dengan berkomentar yang baik atau diam dan tidak turut andil dalam menyebarkan berita yang membuat panas emosi jiwa anak bangsa yang lainnya.

Lalu bagaimana yang disibukkan dengan hal lain sehingga tidak mampu berkonsentrasi ibadah semisal musafir, wanita yang sedang haid, dan lainnya?

Juwaibir pernah bertanya kepada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapat engkau terhadap wanita yang haid, nifas, para musafir, dan orang yang tidur? Apakah mereka akan mendapat bagian daripada Lailatul Qadar? Beliau menjawab, ‘Semua orang yang Allah terima amal ibadahnya akan mendapat bagiannya (sesuai kadarnya masing-masing) pada Lailatul Qadar.’”

Kata Ibnu Rojab yang dilihat adalah amalan hati bukan amalan badan. Betapa banyak orang yang bangun namun terhalang dari kebaikan dan betapa banyak orang tidur namun justru dia yang mendapatkan ampunan. Karena yang tidur tadi hatinya mengingat Allah, sedangkan yang bangun justru hatinya lalai akan Allah.

Mudah-mudahan kita dijadikan Allah termasuk orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari serta mendapatkan Lailatul Qadar. Bukan orang yang justru disibukkan dengan lailatul kopdar ataupun lailatul mabar.



Loading...



No more articles