MOJOK.CO Tidak ada sidang isbat dalam penetapan awal puasa di Arab Saudi, pun dengan awal bulan Syawal. Lah, terus, nentuinnya gimana?

Tanggal 29 Sya’ban. Sore itu, saat bakda Asar, sebagaimana biasanya, saya naik bus milik kampus yang rutin mengantarkan kami, para mahasiswa, ke Masjid Nabawi. Sepanjang perjalanan, saya melihat sudah ada billboard bergambar iklan sirup. Ya, seperti di Indonesia, iklan sirup juga bisa ditemui dalam momen-momen menyambut Ramadan, bulannya puasa di Arab Saudi.

Bedanya adalah, dalam iklan tersebut, hanya tertulis Ramadan Kareem atau ‘Ramadan bulan yang mulia’. Tidak ada kata-kata semacam “selamat menunaikan ibadah puasa”. Jadi, bisa dibayangkan nelangsanya para bujanghidin di kota Madinah: tidak ada satu pun pihak yang menyemangati untuk beribadah di bulan puasa!

Turun dari bus, saya mulai bergerak jalan kaki ke arah Masjid Nabawi. Terlihat deretan hotel di samping kanan dan kiri juga sudah mulai sibuk memberikan ornamen-ornamen. Biasanya, mereka memasang semacam pelita lampu berwarna. Pemerintah kota Madinah juga memberikan sedikit sentuhan untuk mempercantik tiang-tiang lampu di sekitaran masjid dengan lampu tambahan.

Di dalam masjid, orang-orang sudah mulai ramai hilir dan mudik. Mereka bersemangat menyambut datangnya bulan suci Ramadan untuk puasa di Arab Saudi. Menjelang magrib, jemaah yang memasuki masjid kian ramai dan padat. Sebagian di antaranya duduk-duduk sambil membaca Alquran, termasuk kakek-kakek di sebelah saya, yang tampaknya adalah seorang warga lokal.

Jam sudah menunjukan hampir waktu magrib. Saya masih membuka internet untuk mengetahui apakah malam ini sudah bisa dimulai salat tarawih atau belum. Sementara itu, kakek di samping saya masih saja membaca Alquran, seakan tidak peduli apakah besok sudah mulai puasa di Arab Saudi atau belum.

Tiba-tiba, ada suara tembakan meriam. Suara ini cukup jelas terdengar bagi orang yang duduk di dalam Masjid Nabawi. Sang kakek di sebelah saya tersenyum dan berkata, “Alhamdulillah Ramadan Kareem.”

Baca juga:  Rayakan Tahun Baru kok Dibilang Budaya Yahudi, Nasrani, dan Majusi sih?

Ya, di kota Nabi ini terdapat tradisi menembakkan meriam sebagai pengumuman masuknya awal Ramadan. Begitu pula pada pengumuman Hari Raya Id. Meriam ini diletakkan di Gunung Sila’ yang lokasinya sekitar ratusan meter dari Masjid Nabawi.

Tradisi ini sempat ditiadakan selama beberapa tahun. Namun, pada tahun 1435 Hijriah, pemerintah kota memutuskan untuk mengembalikan tradisi ini karena ada warisan sejarah di dalamnya. Ia tidak hanya dilakukan di Madinah, tapi juga di kota Mekkah. Bahkan, di masa lalu di kota Mekkah, penembakan meriam juga dilakukan untuk pengumuman waktu sahur dan mulainya puasa.

Jadi, nih, ya, kalau ada wacana TNI AU hendak membangunkan masyarakat untuk sahur, jelas sudah bahwa mereka bukan orang yang pertama melakukannya. Ternyata, penentuan awal puasa di Arab Saudi juga memakai cara serupa~

Konon, tradisi penembakan meriam ini berasal dari Kairo, Mesir. Kabarnya, pada tahun 800-an Hijriah, salah satu Sultan pada Dinasti Mamalik ingin mencoba meriam yang baru saja sampai kepadanya. Uji coba itu dilaksanakan tepat waktu magrib sehingga rakyat mengira sang Sultan dengan sengaja mengingatkan para shaimun alias orang yang berpuasa bahwa waktu berbuka telah tiba. Rakyat yang keluar pun berterima kasih kepada Sultan.

Melihat ada euforia dari rakyatnya, sang Sultan pun mengeluarkan keputusan untuk membunyikan meriam saat waktu berbuka dan sahur selama bulan Ramadan.

Semenjak itu, tradisi ini mulai trending dan menyebar ke wilayah Arab lainnya, misalnya wilayah Syam, Hijaz, wilayah teluk, dan lain sebagainya.

Gimana, gimana? Mirip-mirip bedug di Indonesia, bukan? Hanya saja, bedanya, bedug dipakai untuk pemberitahuan waktu salat, sedangkan meriam dinyalakan sebagai pertanda masuknya awal Ramadan dan hari raya, termasuk Idulfitri.

Baca juga:  Kisah Para Begal Tanah Suci Mekkah

Lalu bagaimana dengan sidang isbat di Saudi?

Setahu saya, tidak ada sidang isbat di sini. Saya tidak pernah mendengar ada berita Bapak Duta Besar kita diundang pihak pemerintah kerajaan untuk mengumumkan dan dan menetapkan awal bulan puasa di Arab Saudi, atau awal bulan Syawal di Arab Saudi, sebagaimana yang ada di Indonesia.

Karena apa? Tentu saja, karena di Saudi tidak ada ormas-ormas keagamaan. Pengumuman pun dilakukan oleh Mahkamah Ulya alias Pengadilan Tinggi lewat keterangan persnya.

Dengan kata lain, prosesnya tidak seperti di Indonesia yang Pak Menagnya langsung turun ikut sidang sekaligus menetapkan dan mengumumkan. Tidak pula harus keluar biaya sekian miliar rupiah, sebagaimana hajatannya Kemenag setiap tahunnya.

Kaidah yang dipakai jelas: bahwa ketetapan hakim alias penguasa mengangkat segala perbedaan pendapat. Untuk metodenya sendiri, pemerintah kerajaan melakukan rukyat hilal dan hisab sekaligus. Yang tetap menjadi keputusan adalah pengamatan hilal secara langsung sebagaimana yang ada di Indonesia, bukan sebatas hisab.

Jadi kita mungkin bisa menyimpulkan hal yang cukup menarik: di Indonesia, ormas Muhammadiyah sering dikaitkan dengan sikap keagamaan yang ada di Saudi, padahal sikap pemerintah Saudi justru sama dengan metode orang-orang NU!

Apakah ada yang memulai puasa atau lebaran lebih dulu di Arab Saudi, atau berbeda dengan pemerintah? Saya kurang tahu, sih. Tapi yang jelas, saya belum menemukan satu pun berita ada sebagian kelompok yang menyelisihi kerajaan dalam hal penetapan Ramadan dan Syawal.

Lalu, apakah penampakan jodoh sudah akan terlihat di bulan Syawal nanti? Ah, buat saya, penampakan senyumnya saja sudah cukup menambah kegembiraan di hati.

Eh, maaf, jadi curhat.



Tirto.ID
Loading...

No more articles