• 2K
    Shares

MOJOK.CO Bagi new mom snob, memaklumi ibu-ibu lain memanglah merupakan hal yang sulit. Jadi, bersiaplah menghadapinya dengan stok sabar yang banyak!

Setelah menjadi ibu, saya jadi tahu bahwa radikalisme tidak hanya terjadi di ranah reliji, tapi juga menjangkiti kaum ibu-ibu, wa bil khusus ibu-ibu baru alias new moms. Di ranah reliji, orang-orang nyantri dengan modal kuota internet. Mereka mempelajari Islam lewat ustaz di Google, kyai YouTube, broadcast WhatsApp, dan literatur yang bahkan dikenal penulisnya pun tidak.

Mereka itu sebenarnya punya semangat yang tinggi mempelajari agama, lo, hanya saja mereka terlalu buru-buru. Mereka grusa-grusu segera ingin berdakwah padahal belum lama belajarnya, belum cukup dalam pemahamannya. Mereka menelan apa saja yang dipelajari lewat internet dan meyakini itulah yang paling benar. Oleh karenanya, mereka mudah sekali mencap orang lain—walaupun saudara seiman—yang berseberangan pendapat dan menyebutnya sebagai tapir, eh kafir. Mereka juga mudah mengata-ngatai orang lain yang tidak meyakini atau mengamalkan apa-apa yang diyakini dan diamalkannya sebagai ahli neraka. Warbiyasak.

Ternyata, fenomena yang serupa terjadi di dunia emak-emak, khususnya new moms. Ibu-ibu muda dan baru ini begitu semangat mempelajari berbagai informasi tentang parenting lewat internet. Mereka mengikuti akun medsos bertema parenting, menonton seminar lewat YouTube, membaca beragam artikel dan buku demi mewujudkan citra menjai buibu baik. Mereka juga rajin sharing info-info terkait pengasuhan anak lewat medsos.

Sekali lagi, menurut hemat saya, sebenarnya mereka adalah ibu-ibu yang baik dan bersemangat. Hanya saja, mereka merasa apa yang mereka pahami adalah yang paling benar dan terburu-buru menghakimi ibu-ibu lain yang berbeda pendapat. Sasaran mereka bukan cuma sesama ibu-ibu baru, tetapi juga ibu-ibu lama yang sudah punya banyak anak dan telah makan asam garam dalam mengasuh anak.

Dengan kata lain, Pemirsa, selain ada coffee snob, movie snob, hijrah snob, dan book snob yang sudah diulas Mojok, ternyata ada juga yang namanya…

New Mom Snob!!!

Jadi, seperti apa, sih, kelakuan kaum yang konon tak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari gaya asuh ibu-ibu lainnya ini?

Dalam suatu kondisi di mana ada ibu-ibu yang menggendong anaknya dengan cara tradisional, new mom snob sangat mungkin bakal segera berkhotbah dan menjelaskan bahwa cara menggendong yang benar adalah dengan metode M-shaped dan pedoman TICKS, seperti…

Baca juga:  Instagram Uji Coba Hapus Fitur Like, Banyak Manfaat atau Mudaratnya?

…dirinya, tentu saja.

Okelah, maksud mereka mungkin mengedukasi, tapi ha mbok jangan maksa! Jelaskan saja secukupnya, kasih link website atau akun medsos yang berkaitan, dan biarkan ibu-ibu itu googling sendiri dan memutuskan mau mengamininya atau tidak. Yang penting, satu hal: itu juga kalau ditanya. Ingat!

Terus, kalau ada ibu-ibu yang menyuapi bayinya dengan bubur instan kemasan, new mom snob akan merasa gatal untuk segera memberi penyuluhan pedoman pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) rumahan yang benar. MPASI ini pun harus memenuhi standar empat bintang dan tekstur yang diperlukan. Tak lupa, mereka juga mengkritisi buibu yang memberikan bubur organik yang penjualnya biasa mangkal di tiap gang perumahan. Pokoknya, new mom snob yakin bahwa MPASI yang paling bergizi adalah MPASI yang dibuat di rumah. FYI aja, yang lain itu cuma remah-remah!!!

Yang mungkin paling hyakdeeees itu tentu saja perkara susu-menyusui. Bahwa Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi, memang benar. Mengampanyekan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan itu juga nggak apa-apa banget, lo, Buk. Tapi, mengherankannya, new mom snob bisa tiba-tiba tanpa babibu menurunkan fatwa bahwa…

…susu formula, alias sufor, itu haram hukumnya.

Ckckck. Padahal, pasti ada pertimbangan kenapa seorang ibu memilih tidak memberikan ASI atau mencampurnya dengan susu formula, kan, Saudara-saudara?

Jadi, new mom snob, tolong pikirkanlah pendapat Anda-Anda sekalian ini dengan matang. Bisa saja, kan, seorang ibu memberikan sufor karena kondisinya sedang sakit dan harus minum obat tertentu sampai-sampai ASI-nya tidak keluar? Bisa juga, kondisi psikologis ibu memengaruhi. Misalnya, si ibu sedang mengalami baby blues atau bahkan post partum depression hingga ASI pun cuma keluar sedikit.

Perlu diingat, nih, buibu snob, mereka-mereka juga sedih keleus melihat ASI-nya tidak keluar. Yang mereka butuhkan darimu itu pertolongan, bukan penghakiman. Ngerti ora, Son?!

Well, buibu yang kind-hearted, literally you harus know which is kita tuh face different children, gitu loh. Atau, dengan bahasa yang lebih tidak Jaksel, pahamilah bahwa kita menghadapi anak-anak yang berbeda. Beda karakternya, beda kebutuhannya, beda perkembangannya, beda temperamentalnya. Anak kembar saja nggak ada yang sama, apalagi anak-anak yang beda ibu dan beda bapak?

Selain setiap anak spesial, ibu-ibunya juga berbeda. Kita pribadi yang berbeda, kondisinya pun berbeda. Isi kepala? Jelas berbeda, apalagi kalau berasal dari latar belakang yang berbeda. Makanya, suatu teori parenting tidak bisa begitu saja diterapkan untuk semua anak dan semua ibu, mau seberapa mashooook-nya teori itu!

Baca juga:  Jika Ada Sulam Alis, Mengapa Tidak Ada Sulam Kumis?

Nih, saya kasih contoh nyata, ya.

Taruhlah ada sebuah teori yang bilang bahwa anak-anak harus makan di kursi makan tanpa gangguan, seperti mainan, televisi, atau gadget. Di ekspektasi kita, si anak bakal makan sambil duduk seperti yang terlihat di postingan mommy-mommy selebgram.

Eh, ndilalah, pas kita coba, realitanya malah berkebalikan. Anak kita malah berontak dan menolak duduk padahal udah di-sounding berbulan-bulan. Alih-alih duduk tenang, dianya malah anteng kitiran, mubeng koyok gangsingan! Alhasil, kita ndulang pun harus sambil lari-larian sambil merayu-rayu agar si anak mau duduk di kursi dan menghabiskan makanannya dengan mindful. Pernah mengalaminya, buibu?!

Tapi, mau bagaimanapun, bagi new mom snob, hal ini adalah kesalahan besar. Pokoknya, kita itu tetep salah kalau anak kita nggak makan di kursi, apapun alasannya. Dengan entengnya, mereka berkomentar, “Makan kok digendong” atau “Makan kok sambil jalan-jalan”, padahal mereka tidak pernah berada dalam situasi yang sebenarnya. Plis deh, apa hak Anda menanyakan hal itu pada kami???!!!

Andai saja new mom snob tidak kesusu dan mau menarik ke belakang, mungkin saja mereka akhirnya paham bahwa si anak memang aktif dan suka bergerak, atau bahkan sampai gelantungan di jemuran—siapa tahu, kan?

Tapi, yaaaa, bagi new mom snob, memaklumi ibu-ibu lain memanglah merupakan hal yang sulit. Jadi, saran saya, sebagai ibu-ibu yang lebih bijaksana (amin!), kita sebaiknya menyiapkan stok sabar yang banyak saja dalam menghadapi kaum snob yang memang cukup radikal dalam perkara parenting ini. Toh, nanti juga ada masanya mereka bosan nyinyir melulu. Ambil positifnya saja: mungkin mereka ingin berbagi informasi dan pengalaman, hanya saja terlalu bersemangat.

Segala penghakiman yang kita terima, sebaiknya kita hehehe-in saja. Ingat: menjadi emak-emak itu mesti kuat—kuat dinyinyiri. Atas peran dan perjalanan kita sebagai ibu, kitalah yang benar-benar tahu, selain anak, suami, dan Tuhan tentunya—bukannya ibu-ibu muda yang lagi keranjingan mencetak anaknya sebagai generasi bibit unggul lewat teori-teori parenting yang mereka temukan di internet.

Pokoknya, buibu, satu pesan saya: kuat lakoni, ra kuat tinggal ngemil!

  • 2K
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles