• 3.4K
    Shares

MOJOK.CO – Setelah kelulusan gelar S2-nya, Mbak Ashanty Hermansyah membuat pernyataan monumental. Sudah kuliah capek-capek masa mau jadi ibu rumah tangga doang sih? Hm, oke.

Sebagai ibu yang baru punya anak, saya menikmati peran sebagai ibu muda yang penuh dengan segala kerempongannya. Bangun paling awal untuk memasak, beres-beres rumah, menyuci baju, menyuapi anak, dan serangkaian aktivitas harian—yang kalau dijereng sudah jadi tol Trans Sumatera—lalu lanjut begitu terus sampai jelang tidur. Bahkan ketika sudah memejamkan mata pun, kadang masih suka nglilar-nglilir untuk menyusui. Iya rempong, tapi saya bahagia.

Namun, ada satu hal yang mengusik keseruan menjalani peran sebagai ibu muda seperti saya. Dan itu adalah mom war alias perang ibu. Perang ibu bukan bedhil-bedhilan, saling lempar wajan panci, atau saling lempar tagihan arisan, melainkan sindir-sindiran, yang sebenarnya jauh lebih melukai serta menusuk hati. Sedalam-dalamnya.

Jika waktu masih gadis suka bersaing dan nggak pernah mau kalah, mulai dari dandanan, baju, gemerincing perhiasan, maka ketika sudah jadi ibu-ibu pun kebiasaan ini masih saja terulang. Medan pertempurannya memang beda, tapi substansinya sama.

Dari masalah ASI vs Sufor, lahiran normal vs lahiran caesar, working mom vs stay-at-home mom, pakai ART vs nggak pakai ART, pakai nanny vs nggak pakai nanny, BLW (Baby Led Weaning) vs Spoon feeding, MPASI rumahan vs MPASI instan, dan seterusnya.

Hal-hal semacam ini yang kemudian melatarbelakangi meletusnya perang argumentasi antara ibu-ibu. Kubu satu merasa paling benar dan menghakimi yang lain. Para ibu berlomba menjadi yang terbaik dengan menindas argumentasi yang lain. Merasa paling sempurna karena telah mengikuti apa-apa yang ditulis di buku KIA atau buku parenting. Padahal, kesempurnaan hanyalah milik Andra and The Backbone.

Salah satu bahasan yang jadi ramai lagi di habitat endemik ibu-ibu adalah jenis perang antara working mom vs stay-at-home mom, alias ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Apalagi setelah salah satu artis idola, Mbak Ashanty Hermansyah, membuat pernyataan, “Sudah kuliah capek-capek masa mau jadi ibu rumah tangga doang sih?”

Baca juga:  Buk, Nek Tuku Mbok Aja Kokehan Nganyang

Pernyataan ini keluar saat belio diwawancara sehabis wisuda S2-nya. Ya ini kan pemikirinnya Mbak Ashanty bahwa ilmu yang didapat selama kuliah akan diterapkannya dalam berbisnis, tapi hal ini jelas memancing kecebong di air keruh namanya. Netizen ibu-ibu khususnya ibu-ibu rumah tangga tentu langsung baper. Pernyataan Mbak Ahsyanty tersebut sama saja dengan tabuhan genderang perang.

Sejujurnya sih dikotomi working mom vs stay-at-home mom kalau hanya sebatas istilah untuk penyebutan saja saya rasa tidak masalah. Tapi kalau kemudian dikotomi ini jadi bahan untuk ngompor-ngomporin ibu-ibu satu sama lain, wah itu jadi perkara yang perlu dibicarakan lebih lanjut.

Sebab, yang muncul kemudian adalah narasi bahwa working mom merasa kastanya lebih tinggi dari ibu rumah tangga karena menganggap diri lebih pantas disebut perempuan mandiri. Yang stay-at-home mom merasa lebih mulia dari ibu bekerja karena mencurahkan segenap waktu untuk anak dan keluarga.

Berada di pusaran dua dikotomi ini sebenarnya membuat saya merasa lelah. Begini, kita kan sudah rempong mengurus rumah, anak, dan suami, lalu kenapa masih menambah kerempongan dengan nyinyir-nyinyir dan bully-bully gitu? Nggak di dunia nyata, nggak di dunia maya, sama saja. Apalagi nyinyirnya sambil mlerok-mlerok gitu. Kan syerem…

Saya sendiri adalah seorang ibu rumah tangga. Secara sadar dan atas keputusan bersama suami, saya memilih menjadi ibu rumah tangga. Lalu apakah saya merasa lebih rendah kastanya? Tidak dong. Saya memilih keputusan ini dan bertanggung jawab atas keputusan ini dengan terus belajar dan memperbaiki diri, utamanya untuk membersamai anak-anak bertumbuh dan berkembang.

Sebagai sarjana yang memilih jadi ibu rumah tangga, tentu saya pernah dikomen semacam ini: “Sayang banget udah sekolah tinggi-tinggi nggak kerja. Gelarnya nggak kepakai ya?”

Kalau dikomen gitu ya memang bikin gimana gitu di hati. Saya paling menjawab singkat, “Pilih bareng anak saja,” sambil memeluk anak saya yang saya gendong, mencari kekuatan dalam pelukannya.

Baca juga:  Debat Nikah atau S-2 Sudah Berganti Jadi Nikah atau Traveling

Meski dalam hati, saya menjawab versi panjangnya, “Sekolah kan untuk cari ilmu, untuk belajar. Ilmu dipakai dalam menjalani kehidupan, mencakup pekerjaan, pengasuhan, berhubungan sosial, dan hal lain. Dalam peran saya sebagai ibu, mustahil saya menjalaninya tanpa ilmu.” Tapi karena khawatir dikira saya mau bikin kelas 3 sks, kalimat ini saya simpan saja sendiri.

Meski begitu, bukan berarti menjadi ibu rumah tangga jadi otomatis lebih mulia dari yang memilih tetap bekerja di luar rumah (by the way, yang di rumah itu juga statusnya “bekerja” lho di rumah). Realitasnya, banyak juga ibu-ibu rumah tangga yang lebih sibuk nonton sinetron, memantau medsos lewat hape, sibuk bakulan online hingga keteteran sama anak-anaknya. Masih banyak juga yang belum melek informasi tentang wawasan parenting karena isi gawainya hanya untuk selfi saja.

Bagi saya, working mom yang telah memutuskan untuk bekerja apapun motifnya juga patut diapresiasi kok. Mungkin membantu suami mencukupi kebutuhan, aktualisasi diri, bekerja untuk masyarakat, atau apa sajalah alasannya. Kalau saya sih, kita tidak perlu merasa perlu mencampuri hidup orang lain, toh pada kenyataannya mereka banyak yang hepi-hepi saja.

Jadi tolong ditahan mulutnya, “Tega banget ninggalin anak. Lebih mentingin nyari duit.”

Eits, bukan berarti menjadi working mom membuat mereka melupakan anak-anak. Tidak sedikit ibu-ibu bekerja yang tetap berjuang memberikan ASI, bangun dini hari menyiapkan MPASI, mengedukasi pengasuh cara mengolah dan memberikan ASIP dan MPASI, selalu memantau tumbuh kembang anak, dan memperhatikan quality time bersama keluarga.

Jadi, kita sebagai ibu-ibu juga harus lebih sabar menahan saling nyinyir, meluaskan pandangan, menghargai perbedaan. Menjadi ibu terbaik versi anak dan keluarga kita masing-masing.

Tak perlu merasa paling benar, tak perlu merasa rendah diri, dan tak perlu malu kalau nggak bisa seperti Mbak Ashanty. Sebab, hanya satu orang di dunia ini yang bisa kayak Mbak Ashanty karena lebih senior, yakni Mbak Krisdayanti.

  • 3.4K
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles