Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pengantar Memahami Logika Sandiaga untuk Para Ahoker

Arman Dhani oleh Arman Dhani
7 November 2017
A A
Sandiaga_Logika_Mojok

Sandiaga_Logika_Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Banyak orang yang menuduh Sandiaga Uno tak tahu apa-apa. Ia sebenarnya filsuf yang menyamar.”

Sandiaga Salahudin Uno adalah orang yang lahir di zaman yang salah. Bukan apa-apa, Indonesia saat ini belum bisa menerima pemimpin yang berasal dari kaum sofis, filsuf, orang bijak yang memandang Jakarta ratusan tahun lebih maju.

Saat orang lain berpikir bahwa cara terbaik membuat Transjakarta efektif adalah membersihkan jalur busway bersih dari pelanggar hukum, Sandi malah berpikir untuk memberikan kebebasan bagi para sopir Transjakarta mencari jalan yang sepi. Logika sederhana macam gini, mana bisa dipahami oleh orang biasa?

Jakarta butuh pemimpin yang cerdas dan tegas. Ahok sudah membuktikan ia bisa mengatasi permasalahan Jakarta dengan sikapnya yang tanpa kompromi. Sandiaga malah berbeda. Dengan prinsip “Kalo bisa woles, ngapain teges? Lemesin aja, shay,” ia terbukti bisa membuat Jakarta jadi lebih nganu.

Lho kok nganu? Gini deh, kita runut satu-satu bukti kecerdasan Sandiaga dan mengapa ia istimewa.

Pertama, ia menyarankan agar para pegawai Pemprov Jakarta untuk lari ke kantor. Diketawain. Lho, jelas ini program yang baik, kok diketawain? Bayangkan seberapa banyak tingkat kemacetan bisa dikurangi ketika jumlah pegawai pemprov yang bawa mobil ke kantor ditekan? Berdasarkan data BKD DKI Jakarta, jumlah PNS Pemprov DKI pada 2016 mencapai 72.000 orang. Kalau semuanya lari dan tak pakai kendaraan pribadi, jalanan Jakarta malah jadi lebih ramah buat pedestrian. Ahok mana nyampe logika paripurna macam begini?

Belum lagi kalau karyawan itu tinggalnya jauh, misalnya dia tinggal di Puri, Jakarta Barat, kantornya di Kemang, Jakarta Selatan. Tubuh akan menjadi lebih sehat dan bukan tidak mungkin para pegawai Pemprov DKI punya tubuh ideal ala L-Men. Mensana in corpore sano, sudah sehat, sixpack lagi. Yang nggak setuju pasti pengusaha katering diet yang jutaan atau pemilik tempat fitnes.

See? Oleh karena itu, saya mengundang kepada para pembaca sekalian untuk mencerna pernyataan Sandiaga dengan lebih cerdas. Bukan apa-apa, saya sendiri butuh waktu lama untuk bisa memahami apa yang ia ucapkan.

Misalnya cara dia untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Baru-baru ini di hadapan para wartawan Sandi menyebut bahwa cara terbaik mengatasi kemacetan adalah dengan menjadi kaya. Yha, menjadi kaya. Ini pernyataan lengkap daripada beliau yang utuh.

“Kalau yang punya uang mungkin bisa membantu untuk meringankan kemacetan di Jakarta itu dengan secara simbolis mengurangi menambahkan kemacetan itu dengan menambah kendaraan yang ada di jalan Jakarta. Kita ke depan masyarakat yang punya uang juga berpartisipasi untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Itu gerakan menurut saya.”

Pak Sandi ingin bilang, kalau kita punya uang, mungkin kita bisa membantu meringankan kemacetan Jakarta dengan cara simbolis. Apa maksudnya simbolis? Misalnya, dengan menggunting pita atau menyerahkan plakat hadiah. Namanya juga simbolis. Secara khusus simbolis itu yaitu dengan menambah kendaraan yang ada di Jakarta. Kendaraan apa yang dimaksud?

Merujuk pada kalimat pertama, yaitu “kalau punya uang”, ya jelas kendaraan yang bisa terbang alias helikopter. Helikopter tidak membuat jalanan macet.

Ahoker-ahoker dan media yang ada ini kan tidak memahami gerakan mengurangi kemacetan yang dimaksud Sandi. Ke depan masyarakat yang punya uang berpartisipasi mengurangi kemacetan Jakarta ya dengan membeli helikopter atau pesawat terbang. Minimal drone lah.

Jadi, setelah selesai dengan gerakan lari ke kantor, ke depan, bagi mereka yang punya uang, Sandiaga mengajak kita untuk gerakan terbang ke kantor untuk mengurangi kemacetan di jalan.

Ide ini jenius belaka. Saat pemimpin lain masih mikir membebani pajak berat untuk pemilik mobil ganda, memperbaiki infrastruktur transportasi umum, atau membuat trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki, Sandiaga sudah berani membuat gerakan terbang ke kantor. Jahatnya, kok malah Sandi dikata-katain bego. Ini jenius, Bung!

Iklan

Menurut saya, Pak Sandiaga juga tepat saat ia bilang sumber kemacetan di Tanah Abang adalah pejalan kaki yang keluar dari Stasiun Tanah Abang. Ini bener kok. Saya lihat sendiri. Setiap keluar dari tanah abang, jalanan selalu macet. Jelas macetnya Tanah Abang bukan karena adanya angkot yang ngetem, lapak pedagang liar, atau amburadulnya tata kelola jalan yang digunakan untuk parkir sembarangan. Pak Sandiaga ini benar belaka, sudah tahu Tanah Abang macet, lha kok turun di stasiun itu. Ini kan bodoh namanya.

Pejalan kaki ini memang punya sejarah panjang nyusahin orang. Misalnya trotoar yang jelas-jelas buat motor ngelawan arah, eh dibuat jalan kaki. Pedestrian yang jelas-jelas buat bisnis usaha kecil menengah pecel lele, eh malah harus ngalah sama pejalan kaki ini. Sekarang mereka malah bikin ulah di Tanah Abang. Ini 2017, Bung dan Nona! Emang nggak bisa beli motor atau apa kek gitu biar nggak jalan kaki? Kaya orang beradab aja jalan kaki.

Coba orang-orang yang jalan kaki itu tidak turun di Stasiun Tanah Abang, tapi di Stasiun Tebet atau Stasiun Manggarai, pasti Tanah Abang tidak akan macet. Coba bepergian pakai pesawat terbang atau helikopter, nggak bakal itu naik kereta impit-impitan cuma buat ngantor. Lagian kenapa sih pake KRL? Miskin ya? Nggak mampu beli helikopter atau rumah di Jakarta sampai harus tinggal di tempat yang jauh ya? Udah tahu miskin, ngapain juga cari kerja di Jakarta. Mbok mikir

Saya jadi mikir, sumber masalah di Jakarta itu cuma satu dan hanya satu: miskin.

Terakhir diperbarui pada 7 November 2017 oleh

Tags: Anies-SandijakartaJalan KakiPasar Tanah Abangpejalan kakiSandiaga UnoStasiun Tanah AbangTanah Abangtrotoar
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO
Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.