Apabila ada yang berkata bahwa cara paling sedap menikmati keindahan Jakarta adalah dengan menumpang bemo atau bajaj sambil berkeliling Monumen Nasional, mungkin sebagian orang sependapat. Tapi saya punya pandangan lain: tak ada yang menandingi kemolekan ibu kota dari dalam bus TransJakarta.

TransJakarta (lebih sering disebut busway) adalah ikon transportasi massal Jakarta pada abad 21. Sistemnya berkiblat ke Bus Rapid Transit (BRT) TransMilenio di Bogota, Kolombia. Perbedaannya, busway di Jakarta memiliki jalur yang lebih panjang dan rumit.

Adalah Gubernur DKI Jakarta ke-14, Sutiyoso, sosok bapak pembangunan busway. Ide pembangunannya muncul pada tahun 2001. Kemudian Bang Yos, sapaan aktab Sutiyoso, menindaklanjuti gagasan ini agar dapat menjadi solusi kemacetan di Jakarta yang kian tidak manusiawi.

Sebenarnya, pada saat itu beliau dihadapkan di antara dua pilihan: Membangun subway (kereta bawah tanah) yang menelan biaya sangat besar dan diperkirakan rampung setelah masa jabatannya habis, atau membangun busway dengan biaya lebih murah dan bisa diresmikan saat dirinya masih menjabat sebagai orang nomor satu di DKI.

Bang Yos, yang saat itu dikenal sebagai sosok nekat, memilih opsi kedua. Baginya, busway dapat menjadi solusi kemacetan ibukota dengan biaya yang murah dan tempo pembangunan yang relatif cepat. Saking nekatnya, beliau lupa bahwa kota-kota maju di belahan dunia lain selalu bertumpu pada transportasi massal berbasis rel dan menjadikan moda transportasi roda empat atau lainnya sebagai penopang—bukan sebaliknya.

Realisasi pembangunan busway pada masa kepemimpinan Bang Yos sangat cekatan. Tujuh koridor adalah bukti pengabdiannya kepada pengguna jasa transportasi publik di Jakarta.

Sebagai pemanis, Bang Yos juga mengiming-imingi warga Jakarta dengan pembangunan monorel, subway, dan waterway di penghujung masa jabatannya. Sayangnya, tiga moda transportasi ini berakhir menjadi proyek setengah jalan, bahkan tak dilanjutkan oleh wakilnya — yang berkumis itu — ketika mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan Jakarta.

BACA JUGA:  Indonesia Tunabaca: Logika Rusak Ayat-Ayat Pencela Ahok

Kembali ke cara menikmati kota Jakarta dari kedalaman bus Transjakarta.

Jika Anda adalah tipe orang yang santai, cobalah menumpang busway koridor 1 (Blok M – Kota) atau koridor-koridor baru yang belum beroperasi lebih dari lima tahun (Koridor 11 dan 12). Berjalanlah pelan menyusuri trotoar lebar yang dilalui koridor ini. Gunakan tiket elektronik yang terisi saldo minimum saat tap in. Jika Anda belum memilikinya, segera beli kartu perdana e-ticket Transjakarta seharga Rp 40.000.

Koridor I memiliki keunggulan bus gandeng yang megah serta headway yang teratur. Bus-bus yang melayani koridor ini juga dilengkapi dengan pendingin ruangan yang semriwing. Selain itu, umumnya penumpang adalah anak-anak muda yang ganteng, cantik, kinyis-kinyis, dan imut-imut. Tak jarang para karyawan dan karyawati berpenampilan parlente juga menggunakan layanan busway ini.

Anda tak perlu khawatir kehabisan tempat, karna yang melayani rute ini mayoritas adalah bus gandeng. Tapi Anda tak boleh terlena jika menaikinya pada jam berangkat dan pulang kerja (Pukul 06.00 – 10.00 WIB dan 16.00 – 20.00 WIB).

Jika Anda ingin tantangan yang lebih menarik, cicipi pengalaman menumpang busway koridor 7 (Kampung Melayu – Kampung Rambutan), koridor 8 (Harmoni – Lebak Bulus), dan koridor 9 (Pluit – Pinang Ranti). Tiga rute ini terbilang cukup trengginas karena dilengkapi beberapa bus baru dan bus abu-abu atau merah seri pertama.

Kepadatan penumpang masih di ambang batas kewajaran, sementara kondisi bus-bus yang melayani rute tersebut terbilang lumayan dan tidak terlalu menyiksa penumpang. Medan terjal, yang ditempuh sepanjang jalan kenangan, membuat rute ini melatih Anda menjadi pribadi yang betah duduk atau berdiri dalam waktu yang sangat lama.

Selain dua pilihan di atas, ada menu spesial yang tak boleh Anda lewatkan: Koridor Veteran, antara lain koridor 3 (Kalideres – Pasar Baru), koridor 4 (Pulo Gadung – Dukuh Atas), dan koridor 6 (Halimun – Ragunan).

BACA JUGA:  Menunggu Jakarta Menjadi Atlantis di Bawah Ridwan Kamil dan Fahira Idris

Mengapa saya sebut Koridor Veteran?

Alasannya sederhana. Koridor-koridor yang sangat saya rekomendasikan ini adalah koridor-koridor anak bawang, bahkan terlihat seperti peninggalan zaman kolonial Belanda. Wujud sebagian bus yang melayani rute ini memang tak begitu mulus dari luar, tapi terlihat sangat antik jika dipandang dari dalam. Perawatan kelas wahid menjadikan halte dan bus di kordior-koridor ini memiliki pelayanan terbaik seantero Jakarta.

Nikmati sensasi mengendarai kereta kencana metalik dengan iringan bunyi khas nan syahdu di setiap lajunya. Berbagai kejutan akan menghampiri Anda, antara lain pintu otomoatis tiba-tiba terbuka atau tidak bisa tertutup, kecoa atau binatang lain hinggap di kerah pakaian Anda, bus mogok di tengah jalan, hingga kumpulan asap ngebul yang timbul dari dalam bus.

Rute ini dapat melatih kesabaran Anda agar terbiasa dengan friendzone, karena seringkali bus yang datang bukanlah bus yang bisa Anda tumpangi. Terlebih headway-nya yang tak menentu, memaksa otak Anda berpikir untuk mengisi kegiatan saat waktu luang. Sampai batas tertentu, Anda dapat menyeduh secangkir kopi panas sembari menonton satu episode serial televisi tanpa perlu takut bus melewati halte tempat Anda bernaung.

Tidak mengherankan jika Transjakarta adalah moda transportasi pilihan sebagian besar warga Jakarta. Rasakan sendiri sensasi tiga menu di atas, Anda bahkan bisa lupa tengah berada di atas busway atau rollercoaster. Tapi yang jelas, sensasi ngeri-ngeri sedap itu tidak akan pernah Anda peroleh ketika menumpang bajaj atau bemo.

No more articles