MOJOK.CO – PA 212 sampaikan tidak lagi satu visi dengan Prabowo. Dengan Habib Rizieq masih di luar negeri, kenapa tak merapat ke Anies Baswedan atau Amien Rais saja?

Salah satu pihak yang mbesengut dengan rekonsiliasi Jokowi dengan Prabowo kemarin muncul dari Persaudaraan Alumni (PA) 212. Lewat juru bicaranya, Novel Bamukmin, PA 212 secara tersirat tidak akan lagi mendukung langkah politik Prabowo Subianto ke depan.

Sepanjang Pilpres 2019 (bahkan sejak jauh-jauh hari sebelumnya) PA 212 dikenal sebagai kelompok yang paling getol mengupayakan Jokowi kalah Bapak Prabowo Subianto menjadi Presiden sampai titik darah penghabisan. Segala macam cara sudah dilakukan.

Ijtimak Ulama Jilid I, Jilid II, Jilid III, bahkan yang terakhir mau dibikin lagi Ijtimak Ulama IV. Duh, duh, udah kayak bab di skripsi aja nih. Sayangnya, sampai saat ini tak ada satu bab pun yang di-ACC Prabowo.

Kekecewaan ini sebenarnya sangat bisa dipahami. Bagaimanapun, rasa sakit sakit “dikhianati” Prabowo tidak bisa disembuhkan begitu saja. Apalagi, pertemuan dengan Jokowii tidak dibicarakan lebih dulu dengan pihak PA 212. Main ketemu-ketemu aja sih Pak Prabs ini.

Luapan kekecewaan ini bahkan belum menghitung beberapa kali Prabowo tidak mengindahkan hasil Ujtimak Ulama yang diinisiasi oleh PA 212. Seperti ketika Prabowo tiba-tiba menunjuk cawapres Sandiaga Shalahudin Uno. Padahal daftar rekomendasi cawapres udah repot-repot disusun oleh Ijtimak Ulama.

Kali ini tali kesabaran PA 212 kali sudah putus. Rekonsiliasi ini dianggap telah menunjukkan bahwa Prabowo sudah kelewat batas. Keputusan Prabowo juga menjadi penanda bahwa PA 212 tidak akan berada pada gerbong yang sama.

“PA 212 sudah kembali kepada khittoh semula, yaitu sudah tidak lagi bersama partai mana pun, juga Prabowo atau BPN (Badan Pemenengan Nasional,” kata Novel Bamukmin, Jubir PA 212.

Meski begitu, PA 212 akan tetap berada pada garis komando Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab. Dengan sikap ini, maka langkah politik PA 212 jadi tak sekuat dulu lagi. Lha iya dong, Sang Imam besar masih di luar negeri, kepada siapa lagi mereka menggantungkan harapan di ranah politik?

Baca juga:  Surat Terbuka Kepada Pemilih Prabowo Sedunia

Tentu situasi ini bukan keadaan yang bagus untuk keberlangsungan perjuangan PA 212. Bahkan ketika Prabowo mau mencalonkan diri 5 tahun ke depan, Novel Bamukmin dkk tidak mungkin mau mendukungnya lagi. Untuk itu, perlu strategi-srategi khusus agar kelompok yang muncul dari kasus “Ahok” ini tetap bisa bermanuver secara politik.

Alihkan dukungan ke Anies Baswedan

Sudah jadi rahasia umum kalau PA 212 punya dukungan yang besar terhadap suara Anies Baswedan saat Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Bukan tidak mungkin dukungan ini bisa diarahkan ke level yang lebih tinggi lagi, yakni untuk Pilpres 2024. Apalagi jalur ke sana sangat mungkin dilakukan.

Lagian, Anies Baswedan juga punya kedekatan emosional dengan Front Pembela Islam (FPI). Paling tidak blio pernah sowan langsung ke Habib Rizieq di Petamburan saat kampanye Pilkada DKI Jakarta silam.

Ketimbang sosok potensional capres 2024 seperti Mahfud MD, Ridwan Kamil, atau Tri Rismaharini, sosok seperti Anies masih tergolong masih agak-agak bisa lah didekatin sama PA 212. Jadi jika kemarin Anies bisa dibawa sampai ke kursi Gubernur DKI Jakarta, apa salahnya dicoba untuk menuju kursi Presiden 5 tahun ke depan? Siapa tahu tembus ya kan?

Pepet terooos pokoknya, Bang. Pepet terooos.

Selain dukung Anies, dorong Amien Rais bikin PAN Perjuangan

Tidak hanya Prabowo yang akan merapat ke Jokowi, namun PAN juga belakangan banting setir mau ikut-ikutan. Meski belum secara resmi akan merapat ke istana, PAN siap bergabung jika memang dibutuhkan.

“Kalau dibutuhkan Pak Jokowi, kami siap bergabung untuk terlibat langsung dalam action tersebut untuk menjawab tantangan bangsa,” kata Bara Hasibuan, Wakil Ketua Umum PAN.

Tentu saja pernyataan ini agak berkebalikan dengan Amien Rais. Sosok multitalenta yang kenyang pengalaman ini menyatakan lonceng kematian berbunyi jika Prabowo beneran mau rekonsiliasi dengan Jokowi.

“Kalau pada bergabung, nanti tak ada lagi yang mengawasi, nanti suara DPR sama dengan suara eksekutif, itu pertanda lonceng kematian demokrasi,” ujar Amien Rais sebelum pertemuan Jokowi-Prabowo terjadi.

Melihat situasi terkini, ada baiknya PA 212 mulai mendekati Amien Rais. Bukan apa-apa, akan runyam masalahnya jika pernyataan Dewan Kehormatan PAN sendiri tidak diindahkan oleh anggota partainya. Jika beneran PAN mau merapat ke istana juga, maka ini merupakan jalur yang bisa dimasuki untuk bisik-bisik ke telinga Pak Amien Rais.

Baca juga:  ‘Ngapak' dan Pesan Kebahasaan Aa Anies Baswedan

Dorong saja Pak Amien untuk keluar dari PAN lalu bikin partai baru. PAN Perjuangan misalnya. Masa cuma Megawati aja yang boleh bikin PDI Perjuangan? Amien Rais harusnya lebih berhak dong, orang blio ini yang dulu “menjadikan” Megawati Presiden kok.

Nah, kalau udah jadi PAN Perjuangan, partai ini bisa dipakai untuk menyokong Anies Baswedan menuju Pilpres 2024. Ketum Partainya Amien Rais, Dewan Penasehatnya Habib Rizieq, capresnya Anies, anggotanya PA 212. Tuh, cocok sudah. Menang, menang.

Kalau nggak menang ya tinggal ajukan ke MK lagi. Udah jadi rutinitas ini juga kok.

Bikin Partai Pembela Indonesia, eh, Islam

Kalau ternyata langkah ini tak juga manjur, seperti misalnya Amien Rais dan Anies Baswedan nggak berkenan bergabung, mungkin PA 212 perlu menimbang untuk bikin partai sendiri.

Hal ini penting, agar ke depan suara PA 212 bisa diwakili secara utuh, bukan nebeng-nebeng kayak Pilpres 2019 kemarin. Mana yang didukung nggak merasa punya utang budi lagi. Hadeh. Susu dibalas air galon isi ulang mah ini namanya.

Karena sebagian besar anggota PA 212 juga merupakan anggota FPI, kenapa tak bikin aja partai dari nama FPI? Anggota FPI kan buanyak di seluruh Indonesia? Bisa itu diminta kerelaannya membantu berdirinya partai baru ini. Pakai nama Partai Pembela Indonesia (PPI) misalnya. Soal lambang kan bisa aja dimodif dikit dari lambang FPI. Gampang to? Nggak perlu pakai jasa sewa desainer lah. Buang-buang duit.

Tapi kalau Partai Pembela Indonesia (PPI) kesannya terlalu luas dan nggak spesifik, Partai Pembela Islam juga boleh. Ya biar tujuan dan cita-citanya langsung kelihatan.

Terus, ketum partainya siapa? Ya Habib Rizieqh Shihab dong, masa iya Novel Bamukmin. Kamu itu lho kalau becandain FPI suka kelewatan deh.



Loading...



No more articles