MOJOK.CO – Selasa, 6 Agustus 2019 di kota Mekah, Mbah Kiai Maimun Zubair meninggal dunia. Meninggalkan Pondok Sarang dan santri-santrinya di setiap sudut Nusantara.

Jika kamu seorang santri Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, dan kebetulan kamu memakai peci putih dalam kegiatan sehari-hari, jangan heran kalau pada suatu waktu kamu dipanggil pengasuh pondok dan ditegur karena peci yang kamu kenakan. Tak usah merasa istimewa karena kamu jadi satu-satu santri yang dipanggil atau ditegur.

Menghapal peci putih di batok kepalamu itu sangat mudah sekalipun kamu adalah santri baru di tengah-tengah ribuan santri yang lain. Sebab, santri-santri lain di Pondok Sarang semuanya memakai peci beludru hitam.

Di antara ribuan santri yang memakai peci hitam, memperhatikan batok kepalamu yang berbeda warnanya jelas pekerjaan yang sangat mudah. Bahkan jika itu dilakukan oleh ulama sepuh berusia 90-an tahun.

Di Sarang, terutama di daerah sekitar Pondok Pesantren Al-Anwar, peci putih bukan sekadar peci. Sekalipun peci yang kamu beli hanya 10 ribu rupiah, simbol yang kamu kenakan tidak semurah itu. Ada kepekaan sosial yang tersemat dari peci putihmu itu. Nilai yang jelas takkan bisa kamu beli—sekalipun harga peci putihmu itu sebenarnya berharga jutaan rupiah—misalnya.

Hal itu yang bikin K.H. Bahauddin Nursalim atau biasa dikenal dengan nama Gus Baha’ tidak terbiasa mengenakan peci putih. Dalam keseharian maupun dalam pengajiannya, Gus Baha’ (sosok yang pernah disebut Ustaz Adi Hidayat sebagai “manusia Qur’an”) selalu akrab dengan peci hitam. Tak pernah sekalipun Gus Baha’ terlihat memakai peci berwarna putih.

Asal-usul kebiasaan ini muncul karena Gus Baha’ dulunya merupakan santri Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Tidak sekadar santri, Gus Baha’ didaku sebagai murid kesayangan dari ulama sepuh paling berpengaruh, paling ‘alim, dan selalu menjadi rujukan banyak ulama lain, Mbah Kiai Maimun Zubair.

Dalam salah satu pengajiannya, Gus Baha’ pernah cerita bagaimana Mbah Kiai Maimun Zubair bisa beneran duko (baca: marah), kalau melihat seorang santri lalu lalang di pondok dengan memakai peci putih.

Baca juga:  Mentang-mentang Benar, Bukan Berarti Boleh Semena-mena Terhadap yang Salah

Wis kaji?” (Sudah haji?).

Dereng.” (Belum).

Wong ndeso iku kaji adol tegal, adol sawah, lha saiki kethumu rego limangewu. Ko iku po ra ngelarakke atine wong-wong?” (Orang desa itu jual ladang, jual sawah, lha sekarang pecimu harganya cuma lima ribu. Seperti itu apa ya tidak bikin sakit hati orang-orang?)

Beberapa orang mungkin menilai sikap Mbah Maimun Zubair terlalu tinggi menilai aktivitas ibadah haji yang disimbolkan dengan memakai peci putih. Akan tetapi, kalau diperhatikan, ada kebijaksanaan yang luar biasa dari aktivitas sepele menegur santri memakai peci putih.

Seorang santri diajarkan Mbah Maimun Zubair untuk peka pada kondisi sosial masyarakat. Di Sarang, kepekaan ini muncul dalam penghormatan ibadah haji kepada orang lain, terutama orang-orang desa sekitar, yang mana saat itu, di lingkungan Sarang, peci putih biasanya memang hanya umum digunakan oleh orang-orang yang sudah berhaji.

Orang desa sudah mengorbankan banyak hal agar bisa haji. Padahal mereka bukan orang yang mampu-mampu amat. Jangankan sepeda motor atau mobil, tanah sawah yang menjadi sumber penghidupan mereka pun ikhlas dijual demi bisa menjalankan ritual Rukum Islam kelima itu.

Maka, meski harga nominal dan faktual peci putih di Pondok Sarang—mungkin—cuma 10 ribu, tapi ada harga yang benar-benar tak bisa ternilai, bahkan kalau kamu mau pakai mata uang emas sekalipun. Sematan ini bukan cuma soal kemampuan ekonomi berangkat haji, tapi simbol ketakwaan dan ikhlas terhadap “Gusti”.

Hal ini yang membuat salah satu santri Mbah Maimun Zubair paling cemerlang, Gus Baha’ selalu bersikap rendah hati dengan peci hitamnya. Paling tidak, kita tahu, Gus Baha’ yang jelas-jelas sudah kaji pun sampai sekarang tidak serta merta “berani” memakai peci putih.

Baca juga:  Kiai Kampung dan Sikap Kebijaksanaan

Kini, peci putih sebagai simbol ketakwaan bagi Pondok Sarang itu benar-benar menemukan klimaksnya pada pagi, Selasa, 6 Agustus 2019 di kota Mekah, kota kelahiran Nabi Muhammad. Di tengah-tengah keadaan “memakai peci putih”, Mbah Kiai Maimun Zubair dikabarkan meninggal dunia.

Mbah Kiai Maimun Zubair mendapat sematan ketakwaan dengan idiom peci putihnya sekaligus tanda khusnul khotimah. Maklum, bagi orang Islam, ada beberapa keadaan meninggal dunia yang sangat diidam-idamkan.

Mati syahid atau mati dalam keadaan menunaikan ibadah. Lebih dahsyat lagi kalau mati dalam keadaan ibadah haji. Meninggal saat melakukan aktivitas suci di tanah suci.

Siapa sangka, keberangkatan ibadah haji Mbah Kiai Maimun Zubair pada 2019 ini menjadi keberangkatannya yang terakhir. Menjadi duka mendalam bagi semua orang yang ditinggalkannya. Meski di sisi lain kita juga sadar, tak ada yang lebih indah ketimbang meninggal saat menjalankan ibadah.

Mbah Kiai Maimun Zubair pada akhirnya menemukan tempat peristirahatan terakhir sambil ditemani peci putih kesayangannya. Baik secara harfiah, maupun secara laku ibadah.

Simbol penghormatan yang dulu dilakukan Mbah Kiai Maimun untuk orang lain. Orang-orang di desanya. Kini peci putih justru menjadi simbol satu bangsa untuk menghormatinya. Bedanya,  kali ini penghormatan bakal terus terjadi sepanjang masa.

Dulu peci putih Mbah Maimun mungkin cuma jadi cerita-cerita di sekitar kita, diceritakan dari satu pengajian ke pengajian, disampaikan dari satu warung kopi ke warung kopi, tapi mulai sekarang kisah peci putih Mbah Maimun ini bakal awet jadi legenda.

Karena kita tidak akan pernah lelah bercerita pada anak cucu nanti. Bahwa pada suatu masa, di negeri ini pernah hidup seorang ulama besar yang alim dan bijak paripurna. Lalu dengan dada membusung bangga kita merasa bahagia, karena merasa pernah hidup satu era dengan sang ulama.