• 2.1K
    Shares

MOJOK.COMojok Institute akhirnya berhasil menyusun beragam pledoi bagi kelen semuwa tukang alasan kalau lagi kalah main PES atau FIFA. Cekidot.

Dibandingkan jagonya politikus mengeluarkan jurus ngeles, kemampuan ngeles orang yang kalah saat main game Pro Evolution Soccer (PES) atau FIFA di konsol PlayStation (PS) jelas berada di tahap paling tinggi dari seluruh spesies yang pernah hidup di muka bumi.

Ibarat ngelesnya para politikus masih dalam tahap thariqoh, maka para pemain yang lagi kalah mainin game ini kategori ngelesnya bisa dikategorikan sudah masuk level makrifat. Senggol dikit aja, udah jadi wali paling-paling.

Lha gimana? Segala macam alasan tak masuk akal bisa mendadak muncul dalam suasana pertandingan yang lagi seru-serunya. Beberapa ada sih yang masuk akal, tapi karena keseringan kalah dan sering alasan, sering kali yang muncul selalu itu-itu saja dalihnya.

Hal ini cukup bisa dimaklumi. Dalam dunia para game (utamanya game balbalan), kalah dari program komputer itu lebih terhormat ketimbang kalah dari rekan sepermainan sendiri. Nggak tahu kenapa, ada adrenalin yang memancar tak terkendali sampai otot jadi kenceng betulan kalau lagi main sama teman sendiri.

Dalam beberapa kasus, kram jari juga bisa ditemukan saking geregetannya si pemain mencet stik. Konon di Wakanda bahkan sampai ada pemain yang jari jempolnya patah karena kekencengan mencet tombol segitiga.

Itulah kenapa perasaan ketika bisa mengalahkan teman sendiri benar-benar membahagiakan. Sebaliknya, perasaan malu bakal diperoleh bagi pihak yang kalah. Apalagi kalau konsep permainannya adalah turnamen atau model liga bareng satu rombongan satu sekolah. Wah, bisa di-bully sampai bertahun-tahun.

Lalu terbayang betapa khawatirnya bagaimana nanti perasaan keturunanmu kelak ketika ketemu anak teman yang pernah ngalahin main PS; “Bapak kamu kok goblok ya main PS-nya? Malu-maluin aja dah.”

Lalu dibully, lalu tawuran. Waw, seram.

Nah, melalui riset dengan metodologi ala-ala antropolog ternama, Mojok Institute akhirnya berhasil menyusun beragam pledoi bagi kelen semuwa tukang alasan kalau lagi kalah main PES atau FIFA.

Stik Rusak

Ibarat hukum tartib dalam rukun ibadah, stik rusak berada di poin pertama dari setiap alasan yang muncul dari mulut pemain PES atau FIFA yang suka kalah. Yah, ini alasan yang bahkan dikenali tidak cuma bagi pemain game balbalan saja, tapi juga untuk yang suka main GTA, Metal Gear Solid, Tetris, Contra, atau Metal Slug.

Baca juga:  Kejadian Goblok yang Bisa Terjadi di Rental PS

Sebab, harus diakui, stik merupakan bagian paling vital dari sebuah permainan game konsol. Main PES tanpa stik itu ibarat kayak main remi tanpa kartu. Ya elu mainnya gimana, Setaaaan? Pake telepati?

Itulah kenapa melemparkan kesalahan pada stik merupakan langkah yang sekilas tampak brilian—padahal ya, emang amatiran aja sih mainnya.

Gejala yang muncul saat alasan ini muncul biasanya akan diawali dari alasan, “Ih, kok tombol X-nya agak mendelep yha.”

Mendelep itu artinya rata alias tenggelam alias karetnya udah ambrol ya, Gaes.

Nah, kalau udah mulai kata-kata tersebut keluar dari rekan mainmu, maka saran saja, nggak usah ngoyo-ngoyo amat mainnya. Soalnya kalau menang, alasan yang sama bakal keluar, “Yaelah ini kok pemainnya suka kasih umpan sendiri sih.”

Lalu kata sakti itu pun keluar, “Halah, stiknya nggak enak.”

Ya kalau enak udah dimakan lah, Anoa.

Di kondisi semacam itulah kamu mesti ingat bahwa orang sabar lebih dekat sama Tuhannya.

Salahin Wasit

Meski lumrah dan sering muncul, alasan kalah karena stik nggak enak sebenarnya masih bisa dimaklumi. Ya kadang memang tombol-tombol dalam stik PS memang beneran suka mendelep.

Sebabnya ya macam-macam, tapi sering kali hal ini terjadi karena stik yang sama juga dimainin untuk game Teken atau Dragon Ball Z. Dua game yang sempat di-banned di beberapa rental PS karena berpotensi bikin perusahaan mereka bangkrut karena langsung bikin stik rusak dalam satu permainan.

Akan tetapi kalau kemudian kamu tukeran stik dan ternyata temanmu masih kalah juga, maka perhatikan kata-kata berikut yang kemungkinan muncul dari lambenya, “Lah, Sit. Itu offside sit. Goblok. Buta ya, Sit?”

Nah, ini tanda-tanda alamiah muncul alasan basi kedua: nyalahin wasit.

Sebenarnya alasan ini sudah sampai pada tahap alasan putus asa. Ibarat dalam psikologi itu namanya: komplikasi depresi halusinasi multidimensi.

Ya kali wasit program komputer disalah-salahin.

Bahkan ketimbang Peirluigi Collina sekali pun, wasit di dalam game itu kadang lebih awas matanya. Sebelum ada goal line technology aja wasit-wasit di sono udah pada paham kalau bola udah ngelewatin garis gawang atau belum.

Baju Tim Kelihatan Sama

Alasan basi berikutnya ketika kalah main game balbalan adalah menyalahkan seragam tim. Lho, lho, ini bijimana urusannya kok soal warna jersey aja jadi masalah?

Baca juga:  Leroy Sane Bukti Kegagapan Strategi Transfer Barcelona, Beda Jauh dengan Real Madrid

Ya beberapa kasus memang kejadian sih ada dua orang goblok yang kepencet start padahal keduanya belum milih warna jersey untuk dua tim yang akan bertanding.

Misalnya Juventus lawan Udinese, sama-sama loreng hitam-putih vertikal. Tapi itu masih mending sih ketimbang Real Madrid lawan AC Milan baju kedua.

Yakin sudah, kalau sudah begitu mending direstart aja permainannya, ketimbang kamu jadi kena vertigo nggak bisa bedain mana Cristiano Ronaldo mana Patrick Cutrone ya kan?

Karena meski pun alasan ini alasan basi, alasan ini bisa cukup diterima dengan akal sehat.

Yang Dimainin Game Versi Lama

Alasan berikutnya bagi para amatiran main game balbalan adalah merasa kikuk karena main game yang versi lama.

Jadi begini. Baik PES maupun FIFA, keduanya selalu memunculkan perubahan cukup signifikan dalam gamenya setiap musim kompetisi baru. Perubahan itu akan menyebabkan ada perbaikan soal grafis, gerakan pemain, selebrasi gol, sampai dengan atmosfer pertandingan yang semakin mendekati kenyataan.

Nah, dari peningkatan peforma itu, kadang-kadang ada beberapa pembaharuan-pembaharuan soal gerakan-gerakan menggocek bola atau menendang bola. Hal yang akan jadi amunisi alasan bagi pemain yang udah kebiasaan main di game versi terbaru lalu datang di tempat teman yang game balbalannya masih pakai versi lama.

Alasan yang muncul, “Yaelah ini masih Winning Eleven lawas ya, Bro? Wah, kalau aku kalah wajar nih. Aku biasa main PES 2019 soalnya.”

Salah Pilih Tim

Dan inilah alasan basi terakhir yang biasa muncul dari temanmu yang sering kalah kalau main game PES atau FIFA: salah pilih tim.

Sebenarnya ini merupakan alasan klasik yang sama sekali nggak bermutu. Misalnya, karena merasa meremehkan lalu dia pilih Leicester City, lalu dengan biasa aja kamu pilih tim Real Madrid.

Ketika bermain, lawanmu yang sebelumnya merasa superior mendadak mulai sadar kalau sejago-jagonya dia, Jamie Vardy itu benar-benar jadi ngah-ngoh berhadapan sama Sergio Ramos.

Lalu lawanmu berkata, “Duh, salah pilih tim nih aku.”

Yaelah, udah menit ke-89 dan kalah 0-5 baru bilang kalau tadi salah tim.

Tapi itu masih mending sih ketimbang pengalaman teman saya yang mau pilih Real Madrid malah kepencet Real Sociedad. Padahal saya pilih pakai Barcelona. Mampus, mampus lu. Nggak bakal aku restart. Nggak bakaaaaal.