MOJOK.COSurat balasan untuk surat Abang Denny Siregar berjudul “Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang” yang dilaporkan ke kepolisian.

Abang Denny Siregar yang adek sayang…

Adek kasihan sama abang. Teganya orang-orang memperkarakan Abang Denny Siregar ketika status fesbuk abang dianggap menuduh adek-adek tak berdosa layak dicap sebagai calon teroris.

Soalnya, kalau sampai unggahan ini diproses betulan oleh Polresta Tasikmalaya Jawa Barat, bukan tidak mungkin hilang sudah masa tua abang yang seharusnya hidup tenang. Apalagi ketika abang cuma mampu melihat gerakan Islam di Indonesia hanya ada dua warna, kalau nggak hitam ya putih aja.

Tau nggak, Bang? Masa kecil kami ini memang kelihatan nggak bahagia, nggak semenyenangkan periode kehidupan abang. Abang yang doyan main kejar-kejaran sama kasus, main tarik ulur perkara tudingan penyebaran hoaks. Asyik banget ya kehidupan Abang Denny Siregar ini. Sampai tua pun masih main kejar-kejaran. Nggak punya capek ya, Bang?

Kadang main petak umpet sama kakak pembina, main gundu soal isu RUU KPK sampai kasus Novel Baswedan. Wuiiih, nikmat betul memang kehidupan Abang.

Dan karena Abang Denny Siregar kaya akan permainan seperti itu, abang tumbuh jadi orang yang kreatif dalam membela segala macam kebijakan pemerintah, bergaul dengan orang-orang hebat di pemerintahan. Indah ya, Bang?

Dan lihatlah diri abang sekarang. Coba pandangi foto abang. Gimana, Bang? Sibuk dengan bendera-bendera oligarki yang abang bela sampai bikin abang nggak pernah mau tahu semarah apa rakyat sama kebijakan-kebijakan pemerintah belakangan ini. Sibuk dengan simbol-simbol yang abang juga nggak tahu gimana rakyat sakit hati dari KPK yang begitu dan kasus Novel Baswedan yang begini. Wajah abang kusam, nggak ada cahaya keteduhan seperti orang dewasa pada umumnya.

Baca juga:  Tribun vs Remotivi: Kita Berdiri di Mana?

Adek kasihan sama abang. Lebih kasihan lagi sama bos-bos atau kakak pembina abang, yang dengan teganya mengumpankan abang kepada netizen jahil, bodoh, goblok, dan terkadang jadi predator. Jadi bemper pertama untuk segala macam kebijakan-kebijakan absurd pemerintah.

Kakak pembina abang Denny Siregar yang tanpa sadar menjadikan abang sebagai mesin politik, tanpa perasaan, eksklusif, fanatik, dan sudah pasti tidak mudah bergaul dengan rakyat jelata kayak kami-kami ini.

Mereka yang merasa bangga dan panen, bukan abang. Anda hanya korban, Bang Denny Siregar yang adek sayang. Korban dari absurdnya bos-bos abang, yang dari dulu sudah mempermainkan peraturan dan bikin undang-undang sesuai permintaan.

Mungkin mereka selalu jadi orang-orang di balik layar, sehingga tidak punya kebanggaan diri dan mencari eksistensi lewat simbol-simbol kebanggaan semu yang miskin arti.

Kelak ketika Abang Denny Siregar sudah punya secuil kekuasaan sendiri dan tumbuh jadi pribadi yang punya kendali serta bukan lagi dapet order isu untuk dilayani, maafkan adek ya, Bang. Akan banyak teman-teman adek yang akan melawan abang. Teman-teman adek yang sudah dididik untuk hidup menderita di negeri yang dicintai ini akan siap membela hak kehidupannya sampai titik penghabisan.

Mungkin kelak abang akan berhadapan dengan teman-teman adek. Dan itu bisa jadi takdir abang bertemu di simpang jalan dunia perpolitikan. Bukan, bukan adek yang jahat. Tapi supaya orang dengan kerjaan buzzer politik tidak berkembang dan merusak semua tatanan yang dibangun pendiri bangsa ini untuk hidup damai dalam keragaman pilihan politik.

Baca juga:  Adu Argumen Fahri Hamzah dan Polri Terkait Penangkapan Terduga Teroris di UNRI

Cium sayang dari adek untukmu, Bang Denny Siregar. Adek doakan abang ketika sudah masuk usia senja, menyadari segala macam informasi yang pernah abang sebarkan itu cenderung bikin keributan ketimbang ketentraman.

Adek seruput susu kedelai dulu, ya…. Aaah, sedapnya. Jangan mau dikasih jabatan abal-abal ya, Bang kalau ini semua kelar. Nggak sehat aja buat badan abang yang udah jadi bemper pemerintah selama ini.

Salam.


*) Disadur dari tulisan Denny Siregar berjudul “Adek2ku Calon Teroris yg Abang Sayang” yang diperkarakan oleh Forum Muhahid Tasikmalaya karena foto ilustrasi yang digunakan Denny berisiko memberi tafsir tunggal bahwa bendera tauhid adalah bendera teroris.

BACA JUGA Kok Bisa sih Ada Orang yang Percaya Abu Janda dan Denny Siregar? atau tulisan soal Buzzer Politik lainnya.