MOJOK.COPuan Maharani diremehkan ketika mendapat tanda kehormatan dari Presiden Jokowi. Eh jangan salah, blio itu juga punya prestasi kok.

Puan Maharani, Ketua DPR RI yang keren banget itu akhirnya mendapat tanda kehormatan dari Presiden Jokowi. Waaaw.

Oke, oke, saya tahu, kamu pasti udah kebelet pengin nyinyirin penganugerahan ini. Apalagi usai menjabat sebagai Menko PMK, Puan Maharani malah meloloskan RUU Cipta Kerja Omnibus Law yang kontroversial itu ketika menjabat sebagai Ketua DPR RI.

Tenang, tetap tenang. Kamu sekalian tidak paham bahwa penganugerahan ini telah didasarkan pada kriteria yang nggak main-main. Dan asal kamu tahu, Puan Maharani di luar dugaan ternyata memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

Putri Megawati Soekarnoputri tersebut didaulat pantas menerima Bintang Mahaputera Adipradana karena “dianggap” sukses ketika menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Tentu kita tak perlu memperjelas “anggapan siapa” yang dipakai dalam hal ini.

Paling tidak, bersama Gatot Nurmantyo, Susi Pudjiastuti, Retno Marsudi, dan—tentu saja—Lord Luhut Binsar Pandjaitan, Puan dianggap telah berkontribusi luar biasa dalam memberi manfaat terhadap bangsa dan negara.

Selain mencetak rekor MURI sebagai perempuan pertama yang menjabat Menko dan Ketua DPR RI, ada banyak alasan kenapa Puan layak mendapat tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana. Paling tidak ini tiga di antaranya.

Anak yang berbakti pada orang tua

Menjadi putri sosok selegendaris Megawati Soekarnoputri itu berat lho. Ada banyak tekanan dari sana-sini, terutama ketika banyak juga orang menyadari bahwa dirimu merupakan cucu Bung Karno. Hebatnya, Puan Maharani sukses mengendalikan tekanan itu dan justru memanfaatkannya dengan cukup baik.

Dengan ketekunan yang luar biasa meniti karier sebagai seorang politisi di PDIP, plus bantuan nama besar ibunya Puan tidak butuh waktu lama untuk langsung menyodok jadi Ketua DPP PDIP Bidang Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat pada 2005.

Baca juga:  Sambut Ivan Lanin 4.0: Anies Baswedan Gubernur Ahli Bahasa

Empat tahun kemudian, Puan Maharani pun langsung mencalonkan diri di Dapil Jateng V, daerah pilihan suara paling subur untuk PDIP. Ketika banyak kader partai harus berdarah-darah untuk bisa jadi calon legislatif dari PDIP untuk daerah ini, Puan tanpa ba-bi-bu langsung moncer.

Hebatnya, Puan Maharani melakukan itu pada usia yang masih belia. Hal ini menunjukkan bahwa Puan merupakan wonderkid politisi yang patut diperhitungkan bahkan sejak dilahirkan.

Hm, benar-benar putri yang berbakti. Rela menggadaikan passion diri sendiri, demi meneruskan cita-cita luhur orang tuanya.

Menko yang tak bisa pernah salah

Patokan menteri-menterinya Presiden Jokowi itu cukup bisa dititeni. Mereka yang suka salah-salah sudah pasti harus siap kena tegur . Artinya, jika sampai ada menteri yang nggak pernah ditegur, itu artinya menteri yang bersangkutan, bisa dibilang, tak pernah melakukan kesalahan sama sekali.

Ya iya dong, Presiden Jokowi kan dikenal cukup sering mendamprat menteri-menterinya kalau kinerjanya nggak becus. Bahkan kalaupun tidak ditegur, Jokowi sering melakukan reshuffle menteri-menterinya kalau kerjaannya nggak beres.

Nama-nama besar seperti Anies Baswedan sampai Terawan adalah beberapa menteri yang pernah merasakan tangan dingin Jokowi ini. Entah bagian yang di-reshuffle maupun bagian yang ditegur.

Uniknya, hal itu tak berlaku untuk Menko PMK Puan Maharani pada periode lalu. Hal ini patut dimaklumi, secara Puan Maharani ini kan kinerjanya tidak ada, eh, maksudnya kekurangan kinerjanya tidak ada, jadi pantas lah kalau tak pernah ditegur.

Tentu saja kamu bakal curiga kalau Jokowi tak pernah menegur karena Puan itu putri Megawati. Sebagai petugas partai, mana mungkin berani menegur anaknya yang punya partai. Oh, tapi tenang, Mbak Puan sudah menyiapkan pembelaannya pada November 2018 silam.

Baca juga:  Sutan Bhatoegana dan Penghinaannya Terhadap Gus Dur

“Kalau dibilang, ‘Ini pasti karena anaknya Bu Mega terus enak-enakan aja, nggak mungkin Pak Jokowi marah.’ Ya nggaklah, nggak mungkin, masih harus kerja,” kata Puan Maharani.

Iya, Mbak Puan, sampean udah mau kerja aja Pak Jokowi pasti senang kok.

Menko anti-pencitraan

Jujur saja, pencitraan sebenarnya merupakan langkah yang perlu dilakukan oleh pejabat atau politisi. Namanya kinerja kan perlu dikampanyekan, kalau nggak ada yang tahu kan ya repot juga untuk karier politik ke depan.

Nah, yang membedakan mungkin adalah kadar pencitraannya. Ada yang cuma pencitraan tapi nggak ngapa-ngapain, ada yang pencitraan tapi juga dibarengi dengan kinerja yang baik, ada pula yang nggak pencitraan karena emang nggak ada kinerja yang bisa ditunjukkan sama sekali.

Tentu saja Puan Maharani ada di nomor tiga tidak berada di posisi itu semua, sepanjang menjabat sebagai Menko PMK, Puan menyadari kalau dirinya sering disorot karena terkesan nggak ngapa-ngapain selama lima tahun. Sekalinya ngapa-ngapain jadi Ketua DPR RI, ealah yang demo bejibun se-Indonesia Raya.

“Kenapa tidak kelihatan kerjanya? Ya saya kerja-kerja saja, bukan pencitraan mau ambil hati masyarakat karena ngapain? Ngapain? Ngapain?” kata Puan Maharani ketika mengomentari cibiran masyarakat ketika dirinya masih menjabat Menko PMK.

Benar-benar anti-pencitraan dan jujur deh politisi satu. Fungsi pencitraan aja blio sampai nggak tahu lho. Apa nggak keren itu?

Ya kalau alasan kenapa blio tak perlu mengambil hati masyarakat, itu mah udah jelas kok ya, kalau emang kerjanya bukan buat masyarakat lah ngapain masyarakat perlu tahu ya kan?

BACA JUGA 4 Alasan Puan Adalah Ketua DPR RI Terbaik Sepanjang Sejarah dan tulisan soal Puan lainnya.