Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Karena Tanya “Kapan Punya Anak?” Lebih Berbahaya daripada Tanya “Kapan Nikah?”

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
23 September 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di antara semua pertanyaan basa-basi, “kapan punya anak” jadi pertanyaan yang tidak semua hasilnya ada di tangan manusia. Kalau usaha sih pasti, tapi kalau jadi anak? Ya belum tentu.

“Terus, kapan ini mau punya anak?” tanya seseorang bermaksud akrab.

Mendadak air muka teman saya yang jadi sasaran pertanyaan ini langsung berbeda. Garis wajah yang tadinya ceria dan ramah, seketika berubah. Masih ada senyum yang terselip di ujung bibirnya, tapi kelihatan benar kalau itu cuma senyum palsu.

“Doain aja ya. Belum dikasih,” kata teman saya.

Saya yang mendengar pertanyaan ini sedikit risih. Duduk sangat tidak nyaman. Mungkin kalau saat itu saya lagi kebelet boker, saya akan boker di tempat saking tidak nyamannya. Ya gimana ya, sebagai seorang ayah yang baru dikaruniai anak pada usia pernikahan kelima, saya rasa pertanyaan basa-basi paling menyesakkan yang keceplosan ditanyakan memang pertanyaan ini.

Maaf, bukan bermaksud sombong, di antara semua fase kehidupan yang penuh kepalsuan ini saya sudah pernah mengalami segala macam pertanyaan basa-basi kurang ajar seperti itu. Mau dari apa? Saya sudah pernah semua.

Kapan wisuda? Oh, saya malah kena dua kali—saat S1 dan S2. Kapan nikah? Hm, sepertinya ini adalah pertanyaan untuk semua umat manusia, jadi kita skip saja. Kalau ada yang belum, mungkin pertanyaan kapan pakai jilbab sih. Ya, maap, untuk yang satu ini saya masih belum ada rencana pakai jilbab.

Ada alasan khusus kenapa pertanyaan “kapan punya anak” sangat menyinggung perasaan bagi pasangan suami istri. Jika pertanyaan itu dialamatkan untuk pasangan yang usia pernikahannya baru satu atau dua tahun, barangkali kita masih bisa untuk mencoba husnuzan seperti, “Ah, memang cuma pertanyaan basa-basi.”

Akan tetapi jika pertanyaan itu dialamatkan untuk pasangan yang sudah lima sampai belasan tahun menikah, rasanya yang tanya ini tidak pernah mendapatkan pendidikan moral dan pancasila ketika duduk di bangku sekolah dulu.

Sebab, di antara semua pertanyaan basa-basi tersebut, “kapan punya anak” merupakan pertanyaan yang tidak semua usahanya bisa dilakukan oleh suami dengan istri. Kalau usaha sih pasti, tapi kalau jadi anak? Ya belum tentu. Soalnya, memang ada banyak faktor yang kadang tidak bisa dijelaskan secara pasti untuk urusan ini.

Jika kapan nikah, wisuda, atau—bahkan—jilbab sekalipun masih bisa diusahakan oleh manusia. Kalau nikah, ya paling nggak usaha nabung atau cari calon yang mau nikah, jika wisuda ya tinggal ikut kelas Tere Liye yang bisa bikin skripsi selama dua minggu, kalau jilbab ya sudah tinggal pakai saja di depan orang yang tanya terus dilepas lagi—beres urusan. Tapi kalau kehamilan atau punya anak? Itu merupakan sesuatu yang bisa diupayakan tapi hasilnya tak melulu berujung pada keberhasilan.

Saat ingat ketika ikut program kehamilan dan bertanya pada salah satu dokter spesialis kandungan. “Mas, dunia kedokteran itu cuma bisa mengupayakan sekitar 15-30% soal kehamilan. Selebihnya benar-benar urusan Tuhan,” kata dokter saya waktu itu.

Hal ini juga jadi jawaban, kenapa beberapa teman saya yang usia pernikahannya hampir mencapai dua digit tidak juga dikaruniai anak. Padahal usaha sudah dijabanin semua. Dari pengobatan alternatif pakai media absurd macam ayam item, sampai dunia kedokteran yang disuruh keluarin air mani pakai majalah dewasa untuk dites. Masalahnya, sudah seperti itu saja, ada saja orang brengsek yang mendadak bertanya “terus kapan nih mau punya anak?” Oalah, dasar dinamo Tamiya abad 19.

Jika pertanyaan itu menyasar ke suami, mungkin kesabaran masih bisa bermain. Ya maklum, pria memang cenderung mudah membawa perkara pelik macam gini jadi hal-hal yang biasa saja. Contohnya? Ya seperti saya, yang bikin tulisan kayak begini misal.

Iklan

Akan tetapi jika pertanyaan ini ditanyakan ke perempuan. Wah, yakin sama saya. Kamu yang bertanya baru saja mencabik-cabik perasaannya. Meski di mulut perempuan yang ditanya cuma keluar kalimat, “Iya, doain aja.”

Istri saya sendiri sempat benar-benar menangis ketika mendapat pertanyaan macam ini (tentu saja setelah sampai rumah). Meski saya tahu betul bahwa pertanyaan itu cuma basa-basi, tapi melihat reaksi istri saya setelahnya, saya kemudian jadi paham bahwa pertanyaan ini benar-benar harus dihapuskan dari tradisi basa-basi di bumi Indonesia.

Bertanya “kapan punya anak” juga menghantam perasaan seseorang sebagai makhluk hidup yang bisa berkembang biak. Ya kali kamu bertanya soal kesuburan seseorang. Meski barangkali pertanyaan tersebut tidak mengarah sampai sedetail itu, namun bagi pihak yang ditanya akan bermunculan kebimbangan soal bagaimana mewarisi kehidupannya pada anak yang benar-benar didambakan bertahun-tahun.

Saya sendiri cukup beruntung setelah bertahun-tahun akhirnya dikarunia anak laki-laki—setelah melewati pertanyaan “kapan punya anak” berkali-kali tiada henti. Dari hal itu kemudian saya belajar, bahwa saya tidak akan menanyakan itu kepada teman atau kenalan yang sudah menikah. Bahkan untuk sekadar berniat baik karena ingin membantu sekalipun. Lebih baik jangan pernah memulai topik pembicaraan ini—kecuali memang kamu dimintai tolong untuk urusan ini.

Sebab, bertanya “kapan punya anak” sama seperti sedang menyentil hal yang tak bisa benar-benar diusahakan. Seperti kamu bertanya kepada orang yang—maaf—tidak punya kaki lalu dengan basa-basi kamu bertanya, “Wah, terus kapan ini rencana buat jalan sehatnya?”

Lah, kamu kira tidak punya kaki itu nggak sehat dan bikin nggak berhak bahagia?

Terakhir diperbarui pada 23 September 2018 oleh

Tags: anakdokterKapan Nikahkapan pakai jilbabkapan punya anakkapan wisudakehamilankesuburanketurunanmenikahmoralNikahPancasilawisuda
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama MOJOK.CO
Esai

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama

5 Januari 2026
Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO
Ragam

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Kenangan mahasiswa di Jogja dengan pensiun dokter. MOJOK.CO
Sosok

Kebaikan Seorang Pensiunan Dokter yang Dikenang Mahasiswa Jogja, Berikan Tempat Inap Gratis hingga Dianggap Seperti Keluarga

25 Oktober 2025
Tepuk Sakinah saat bimbingan kawin bikin Gen Z takut menikah. Tapi punya pesan penting bagi calon pengantin (catin) sebelum ke jenjang pernikahan MOJOK.CO
Ragam

Terngiang-ngiang Tepuk Sakinah: Gen Z Malah Jadi Males Menikah, Tapi Manjur Juga Pas Diterapkan di Rumah Tangga

26 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.