• 287
    Shares

MOJOK.CO – Katanya pro keberagaman? Lha kok sama tempat ibadah saja pilih-pilih maunya sama yang satu aliran saja?

“Aku pinginnya dapat kos yang deket sama masjid, Fan. Ya biar adem gitu. Biar kalau mau berangkat jamaah juga deket,” kata Ali, teman lama Fanshuri yang sore itu sedang berkunjung ke rumahnya.

Ali memang baru saja pindah ke Jogja karena diterima bekerja di salah satu perusahaan penerbitan. Kebetulan juga Ali belum dapat kos sehingga berencana ingin menginap berapa hari dulu di rumah Fanshuri.

“Nah, itu, Li. Sayangnya kok ya di kampung sini tidak ada yang punya kos-kosan. Padahal masjid dari rumahku aja deket. Besok deh kita coba keliling daerah-daerah lain yang kos-kosannya deket sama masjid,” tutur Fanshuri.

Beberapa hari kemarin Ali memang sudah mencoba mencari kos-kosan sendiri. Hanya saja, karena masih baru di Jogja, Ali butuh seseorang yang bisa mengantarnya ke mana-mana. Fanshuri adalah teman pertama yang ditujunya untuk dimintai tolong.

Keesokan harinya, setelah Ali pulang kerja, keduanya mencoba berkeliling untuk mencari kos-kosan. Beberapa lokasi ada yang sesuai dengan keinginan Ali, hanya sayang semua kamar sudah penuh. Ada juga daerah yang masih punya kamar kos kosong, hanya saja lokasinya tergolong elite. Biaya sewa kos yang cukup untuk hidup selama setahun tidak cocok dengan kantong Ali.

Setelah kembali berkeliling, keduanya akhirnya menemukan sebuah kos-kosan yang cukup ideal. Lokasi kos cukup dekat dengan masjid. Tidak dekat sekali juga, hanya jika dengan jalan kaki tidak sampai semenit sudah sampai masjid. Harganya pun cocok. Lagipula lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat kerja Ali. Fanshuri sudah yakin, Ali akan mengambil kamar kosong itu.

Setelah berdiskusi beberapa lama dengan si empunya kos-kosan, Ali mendadak tidak jadi mengambil kamar. Fanshuri yang saat itu sedang berada di atas jok motor terkejut saat mengetahui Ali enggan mengambil kamar yang kosong.

“Lho? Kenapa, Li? Nggak jadi?”

Ali cuma tersenyum kecut sambil naik ke jok motor.

“Udah ah, ntar aja sampai rumahmu aku ceritain,” kata Ali.

Fanshuri belum berani menebak apa-apa. Dalam perjalanan pulang Fanshuri semakin penasaran. Saking tidak sabarnya, begitu berhenti di lampu merah, Fanshuri kembali bertanya.

“Memangnya kenapa, Li? Kosan sudah ideal gitu sama yang kamu pingin kok nggak jadi? Gimana sih kamu?” tanya Fanshuri.

“Bukan gitu, Fan. Ya gimana ya, masjidnya ternyata jamaahnya isinya kelompok ormas eksklusif gitu. Nggak mau aku,” kata Ali.

“Ormas eksklusif gimana maksudmu?” tanya Fanshuri.

“Itu lho, jamaah yang suka bid’ah-bid’ahin sama kafir-kafirin,” kata Ali.

“Serius?” tanya Fanshuri.

“Iya,” kata Ali.

Teman Fanshuri ini memang dikenal sebagai aktivis yang sangat pro dengan keberagaman dan die hard toleransi. Fanshuri jelas tahu itu semua. Ali adalah sosok yang sangat anti terhadap ormas-ormas yang mengaku paling benar sendiri, suka menyerang kelompok agama lain, dan Ali dikenal Fanshuri sebagai sosok yang selalu menyerukan untuk pentingnya berpikir moderat.

Pengalaman yang membentuk Ali menjadi seperti itu. Sebelum pindah ke Jogja, Ali tinggal beberapa tahun di ibukota. Secara langsung Ali merasa melihat bagaimana isu agama dieksploitasi habis-habisan oleh penguasa-penguasa di sana. Hal ini segera membuatnya langsung antipati terhadap kelompok-kelompok Islam yang menurutnya “radikal”. Membuatnya merasa perlu menjaga jarak dengan mereka. Hal yang sudah dipahami betul oleh Fanshuri sehingga tidak mau kembali bertanya lebih jauh.

“Apa perlu kita mampir ke temanku? Namanya Gus Mut, dia kayaknya bisa kasih tahu kita mana daerah yang punya kos-kosan yang deket masjid,” Fanshuri coba usul.

Baca juga:  Tidak Ada yang Lebih Baik di Antara Mahasiswa Organisatoris, Akademis, dan Aktivis

“Gus? Gus siapa tadi? Kok Gus? Emang putranya kiai?” tanya Ali.

“Iya, putranya Kiai Kholil. Kiai kampungku,” kata Fanshuri.

“Wah, boleh tuh. Tumben kamu punya teman Gus, Fan,” kata Ali.

“Gini-gini aku kumpulnya sama orang saleh ya,” bela Fanshuri.

Akhirnya motor Fanshuri sampai ke kediaman Gus Mut. Di teras rumah Gus Mut baru saja menguras kolam ikan miliknya. Entah kenapa, Ali langsung bungah senang bukan kepalang melihat penampilan Gus Mut. Sarung cuma diselempangkan begitu saja pakai celana pendek, rokok di tangan, sambil jongkok di pinggir kolam.

“Wah, tumben, Fan, main ke sini, ada apa ini?” tanya Gus Mut sambil mematikan keran air yang mengaliri kolam ikannya.

“Main-main aja, Gus. Ini Gus Mut, kenalin teman saya, Ali,” kata Fanshuri mendekat.

“Wah, maaf, Mas, tangan saya kotor. Kenalin, saya Mut,” kata Gus Mut.

“Saya Ali Makruf, Gus,” kata Ali tetap berusaha menyalami tangan Gus Mut.

“Sini masuk, saya biar ganti baju dulu,” kata Gus Mut masuk ke rumah.

Fanshuri pun mengajak Ali masuk ke teras rumah Gus Mut.

“Wah, beruntung benar kamu, Fan. Di kampungmu ada Gus begitu. Adem pasti di sini. Tahu gini aku beli tanah dan bangun rumah saja di sini,” kata Ali bercanda.

“Yaelah, kalau bisa bangun rumah kenapa cari kos-kosan, setan?” kata Fanshuri.

Tak berapa lama Gus Mut keluar sambil membawa teh tiga gelas sama jajanan rengginang.

“Maaf ya Mas, punyanya cuma ini,” kata Gus Mut.

“Wah, kita yang jadi ngrepotin ini,” kata Fanshuri.

Fanshuri pun menceritakan maksud kedatangannya bersama Ali. Bercerita panjang lebar soal keinginan Ali yang ingin punya kos-kosan yang dekat dengan masjid.

“Wah, bagus itu, Mas Ali. Keren. Jarang lho ada anak muda punya pikiran kayak begitu,” puji Gus Mut.

“Tadi sih sudah dapat kos-kosan yang pas sebenarnya. Harga cocok, lokasinya dekat, ada kamar kosong lagi,” kata Ali.

“Lho kok nggak diambil saja?” tanya Gus Mut.

“Ya itu, Gus. Si Ali ini nggak mau soalnya masjidnya anu,” kata Fanshuri bingung menggunakan kata yang tepat sambil melirik Ali.

“Masjidnya diisi jamaah celana cingkrang, Gus,” kata Ali melanjutkan.

Tanpa diduga respons Gus Mut berubah. Senyum yang tadi mengembang sedikit hilang.

“Lha terus apa hubungannya?” tanya Gus Mut menyelidik.

Ali yang tahu ada yang salah dari kalimatnya berusaha merevisi. “Itu lho, Gus, jamaahnya suka membida’ah-bid’ahkan sama suka kafir-kafirin,” kata Ali berharap bisa mengembalikan keramahan Gus Mut.

Tapi air muka Gus Mut tidak berubah.

“Begini, Gus. Saya ini kan pernah tinggal di ibukota. Cukup lama. Saya menyaksikan betul bagaimana orang-orang kayak mereka sangat keras, Gus, sama orang-orang kayak kita. Jangankan sama yang beda agama, yang beda aliran saja mereka nggak mau bergaul. Seolah-olah kita ini selalu dicap salah dan pantas masuk neraka. Kayak surga sudah dipunyai sama mereka sendiri saja. Sebagai orang Indonesia yang pro sama keberagaman, ya saya pinginnya dapat masjid yang penuh toleransi gitu,” kata Ali mencoba menjelaskan.

Gus Mut kali ini malah tertawa keras. Tertawa sangat kencang. Hal ini segera membuat Ali merasa lega. Sepertinya dia sudah mendapatkan kembali tanggapan yang bersahabat dari Gus Mut.

“Sampeyan ini aktivis keberagaman atau gimana ini ceritanya?” tanya Gus Mut sambil masih menyisakan tawa barusan.

“Yah, bukan aktivis sih, Gus, cuma saya ini tidak suka dengan orang yang anti sama keberagaman saja,” kata Ali.

Gus Mut kembali tertawa cekikikan. Kali ini Ali semakin bingung. Ini maksudnya apa Gus Mut tertawa? Memang ada yang lucu dari kalimatnya berusan?

Baca juga:  Ketika Wak Kadirun Marah

Melihat wajah Ali dan Fanshuri yang heran, Gus Mut coba menjelaskan. “Bukan begitu Mas Ali. Maaf ini, maaf. Soalnya saat sampeyan bilang ‘tidak mau bergaul sama yang beda aliran’ itu saya kok melihat sampeyan itu sendiri yang sedang diomongin. Ya maaf kalau saya jadi ketawa,” kata Gus Mut.

Ali pun cuma garuk-garuk kepala.

“Maaf ini, Mas. Bukannya gimana-gimana ya, saya memang tidak tahu bagaimana situasi Mas Ali waktu di ibukota itu bagaimana. Yang jelas, apa yang Mas duga itu belum tentu sepenuhnya benar lho, Mas,” kata Gus Mut.

“Yang mana Gus maksudnya ‘belum tentu benar’?” tanya Fanshuri tiba-tiba ikut arus pembicaraan.

“Ya yang itu tadi, yang bilang kalau orang celana cingkrang itu orang yang suka bid’ah-bid’ahkan sama suka kafir-kafirin kita,” kata Gus Mut.

Ali menyimak, tidak berani memotong.

“Kalau memang kita adalah orang yang sangat mengedepankan toleransi dan keberagaman, masa kita tidak bisa menerima kalau ada orang Islam yang berbeda dari kita? Orang Islam yang mungkin lebih keras dari kita soal menjalankan keyakinannya?” kata Gus Mut.

“Tapi, Gus, maaf ini kalau memotong. Mereka itu di mana-mana sering menyerang orang-orang kita lho Gus? Maksudnya orang-orang moderat seperti kita Gus. Dikatakan ahli bid’ah lah, dikatakan munafik dan sebagainya. Ya kan ngawur orang-orang itu, Gus,” kata Ali.

“Ya kalau memang mereka begitu, apa iya kita mau membalasnya dengan cara begitu juga? Dengan tidak mau bergaul dengan mereka? Menjauhi mereka? Berbisik-bisik dan menertawakan mereka? Meremehkan mereka? Lagipula apa yang kita tahu soal hal-hal seperti itu juga tidak bisa membuat kita jadi lebih benar dari mereka kalau kita melakukan hal yang selama ini lantang kita lawan,” kata Gus Mut.

“Emang apa yang selama ini lantang kita lawan, Gus?” tanya Fanshuri.

“Ya jadi radikal. Kita tanpa sadar jadi radikal atas nama toleransi dan keberagaman. Bikin batasan-batasan sendiri, nggak mau ah salat di sana, di sana masjidnya keras, ceramahnya nggak adem. Aku mau cari di sini aja ah, yang lebih cocok,” kata Gus Mut.

“Tapi kan orang-orang kayak begitu memang harus disadarkan, Gus?” tanya Ali.

“Kalimat ‘menyadarkan’ ini yang jadi bahaya, Mas. Seolah-olah sampeyan merasa mereka ada di jalan yang salah dan sampeyan ada di jalan yang benar. Padahal kan kita tidak benar-benar tahu siapa yang lebih pantas mewakili kebenaran ya kan?”

“Iya juga sih, tapi kan cara mereka salah. Cara mereka memaksa,” kata Ali lagi.

“Lalu apa kita juga mau pakai cara seperti itu? Memaksa juga? Kalau begitu, bedanya kita dengan apa yang kita lawan terus apa? Sama aja dong?” kata Gus Mut.

Ali terdiam. Baru saja beberapa detik lalu, dirinya merasa akan punya legitimasi kalau bercerita kepada Gus Mut mengenai persoalannya. Tanpa diduga dia malah diceramahi habis-habisan. Seperti kena semprotan dari pompa air.

“Jadi baiknya gimana, Gus?” kata Fanshuri.

“Ya sudah diambil saja kos-kosan itu, keburu diambil orang,” kata Gus Mut.

“Kalau memang nggak bisa karena merasa beda aliran, berarti Mas Ali perlu bertanya ke diri sendiri. Siapa yang lebih tidak mau menghargai keberagaman. Mereka atau Mas Ali,” kata Gus Mut diakhiri dengan tawa cekikikan.

Ali sebenarnya mau marah dan siap melawan argumentasi Gus Mut. Tapi di sisi lain Ali sadar, dia kan pendatang di sini. Dia minoritas. Memangnya bisa?

 

*) Diinspirasi dari kisah nyata.

  • 287
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles