MOJOK.CO“Sekarang gini, Gus. Kalau semua orang masuk surga kan neraka jadi nggak perlu ada? Kan katanya Maha Pengampun,” tanya Fanshuri ke Gus Mut.

“Saya kadang pusing, Gus Mut. Soalnya gini. Kalau saya pikir-pikir lagi kenapa sih neraka harus diciptakan?” kata Fanshuri tiba-tiba saat membantu Gus Mut menguras kolam ikan.

“Maksudnya, Fan?” Gus Mut agak kaget tahu-tahu dikasih pertanyaan cukup berat seperti itu. Apalagi mereka berdua masih basah-basahan di dalam kolam ikan.

“Ya kan Allah itu Maha Pengampun, masa Allah nggak bisa sih bikin semua orang di dunia ini masuk surga aja? Nah, kalau semua orang masuk surga kan neraka jadi nggak perlu ada,” tanya Fanshuri.

Gus Mut terkekeh. “Dapat dari mana pertanyaan kayak gitu, Fan?” tanya Gus Mut.

Fanshuri ketawa usil. Sambil mengambil ember untuk meletakkan ikan dari kolam.

“Gini, Gus. Kemarin kan ada khotbah jumat, isinya cerita soal betapa dahsyatnya siksa-Nya. Betapa pedih siksaan yang akan diterima dan bla-bla-bla. Serem pokoknya, Gus. Detail banget lagi ceritanya,” kata Fanshuri.

“Wah, khotbah di mana itu? Kayaknya kemarin masjid kampung sini isi khotbahnya bukan itu,” kata Gus Mut.

“Oh, kemarin waktu saya ke luar kota, bukan masjid sini,” kata Fanshuri.

“Oalah. Ya sebenarnya nggak perlu sampai segitunya takut lah sama neraka,” kata Gus Mut.

“Lho kok nggak perlu takut? Seram lho, Gus. Tempat orang dibakar kayak gitu kok,” bantah Fanshuri.

“Maksudku gini, Fan. Ngapain sih kamu takut sama makhluk Allah?” kata Gus Mut.

“Ma, maksudnya, Gus?”

“Ya kan makhluk Allah. Sama kayak kita, sama-sama makhluk Allah. Sama-sama makhluk kok ditakuti,” kata Gus Mut.

Fanshuri terkekeh mendengarnya.

“Ya tapi saya masih nggak habis pikir gitu. Kenapa neraka diciptakan?” tanya Fanshuri lagi.

“Sekarang gini, Fan. Aku punya cerita sufi dari seorang ulama terkenal, ya cerita hikmah gitu lah. Mungkin nggak terlalu bisa menjawab pertanyaanmu dan lagi perlu hati-hati juga mencernanya, tapi kamu bisa ngambil hikmahnya,” kata Gus Mut.

Baca juga:  Standar Kenyamanan Hidup Itu Nonton Mamah Dedeh

Lalu Gus Mut menceritakan tentang seorang penghuni neraka yang masih berzikir di neraka. Karena selalu berzikir, hamba ini lalu dikeluarkan sejenak.

“Bagaimana rasanya?” tanya malaikat.

“Sakit sekali. Betul-betul tersiksa saya selama di sana. Tidak tahan rasanya,” tanya orang itu sambil tertunduk sedih. Orang ini sempat merasa agak senang sebenarnya dipanggil. Ia pikir siksaannya sudah cukup dan kali ini sudah saatnya dipindahkan ke surga.

Si malaikat terdiam sejenak. Seperti akan menyampaikan perintah Tuhan.

“Baiklah. Ini ada perintah Tuhan, kamu masih jadi penghuni neraka. Jadi kamu bisa kembali,” kata malaikat.

Tanpa diduga-duga, orang ini malah dengan riang gembira masuk lagi ke neraka. Bahkan dengan sedikit berlari dan melompat-lompat. Melihat hal itu, malaikat jadi terheran-heran. Sebelum masuk kembali, hamba ini diberhentikan.

“Sebentar. Tunggu dulu,” kata malaikat.

“Iya, ada apa?”

“Kenapa kamu semangat dan bahagia sekali? Bukankah perintah Tuhan kamu masuk ke neraka lagi? Kenapa kamu seperti senang sekali? Memangnya kamu sudah merasa betah?” tanya malaikat.

“Tidak, tidak ada yang mungkin bisa betah dengan tempat sepedih itu,” kata penghuni neraka.

“Lalu kenapa kamu senang sekali?” tanya malaikat lagi.

“Sebab, selama di dunia, saya adalah hamba yang jarang menjalankan perintah Tuhan. Baru kali ini akhirnya saya mendapatkan perintah langsung dari Tuhan. Bagaimana saya tidak senang ketika mendapat perintah Tuhan secara langsung seperti ini?” kata orang ini.

“Bahkan sekalipun perintah itu masuk ke neraka?” tanya malaikat.

“Iya. Sebab ini perintah yang tak boleh dilanggar,” katanya

Lalu dikisahkan kalau orang ini akhirnya tidak jadi masuk lagi ke neraka, bahkan ia malah masuk ke surga. Surga ini dianugerahkan bukan karena amalan si penghuni neraka selama di dunia atau karena zikir-zikirnya, melainkan karena ia baru saja mendapat rahmat Tuhan.

Begitu Gus Mut selesai menceritakan ini, Fanshuri terdiam melongo. Pertanyaannya cuma satu, “Memang cerita itu beneran, Gus?”

Baca juga:  Perpecahan Islam Terjadi Karena Dalil Dipakai untuk Selalu Menuntut Hak

“Itu cerita dari kitab klasik terkenal. Sebenarnya ceritanya jauh lebih dahsyat dan luar biasa lagi, tapi sedikit saya sesuaikan agar tidak muncul pertanyaan-pertanyaan aneh darimu. Mungkin kejadiannya kamu ragukan, tapi itulah cara ulama terdahulu menjelaskan betapa luasnya rahmat Allah dan ilmu hikmah,” kata Gus Mut.

“Kalau memang rahmat Allah seluas itu kan seharusnya nggak perlu ada neraka kan, Gus? Iya nggak?” tanya Fanshuri.

“Betul, logikamu itu betul, tapi ada beberapa hal yang kamu lupakan,” kata Gus Mut.

“Seperti apa misalnya, Gus?” tanya Fanshuri.

“Seperti misalnya, bagaimana kamu bisa memahami konsep rahmat, kalau kamu tidak pernah mendapatkan bayangan soal hal-hal yang tidak dirahmati?” tanya Gus Mut.

“Wah, gimana itu, Gus? Kok bingung saya?”

“Gini. Bagaimana kamu bisa membayangkan surga, beserta segala kenikmatannya, kalau kamu tidak bisa mendapat gambaran betapa pedihnya neraka? Soalnya sesuatu perlu perbandingan, Fan, untuk bisa dipahami manusia.”

Fanshuri terdiam.

“Ada surga ada neraka, ada pahala ada dosa. Masing-masing saling melengkapi makna satu sama lain. Ini seperti makna cahaya, tak bakal jadi sesuatu yang bermakna kalau kita tidak pernah mengenal konsep gelap. Atau konsep baik akan kehilangan maknanya, kalau kita tidak tahu buruk itu yang bagaimana. Hal-hal yang berkebalikan ini justru saling menguatkan makna satu sama lain.”

Fanshuri masih manggut-manggut, entah dia paham atau tidak.

“Lalu hubungannya dengan kenapa harus ada neraka?” tanya Fanshuri.

“Ya agar kita paham, betapa luar biasanya rahmat dan gelar Maha Pengampun Allah. Sekarang aku tanya, bagaimana caranya kamu bisa bilang Maha Pengampun, kalau kamu nggak mengenal konsep siksaan neraka, Fan? Nggak kenal konsep sesuatu perlu diampuni? Kalau nggak ada neraka, buat apa coba ada gelar Maha Pengampun segala?”


*) Diolah dari kisah di kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali dalam ceramah Gus Baha’



Tirto.ID
Loading...

No more articles