Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO

Ilustrasi Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COInilah tips memulai usaha dari saya, yang menyiksa diri, dengan membuka coffee shop. Baca, supaya kamu lebih waspada sebelum berbisnis. 

Setelah gagal dua kali, akhirnya saya lolos ujian CPNS di percobaan ketiga. Namun, karena satu dan lain hal, saya malah tidak ambil kesempatan itu. Saya mengundurkan diri dan memilih menjadi pengusaha coffee shop di daerah Sleman utara. Namanya: Kopi Pandan Arang.

Lalu, apakah keputusan tersebut tepat? Saya tidak tahu. Tetapi, yang saya tahu dan telah menjalaninya hampir dua tahun, menjadi pengusaha coffee shop itu rumit dan menantang. Kadang plus, tetapi lebih banyak minus, yang tidak terlihat. Hahaha. 

Akan tetapi, begitulah lika-liku menjadi penguasa, eh pengusaha. Dikritik dan dicaci, tidak tumbang. Terus membuat inovasi meskipun tahu terkadang bisa jadi salah langkah. Dan, saya mengalaminya setidaknya sampai tulisan ini selesai saya ketik. 

BACA JUGA: Street Bar Coffee, Konsep Jualan Kopi yang Susah Bangkrut, Nggak kayak Coffee Shop Fancy yang Pasti Bangkrut!

Tips memulai usaha coffee shop: Memahami bahwa hidup penuh tantangan

Kata seorang teman, in this economy, bisa bertahan atau setidaknya mampu menutup biaya operasional sudah hebat. Apalagi jika usaha atau bisnis kamu berbentuk FnB coffee shop kayak saya. 

Pasang surut harga bahan hingga dilema menaikkan harga jual adalah lika-liku yang sangat menantang, khususnya di Indonesia. Dan inilah tips memulai usaha yang pertama dari saya, yaitu memahami kenyataan yang sangat menantang. 

Bagaimana tidak? Kalau era dulu, rivalitas atau kompetitor terjadi antara sesama coffee shop. Apalagi jika produknya mirip dan lokasinya berdekatan. Sekarang, rivalitas bukan lagi sesama pebisnis melainkan sama pemerintah. Kok bisa? 

Yak, sorry to say, MBG menjadi momok bagi pebisnis coffee shop yang menyediakan makan berat, lho. Seketika harga telur ayam atau daging ayam meroket. Susu UHT langka. Bahkan, salah satu supplier susu di tempat saya, mengeluh. Mereka biasanya mendapat kiriman 50 karton, eh sekarang menjadi 20 karton. 

Itu baru satu supplier. Di tempat ritel lain malah lebih unik dan dahsyat. Maksimal pembelian susu UHT, untuk ukuran satu liter, hanya satu karton dan bahkan ada pula yang menerapkan hanya enam kotak! 

Makanya, ketika beberapa hari yang lalu pasokan UHT lancar dan harga telur ayam turun, supplier langsung berkata, “MBG lagi berhenti, Mas.” Jadi, sebelum mempelajari soal angka dan bahan, tips memulai usaha dari saya adalah waspada dengan kondisi negara.

Kondisi global sangat berpengaruh kepada pebisnis

Nah, itu baru harga UHT dan telur ayam. Sudah MBG itu rumit, lha kok masih ditambah perang Amerika Serikat dan Iran. Alhasil, harga minyak melangit. Tambahan lagi, harga plastik meroket. Inilah tips memulai usaha yang kedua, yaitu kamu juga harus waspada dengan dinamika global.

Tahukah kamu. Salah satu toko plastik ternama di Jogja harus bikin ilustrasi bergambar untuk meyakinkan pembeli bahwa harga plastik pantas naik. Edukasi nyata.

Buat pebisnis FnB, segala macam bahan baku mengalami kenaikan harga. Sangat sulit untuk menahan harga. Namun, inilah kenyataan yang terjadi. Jadi, tips memulai usaha ini memang bukan soal menghitung untung-rugi dulu. Tapi, pelajari dulu segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Tips memulai usaha yang ketiga: Memprediksi kondisi yang sulit diantisipasi pebisnis coffee shop

Nah, setelah era MBG, yang sebentar lagi terjadi efisiensi, dan perang AS-Iran, yang keduanya telah meneken perjanjian damai, timbul masalah baru lagi. Siapa itu? Perusahaan Listrik Negara (PLN). Buat pebisnis coffee shop, ini celaka banget.

Sebagai perusahaan satu-satunya penyedia listrik di Indonesia, kondisi PLN sedang carut marut. Listrik padam bergilir. Konon, pasukan batu bara sedang sulit dan kekurangan hampir 20 juta ton metrik 

Yaa, sebenarnya itu urusan pemerintah yang menyediakan listrik bagi warga yang sudah membayar setiap token berbunyi. Itu seharusnya bukan masalah kita sebagai pebisnis yang sudah membayar. Kan gitu logikanya.

Masalahnya, karena padam bergiliran, dan terus menerus, akhirnya berdampak ke bisnis. Beberapa teman yang juga membuka coffee shop, mengeluh beberapa bahan jadi tidak lagi bagus untuk dipakai. Kedai juga jadi sepi karena pelanggan tidak nyaman.

Akhirnya, ya terpaksa cari dan beli genset. Kemudian, cari bahan bakar. Eh, ndilalah, harga Pertamax naik. Sudah jatuh tertimpa tangga, bukan, pebisnis Indonesia? 

Tips memulai usaha satu ini menegaskan pentingnya kamu membaca gelagat negara. Perhatikan semua hal yang mungkin bisa mengganggu bisnis yang sedang kamu tekuni. Buat pebisnis coffee shop, yang semangat.

Kalau sudah begitu, apakah daya beli menurun? Di tempat saya, di Kopi Pandan Arang, iya. Namun, bukan menurun, sih, tetapi lebih beralih ke harga yang masuk akal di kantong konsumen. Konon, fenomena itu disebut sebagai lipstick effect

Apa itu lipstick effect

Adalah Leonard Lauder yang memperkenalkan istilah lipstick effect setelah terjadi peristiwa 9/11. Saat itu, tulisannya yang dimuat di Wall Street Journal dengan judul “Lipstick Sales Rise Despite Economic Downturn”, mengunggah fakta menarik. 

Di tengah krisis ekonomi, penjualan lipstik justru meningkat hampir 11% pada 2001. Artinya apa? Ternyata orang-orang masih tetap butuh kemewahan kecil di saat belanja besar atau kebutuhan macro luxury tidak terpenuhi.

Di Indonesia, sepertinya kecenderungannya begitu. Harga tiket pesawat dalam negeri mahal, akhirnya tidak jadi liburan yang wah. Kemudian, substitusinya adalah menikmati kopi premium. Dan barangkali, itulah yang membuat kedai kopi, meski banyak yang tumbang, tetap dan selalu ada yang baru. 

Harga secangkir kopi di coffee shop, barangkali tidak masuk akal bagi sebagian konsumen. Tetapi, bagi yang tidak bisa liburan mewah, dan kemudian butuh self reward, minum kopi premium menjadi solusi. 

Antisipasi perubahan minat konsumen

Tips memulai usaha selanjutnya adalah antisipasi perubahan minat konsumen. Misalnya di coffee shop saya, terjadi substitusi preferensi konsumen dalam tiga bulan terakhir. Menu-menu signature kami mulai tergeser oleh menu-menu kopi yang sudah umum seperti coffee latte.

Saya menduga, dan mencoba membaca data, pergeseran konsumsi disebabkan pencarian harga yang lebih masuk akal. Namun, dengan harga masuk akal, konsumen masih tetap bisa menikmati suasana di tempat saya. 

Mungkin mereka enggan pindah tempat. Sudah terlanjur nyaman. Tetapi kenyamanannya dikurangi dengan memesan menu yang berbeda. Barangkali, inilah lipstick effect di tempat saya.

Kamu harus bisa mengantisipasi perubahan ini. Kalau bisnis FnB, ya sediakan menu-menu yang lebih murah, tapi setidaknya tetap memuaskan pelanggan. Minimal familier buat konsumen.

BACA JUGA: Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba?

Antisipasi brand besar (?)

Di tempat-tempat lain sepertinya mengalami hal yang sama. Saya melihat jenama sebesar Nescafe sampai turun. Mereka, meskipun menolak dikaitkan, membikin kedai kopi pinggir jalan dengan harga mulai dari lima ribu rupiah. 

Bejibun, dan rata-rata ramai. Salah seorang konsumen, yang ternyata teman saya sendiri, mengatakan bahwa daripada ke coffee shop, lebih baik pesen Nescafe. Harga murah dan kualitas terjamin. 

Saya pernah mencoba dan kebetulan belum cocok di lidah saya. Namun, tiap sore-malam terjadi antrian, sepertinya orang tetap butuh micro luxury atau semacam self reward agar tidak larut dengan suasana negara yang semakin carut marut. 

Sebab, kita masih butuh penyelamat di waktu-waktu yang semakin berat. Setidaknya sampai empat tahun ke depan. 

Begitulah tips memulai usaha dari saya. Ini bukan tips berisi meraup keuntungan sebesar mungkin. Ini soal bertahan hidup. 

Penulis: Moddie Alvianto W

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Orang-orang Tetap Nonton Konser di Tengah Kondisi Ekonomi yang Nggak Baik-baik Aja, Inikah Fenomena Lipstick Effect? dan artikel finansial yang menginspirasi lainnya di rubrik CUAN.

Exit mobile version