Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
20 Juni 2026
A A
Mati Listrik di Jogja Adalah Cara Cepat Membunuh Orang Miskin (Unsplash)

Mati Listrik di Jogja Adalah Cara Cepat Membunuh Orang Miskin (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini, ada satu notifikasi dari PLN yang bikin emosi warga Jogja, pengumuman jadwal mati listrik. Responsnya hampir selalu sama. Ada yang mengeluh, bercanda, banyak yang langsung sibuk mengecas semua perangkat elektronik.

Awalnya saya menganggap mati listrik hanya sebatas gangguan kecil. Toh paling cuma beberapa jam. 

Saya bisa rebahan, ngobrol dengan tetangga, atau keluar rumah mencari angin. Namun, setelah rumah saya sering kena mati listrik, saya sadar bahwa listrik yang mati ternyata tidak berdampak sama bagi semua orang.

Banyak orang di Jogja yang kehilangan kenyamanan sampai penghasilan. Dan dari situ saya memahami satu kenyataan bahwa menjadi orang miskin ternyata mahal sekali.

BACA JUGA: Gara-gara Mati Listrik, Bekasi dan Inggris Nggak Ada Bedanya: Sebuah Kenyataan yang Nggak Akan Pernah Kamu Duga

Mati listrik dan tak ada pilihan

Ketika mati listrik, orang kaya punya banyak pilihan. Mereka punya power bank berkapasitas besar, genset, sampai inverter. Ada juga mobil yang bisa dinyalakan untuk menikmati AC. Mereka bisa pindah kerja di kafe yang memiliki listrik cadangan. Minimal, bisa membeli paket data tambahan ketika WiFi mati.

Sementara itu, orang miskin tidak memiliki kemewahan bernama pilihan. Mati listrik ya sudah. Kipas angin, pompa air mati, kulkas, mati mati. Pekerjaan ikut mati. Pendapatan apalagi.

Di Jogja, kita bisa melihatnya dengan mudah. Penjual es di pinggir jalan mulai cemas ketika kulkas dan freezer tidak menyala selama berjam-jam. Pemilik laundry harus menunda pekerjaan. Tukang fotokopi kehilangan pelanggan. Penjual minuman dingin melihat es batu yang perlahan mencair bersama keuntungan yang ikut mengalir pergi.

Baca Juga:

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

Kerugian itu mungkin tidak besar jika melihatnya dari sudut pandang orang kaya di Jogja. Namun, bagi mereka yang hidup dari pemasukan harian, kehilangan pendapatan karena mati listrik untuk setengah hari saja bisa berarti banyak hal.

Fakta orang miskin di Jogja

Yang menarik, kita sering membicarakan kemiskinan seolah hanya soal jumlah uang. Padahal, kemiskinan juga berarti tidak memiliki cadangan ketika sesuatu berjalan tidak normal karena mati listrik. Selama semua berjalan lancar, perbedaan itu mungkin tidak terlalu terlihat.

ADVERTISEMENT

Ketika listrik menyala, semua orang bisa menyalakan kipas angin yang sama. Atau, mengisi daya ponsel yang sama. Namun begitu mati listrik, perbedaan itu muncul dengan sangat jelas. 

Ada rumah yang tetap terang dan bisa bekerja dengan tenang karena memiliki genset. Lebih banyak orang miskin di Jogja yang hanya bisa duduk termenung. Meratapi pemasukan harian melayang tanpa kompensasi dari PLN.

Mati listrik membuka tabir kemiskinan

Mati listrik membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi. Ketimpangan bukan hanya soal siapa yang memiliki lebih banyak uang, tetapi juga soal pilihan ketika masalah datang.

Iklan bahwa Jogja itu nyaman masif sekali. Namun, di balik semua citra itu, ada kenyataan yang tak terlihat. Banyak aktivitas ekonomi hari ini sangat bergantung pada mati listrik.

Warung menerima pembayaran QRIS. Pekerja mengandalkan internet. Mahasiswa mengerjakan tugas melalui laptop. Pedagang menyimpan barang dagangan di kulkas. Usaha kecil menjalankan produksi dengan mesin listrik. Artinya, ketika mati listrik, yang terganggu bukan hanya lampu rumah. Aktivitas ekonomi terganggu.

Ironisnya, mereka yang paling bergantung pada pemasukan harian adalah pihak yang paling sulit mengantisipasi mati listrik. Mereka tidak punya genset. Duit dari mana mau beli genset kalau sehari-hari saja tidak pernah cukup.

BACA JUGA: Di Medan, Mati Lampu di Bulan Puasa Adalah Keniscayaan: Sebuah Penderitaan yang Tak Akan Pernah Berakhir

Penderitaan tak pernah sama

Makanya, saya agak tersenyum ketika mendengar anggapan bahwa mati listrik adalah penderitaan yang sama. Secara teknis memang benar. Tetapi, dampaknya tidak pernah benar-benar sama.

ADVERTISEMENT

Sama seperti hujan yang turun ke seluruh kota, tetapi tidak semua orang memiliki atap yang sama kuat. Banyak yang menderita, ada pula yang tetap nyaman, kering, dan tidur nyenyak.

Maka, mati listrik menunjukkan kenyataan yang faktual di Jogja terkait kemiskinan. Kehidupan di Jogja ini timpang sekali. Mungkin daerah lain juga merasakan fakta yang sama.

Mati listrik akhirnya bukan hanya soal listrik. Ia menjadi pengingat bahwa masalah yang sama tidak pernah dibayar dengan harga yang sama oleh semua orang. 

Bagi orang miskin, mereka hanya bisa menunggu dan meratap. Untuk orang kaya, kehidupan masih bisa terus berjalan.

Itulah pelajaran paling terang yang saya pahami. Bahwa menjadi miskin berarti harus menanggung biaya paling mahal dari masalah yang tidak kita ciptakan sendiri.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Mati Listrik Tanpa Kompensasi Adalah Budaya Kita: Tidak Peduli Rakyat Menderita, Negara Tetap Memalingkan Muka

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Juni 2026 oleh

Tags: gensetJogjalistrikmati listrikpemadaman bergilirPLN
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Di Jogja, Apoteker Menderita Kalau Nggak Bisa Bahasa Inggris (Unsplash)

Penderitaan Apoteker yang Kerja di Jogja

4 Desember 2023
5 Perlintasan Kereta Api di Jogja yang Punya Kisah Unik hingga Mistik Terminal Mojok

5 Perlintasan Kereta Api di Jogja yang Menyimpan Kisah Unik hingga Mistis

8 September 2022
Kapok Naik Trans Jogja Setelah Satu Kali Mencobanya MOJOK.CO

Kapok Naik Trans Jogja Setelah Satu Kali Mencobanya

14 Agustus 2020
Anak Madura Mudah Dapat Jodoh di Jogja ketimbang Jakarta

Alasan Mengapa Anak Madura yang Kuliah di Jakarta Lebih Sulit Menemukan Pasangan ketimbang yang Kuliah di Jogja

3 Agustus 2025
Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul Mojok.co

Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul

11 Oktober 2025
Pakuwon Mall Jogja: Mall Mewah, tapi Parkir Mobil Susah Mojok.co

Pakuwon Mall Jogja: Mall Mewah, tapi Parkir Mobil Susah

4 Juni 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

16 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya Mojok.co

Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya

15 Agustus 2026
Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Sekolah swasta yang melarang gurunya mendaftar ASN itu aneh, ngasih gaji layak nggak mau, tapi seenaknya menghentikan impian seseorang

15 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026
Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.