Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lebaran, 650 Tahun Setelah Kesultanan Majapahit

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
27 Juni 2017
A A
lebaran-majapahit-mojok

lebaran-majapahit-mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah terkuak fakta bahwa Majapahit adalah kesultanan Islam, sekarang pantas kita bertanya, seperti apa suasana Lebaran di masa pemerintahan Majapahit? Nyatanya, sekeras apa pun saya berusaha, saya tetap tidak berhasil menemukan catatan yang menggambarkan suasana Lebaran di era dynamic duo Patih Gaj Ahmada dan Sultan Ay Amwuruk.

Alhasil, daripada susah-susah berkutat dengan naskah-naskah kuno yang belum pasti kebenarannya dan tidak ada jaminan di masa depan tidak akan diputarbalikkan orang lain, saya memilih untuk mencatat hal-hal unik yang terjadi di Lebaran tahun ini, sekitar 650 tahun setelah kepergian Sang Mahapatih yang katanya baru mau buka puasa kalau sudah berhasil mempersatukan Nusantara.

Mula-mula adalah mudik, kebiasaan yang entah sudah ada sejak Majapahit atau malah lebih kuno lagi. Jika mengingat betapa luas daerah yang berhasil dipersatukan Sang Mahapatih, bukan tidak mungkin kebiasaan itu dimulai atau setidaknya marak di era beliau. Dan mengingat kala itu transportasi darat belum digemari seperti sekarang, saya pikir mungkin selain bersumpah untuk mempersatukan Nusantara, beliau juga menjanjikan tol laut kepada rakyatnya.

Hal lain yang unik yang menyertai kebiasaan mudik adalah kebiasaan membagikan uang kepada anak-anak. Kebiasaan ini juga sudah tua walaupun seberapa tuanya, saya tidak tahu pasti pula. Yang unik dari kebiasaan membagikan uang untuk anak-anak adalah munculnya istilah “uang baru tapi lama” dan “uang baru edisi baru”.  Seumur hidup saya yang belum tua-tua amat ini, baru kali ini saya dengar istilah demikian.

Sepengamatan saya, tidak ada anak-anak yang merindukan gambar Tuanku Imam Bonjol di lembaran lima ribuan atau sempat-sempatnya nanya agama para pahlawan yang wajahnya tercetak di uang yang mereka terima. Mungkin mereka justru lebih paham pepatah uang tidak punya agama. Atau mungkin karena mereka belum jadi anggota parpol saja ….

Selain mudik dan uang salam tempel, hal lain yang juga dipikirkan rakyat adalah hidangan Lebaran. Saya sempat membaca teks berjalan di televisi tentang imbauan Bu Susi untuk mengganti hidangan Lebaran dengan ikan. Dengan berat hati saya terpaksa melaporkan bahwa rakyat Indonesia, khususnya di sekitar rumah mertua saya, masih lebih memilih menenggelamkan ketupat dan daging ayam ke dalam kuah opor mereka. Mungkin karena ikan dan opor memang bukan pasangan ideal. Mohon kebijaksanaan Ibu Susi untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan soal ini. Jangan sampai wilayah Klaten, Delanggu, dan sekitarnya hilang dari peta karena ditenggelamkan hanya karena persoalan ini. Mohon dimaafkan lahir batin, Bu.

Setelah mudik, bagi-bagi uang, dan makan-makan adalah hiburan. Televisi masih jadi primadona. Di tahun-tahun yang lalu orang sering bercanda bahwa bulan puasa ditandai dengan mulai maraknya iklan sirup di televisi, dan lebaran sudah sah manakala film-film Warkop DKI sudah muncul. Ini sebenarnya mirip dengan perayaan Natal, bedanya hari raya umat kristiani ditandai dengan pemutaran Home Alone.

Tahun ini sedikit berbeda. Dari promosi-promosi film akan tayang, saya tidak melihat film-film Warkop ada dalam daftar. Saya malah melihat jajaran film-film nasional lain, mulai dari yang bergenre komedi, drama, sampai religius. Ini membahagiakan. Akhirnya kita bisa lepas dari yang baju merah.

Ketika bangun di pagi Lebaran, seperti biasa saya melihat sebagian besar stasiun televisi menyirarkan langsung salat Id dari Masjid Istiqlal. Kalau dipikir-pikir, target penonton siaran itu kan justru lagi shalat Id semua. Mungkin cuma di hari Lebaran televisi bareng-bareng menyiarkan sesuatu yang sama bukan untuk mengejar rating. Cuma karena kebiasaan.

Pada sesi khotbah yang disampaikan khatib Bapak Quraish Shihab, saya sempat mendengar sekilas sejarah dan etimologi kata iblis. Kata beliau, kata iblis berasal dari diabolos yang artinya ‘orang yang memfitnah, yang memecah belah’. Iblis, kata beliau lagi, memfitnah, memecah belah, dan menanamkan prasangka buruk.

Ketimbang teringat kepada orang-orang yang memfitnah Pak Quraish bahkan di detik-detik menjelang Idulfitri, saya malah teringat Patih Gaj Ahmada. Soalnya, berkebalikan dengan iblis, beliau ini justru mau mempersatukan Nusantara di bawah slogan bhinneka tunggal ika.

Dari sini saya semakin yakin, Mahapatih Gaj Ahmada memang beragama Islam, UGM memang harus ganti nama, dan orang yang bertanya “Kapan nikah?” di Lebaran tahun ini adalah orang yang tidak mau belajar dari sejarah.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Gaj Ahmadahay amwurukhome aloneLebaranmajapahitMudikQuraish Shihabwarkop
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO
Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
pertamina bikin mudik lewat jalan tol semakin mudah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026
Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
Yamaha Mio Sporty 2011 selalu mogok di Jogja. MOJOK.CO

Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru

20 Februari 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.