Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Saya Orang Tua Tunggal dan Orang Tua Saya Masih Suka Ikut Campur

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
12 Agustus 2017
A A
Saya Orang Tua Tunggal dan Orang Tua Saya Masih Suka Ikut Campur

Saya Orang Tua Tunggal dan Orang Tua Saya Masih Suka Ikut Campur

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanya

Dear Mas Agus Mulyadi,

nama saya Sarah, tentu bukan nama sebenarnya. Saya single parent dengan seorang anak laki-laki berusia 9 tahun, sebut saja Simon. Saya ingin curhat tentang kegundahan saya sebagai orang tua sekaligus anak.

Sejak berpisah dengan mantan suami, saya hanya tinggal berdua dengan Simon. Bahkan ketika saya kembali tinggal di kampung halaman, saya mengontrak rumah agar bisa tinggal berdua dengan anak, dan tidak tinggal di rumah orang tua saya. Sebab, saya ingin menjaga hubungan baik dengan ibu saya.

Saya dan Ibu dekat, tapi tidak mempunyai cara pandang hidup yang sama. Salah satunya masalah keyakinan.

Ibu seorang muslim taat, sedangkan saya masih mempertanyakan apakah saya benar-benar yakin dengan Islam yang merupakan agama saya sejak lahir. Sudah agak lama saya tidak menjalankan salat, hanya ditunaikan sesekali ketika berkunjung ke rumah orang tua. Hal ini adalah satu dari beberapa hal lain yang kadang membuat saya harus adu argumen dengan beliau.

Atas permintaan orang tua, anak saya bersekolah di SDIT (sekolah dasar Islam terpadu). Saya tidak terlalu suka anak saya bersekolah di sana, tapi untuk menghindari perdebatan dengan Ibu, saya mengalah.

Banyak sekali hal yang tidak saya suka dari sekolah tersebut. Puncaknya, ketika anak saya kelas 3, banyak dari wali murid yang mengeluhkan fasilitas sekolah yang tidak sesuai dengan biaya sekolah. Beberapa wali murid kemudian memindahkan anaknya ke sekolah lain. Kesempatan ini saya jadikan alasan untuk memindahkan anak saya ke sekolah yang saya inginkan, yang kebetulan bukan SDIT, dan Ibu memakluminya.

Awal Januari lalu, saya mendapat pekerjaan di luar kota, di tengah hutan, sehingga tidak untuk membawa anak. Sejak saat itu anak saya tinggal dengan orang tua. Sejak itu, saya pulang sebulan sekali dan tinggal di rumah kira-kira seminggu setiap bulannya.

Anak saya mulai tidak menyukai tinggal dengan orang tua saya, dan orang tua saya mulai mengeluhkan sikap anak saya, yang sangat susah disuruh salat dan mengaji. Selama seminggu di rumah orang tua saya, saya pun harus melaksanakan salat, tapi saya selalu merasa membohongi diri sendiri dan semua orang, hingga akhirnya saya tidak lagi melakukannya.

Saya tidak bisa terbuka dengan orang tua saya dengan mengatakan saya sedang tidak percaya dengan agama saya saat ini. Saya juga tidak bisa mengatakan saya ingin anak saya mengenal semua agama dan memutuskan sendiri agama mana yang mau dia percaya.

Saya tidak bisa melakukan itu karena saya tahu, perasaan mereka akan terluka dan saya sudah sering membuat mereka kecewa. Tapi, saya juga tidak bisa mengkhianati hati sendiri dan memaksa anak saya melakukan hal yang saya sendiri tidak lakukan dan mempercayai hal yang saya sendiri tidak percayai.

Sudah tujuh tahun saya menjadi orang tua tunggal. Hal paling susah dari status itu adalah saya tidak bisa bertukar pikiran dengan pasangan tentang cara terbaik membesarkan anak; bagaimana menjadikan dia manusia yang bahagia, baik hati, dan jujur. Saya sudah memikirkan beberapa jalan keluar untuk masalah ini, tapi saat ini, saya tidak bisa melakukannya.

Jalan keluar pertama adalah mencari pekerjaan lain. Sebagai orang tua tunggal yang harus membiayai anak sepenuhnya, saya sangat membutuhkan pekerjaan dengan bayaran cukup, dan saat ini, pekerjaan yang mengharuskan saya berpisah dengan anak justru merupakan pekerjaan dengan bayaran terbaik yang bisa saya dapat. Hendak mencari suami baru agar tidak terlalu berat secara finansial juga tidak mudah. Dan jika Simon mau saya tinggal dengan pengasuh, ia masih 9 tahun dan tidak bisa saya tinggal dengan pengasuh selama dua puluh hari.

Iklan

Mohon masukannya, apa yang sebaiknya saya lakukan agar hubungan saya dengan orang tua tetap baik-baik saja sekaligus saya tetap bisa membesarkan anak sesuai dengan keinginan saya. Terima kasih.

Sarah

Jawab

Mbak Sarah yang baik,

mula-mula saya mengabarkan bahwa Cik Prim yang bertugas menjawab curhat minggu ini. Meski belum berkeluarga, saya usahakan untuk memberi pandangan atas masalah Mbak dengan sebaik-baiknya.

Mbak, pada konflik yang opsi penyelesaiannya hanya A dan B, sulit sekali menghindari perasaan terluka. Salah satu harus berkompromi dengan kesepakatan kelak, dan kompromi selalu dimulai dengan perasaan terluka, apalagi dalam kasus Mbak.

Saya pikir jujur adalah jalan terbaik. Masalah hidup keseharian sudah cukup membuat lelah tanpa harus ditambah dengan berpura-pura. Jadi, saya pikir Mbak harus memulai negosiasi dengan orang tua, yang bisa jadi akan berlangsung lama, soal pilihan Mbak dalam beragama.

Agar negosiasi itu tidak menjadi debat agama seperti di media sosial, usahakan Mbak memulainya dengan mengungkapkan kegelisahan hati Mbak. Jangan memulainya dengan perang dalil atau mencari-cari kejelekan agama. Kalau kita ingin pilihan kita dihargai, bukankah kita juga harus berlaku sebaliknya? Intinya, hindari kemungkinan negosiasi itu memperburuk hubungan keluarga.

Tapi, soal anak, saya pikir tidak sepenuhnya benar juga membiarkan ia mempelajari semua agama, yang tentu baru bisa ia mulai saat remaja atau bahkan dewasa, dan kemudian mengabaikan pendidikan agama yang secara “official” ia peluk saat ini.

Agama tidak cuma mencakup wilayah personal, tapi juga sosial. Anak laki-laki kadang dituntut masyarakat untuk terlibat dalam ritus-ritus agama. Dia justru bisa terkucil jika tidak punya pengetahuan itu.

Kemudian, bisa juga kelak ketika dewasa, Simon justru memutuskan menjadi muslim taat. Jangan sampai ia menyesali pilihan ibunya yang tidak membekalinya dengan pelajaran agama. Anggap saja, belajar Islam sejak kecil adalah pintu pertama Simon sebelum mempelajari agama-agama lainnya. Jika ia tidak menyukainya, bisa jadi itu kewajaran anak-anak belaka. Tidak semua keinginan anak harus diiyakan, kan?

Pada akhirnya, saya sangat mendukung pikiran Mbak untuk mencari pekerjaan yang memungkinkan dekat dengan anak sekaligus memberi bayaran baik. Itu lebih baik buat Mbak, juga buat Simon. Jika pekerjaan dengan dua kriteria itu belum didapat, teruslah mencari (ya, sedihnya saya hanya bisa bilang itu) atau memikirkan jalan keluar lain. Saya pernah membaca bahwa memikirkan masalah secara terus-menerus akan semakin mendekatkan pada jawaban, alih-alih meninggalkan masalah itu atau menghindarinya.

Hanya itu saja pandangan yang bisa saya bagi. Semoga bisa membantu. Doa saya agar Mbak tetap kuat dan semakin kuat. Mbak sudah melalui masa tujuh tahun sebagai orang tua tunggal. Itu berarti, Mbak jauh lebih kuat dari yang Mbak kira.

Salam sayang,

Cik Prim

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2018 oleh

Tags: Agamaorang tuaorang tua tunggalrumah tanggasingle parent
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO
Urban

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami para Caregiver MOJOK.CO
Esai

Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver

4 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa MOJOK.CO

Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa

23 Maret 2026
Evakuasi WNI saat terjadi konflik luar negeri MOJOK.CO

Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal

16 Maret 2026
Ironi silaturahmi Lebaran bersama keluarga

Sisi Gelap Lebaran: Melelahkan karena Harus Tampak Bahagia, padahal Menderita Bersikap “Baik” dan Kehabisan Energi Sosial

23 Maret 2026
3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat MOJOK.CO

3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat

23 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026

Video Terbaru

Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.