Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Presiden Pasoepati: Menjadi suporter Persis Solo Adalah Lelah yang Menyenangkan

Arief Noer Prayogi oleh Arief Noer Prayogi
12 Agustus 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menjadi penikmat sepak bola dapat menghadirkan sensasi yang sulit diterima akal sehat. Sama seperti pengakuan Presiden Pasoepati, pendukung Persis Solo.

Saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk berbincang langsung dengan presiden organisasi pendukung kesebelasan Persis Solo, yang disebut Pasoepati.

Iklan

Minggu 20 Februari 2000 menjadi salah satu hari bersejarah bagi warga Surakarta. Kala itu, warga disuguhkan sebuah pemandangan baru. Tidak kurang dari 4000 Aremania hadir di Stadion Manahan untuk mendukung Arema Malang yang tandang melawan Pelita Solo.

Aremania menyuguhkan yel-yel serta koreo yang membuat Stadion Manahan bergemuruh. Aksi mengagumkan Aremania menyadarkan para pecinta sepak bola di Surakarta untuk membuat sebuah perkumpulan pendukung klub sepak bola yang kemudian bernama Pasoepati (Devi Laily dalam Kota, Klub, dan Pasoepati: Satu Dekade Dinamika Supoter Surakarta, diterbitkan Buku Litera tahun 2016).

Untuk mengetahui pengelolaan Pasoepati, saya mencoba berbincang dengan Presiden Pasoepati kabinet 2018-2020, Aulia Haryo Suryo. Saya dan pria yang lebih akrab disapa Rio ini membuat janji untuk bertemu di sebuah kedai susu di daerah Manahan, Surakarta.

Sore itu, saya pikir Rio melakukan persiapan matang sebelum pertemuan berlangsung. Rambut yang klimis rapih, jam tangan melingkar di pergelangan tangan kanan, beserta parfum yang wangi. Tak lupa, ia mengenakan kaos tim kebanggaannya berwarna dominan putih dengan ornamen merah yang membuat sebuah simbol bahwa Persis selalu bersama dirinya kemana pun ia berada.

Mengawali perbincangan, Rio menceritakan awal dirinya menjadi bagian Pasoepati. “Dulu, kakak juga suka nonton bola. Kemudian suatu hari mengajakku untuk hadir ke sebuah acara yang ternyata adalah rapat awal pembentukan Pasoepati. Waktu itu aku masih SMA.”

Lebih lanjut, Rio bercerita bahwa saat itu layaknya sebuah organisasi pada umumnya, dibentuklah sebuah forum untuk membuat rancangan awal Pasoepati.

“Sebelumnya muncul beberapa usul nama, tapi akhirnya yang disepakati Pasoepati. Ketua pertama, ya, Mayor Haristanto itu,” terang Rio ketika disinggung mengenai nama Pasoepati, “jadi sebenarnya saat itu aku tidak sengaja datang. Eh, malah masuk ke daftar pendiri Pasoepati.”

Secara struktural, organisasi suporter Persis tersebut memiliki Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yang kemudian bertugas sebagai koordinator dari bagian-bagian lain yang ada di bawahnya. Kemudian, lima wilayah yang ada di Keresidenan Surakarta memiki masing-masing kodinator wilayah (korwil), di antaranya adalah Sukoharjo, Karanganyar, Banjarsari, Mojolaban, dan Pasar Kliwon.

“Secara AD/ART masing-masing korwil memiliki minimal 10 suku dan satu suku minimal 20 orang. Jadi misal kamu dan teman-teman kelas di kampus ingin membuat suku dengan nama apa gitu, nah nanti tinggal lapor ke korwil masing-masing. Tergantung ada di wilayah mana.”

Namun, melihat kondisi masing-masing korwil, jumlah suku yang ada terkadang tidak memenuhi syarat AD/ART. “Misal ada korwil yang kurang aktif atau bahkan vakum. Pernah satu korwil hanya ada tiga sampai lima suku. Kita kan juga harus melihat di lapangan seperti apa.” Mengenai bergabungnya anggota dalam korwil tertentu, Rio menyebut bahwa hubungan personal yang menjadi faktor utama.

“Ada anggota yang tinggalnya di wilayah A misalnya, tapi karena pergaulan membuat dia dekat dengan korwil dari daerah C, ya seringnya nanti ngumpul dengan anak-anak dari korwil C. Intinya balik lagi ke komunikasi.”

Keadaan Pasoepati yang sedemikian rupa menyebabkan Rio memiliki tanggung jawab lebih dalam memobilisasi para anggotanya. Terutama mengenai arus koordinasi dengan pihak lain yang memiliki pengaruh terhadap pendukung Persis, apalagi ketika hendak menonton di stadion. “Ya biasanya kalau ada laga tandang, aku yang dihubungi polisi. Tiap kota yang kami lewati ketika pergi ke tempat pertandingan juga harus kami kirimi surat pemberitahuan.”

Iklan

Setelah bercerita cukup banyak mengenai kondisi Pasoepati, saya menjadi penasaran dengan cara mereka melakukan persiapan teknis sebelum berlangsungnya sebuah pertandingan. Apalagi, salah satu ciri khas dari suporter adalah sebuah harmoni antara dentuman bas drum, yel-yel, dan koreografi yang berlangsung hampir 90 menit. Ditambah, yel-yel dan koreografi yang dilakukan selama pertandingan tidak hanya satu.

“Kalau dulu awal-awal terbentuknya Pasoepati, hampir seminggu sekali kita latihan. Kumpul di Manahan, kemudian pihak dirigen akan memimpin latihan di sana.” Namun setelah 18 tahun berdiri dan anggota Pasoepati menjamur hingga pelosok Surakarta, latihan koreografi sudah tidak pernah dilakukan. “Tidak ada latihan lagi. Soalnya sudah seperti makanan sehari-hari.”

Selain itu, sosial media menjadi senjata utama untuk menyebarkan produk kreatif yang digunakan ketika pertandingan. “Sekarang biasanya beberapa lagu baru di-posting di Instagram atau Facebook. Jadi nanti nyanyinya tinggal mengikuti di situ saja. Teknologi sudah canggih kok mas.”

Pemanfaatan teknologi memang menjadi perhatian khusus di dalam kepengurusan Rio. Selain pemanfaatan media sosial, kini Pasoepati juga telah memiliki laman resmi yang beralamat di paseopati.id. Selain itu juga, dalam rangka mendata anggota dengan lebih baik lagi, Pasoepati bekerja sama dengan pihak bank untuk membuat Kartu Tanda Anggota (KTA).

Bagi para anggota yang sudah memiliki KTA, kartu tersebut dapat digunakan seperti uang elektronik pada umumnya. “Bisa digunakan untuk tap cash, mas.” Jelas Rio lebih lanjut. “Nih mas contohnya punya saya, seperti ini bentuknya.” Rio pun mengeluarkan KTA yang ia miliki dari dompetnya.

Ketika saya lihat-lihat, memang kartu tersebut memiliki kesan sangat Persis. Warna merah agak gelap dengan tulisan Pasoepati tampak jelas di depan. Kemudian terdapat biodata anggota di belakangnya. Sekilas kartu anggota tersebut mengingatkan saya kepada kartu mahasiswa (karmas) yang saya miliki.

“Memang, Pasoepati yang datang di stadion, kalau kita lihat Manahan biasa penuh ya. Itu bisa mencapai 10 ribu. Tapi yang baru memiliki KTA baru ada sekitar 700an. Karena memang ini baru kita luncurkan sekitar tiga bulan yang lalu.”

saya juga sempat menanyakan mekanisme pemeriksaan identitas sebelum masuk ke stadion kepada Rio. Hal ini sudah dilakukan di beberapa stadion di Eropa. Rio menjawab dengan cepat, “Bagus itu, bagus, namun aku ragu kalau stadion di Indonesia sudah bisa diterapkan. Infrastrukturnya belum bisa.”

Lebih lanjut lagi, Rio menceritakan kepada saya mengenai keadaan stadion di Indonesia. “Kalau dengan sistem single seat mungkin bisa, satu-satu ditandain siapa yang duduk di sini, siapa yang duduk di sana. Tapi karena kebanyakan stadion kita masih cor-coran kan susah. Yang paling bisa dilakukan sekarang adalah membuat sistem tiket online saja. Itu dulu,” ucapnya.

“Kan sebenarnya kuota tiket sudah diketahui ketika pra musim. Misal, Persis main di stadion mana aja selama satu musim, kuota berapa, jam berapa, nah dari situ orang-orang akan bisa membuat rencana menonton. Seperti nonton bioskoplah.”

Perkara pembelian tiket Persis memang menjadi keresahan terbesar Rio sekarang ini. Ia bercerita mengenai keadaan stadion yang sering melebihi kapasitas menyebabkan beberapa hal yang tidak diinginkan seperti kerusuhan kadang terjadi.

“Bayangkan, sekarang orang ingin menonton bal-balan setelah pulang kerja, kemudian harus nunggu lama karena antreannya mengular. Iya kalau dapat. Kalau tidak? Gimana gak marah-marah jadinya.”

Namun meski masih banyak kekurangan, semangat mendukung Persis di dalam diri Rio tak pernah padam sampai detik ini. Apalagi ketika dirinya menjelaskan persiapan teknis sebelum pertandingan kandang Persis.

Sembari memperlihatkan video yang ada di beberapa akun Instagram. Rio bercerita tentang beberapa orang yang menyiapkan produk kreatif sejak tiga hari sebelum pertandingan. Barang-barang seperti gambar raksasa, biasanya karakter Hell Boy atau Pangeran Samber Nyawa, akan disiapkan untuk dibentangkan di sepanjang salah satu tribun stadion.

“Persiapannya memang melelahkan, apalagi yang bikin biasanya ngerjain setelah pulang kerja, nanti nyicil sedikit-sedikit. Kalau sudah malam tapi belum selesai yang diteruskan besoknya lagi sampai selesai.”

Perbincangan kami harus diakhiri karena petang yang semakin pekat. Sebelum berpisah, Rio mengucapkan sesuatu yang masih saya ingat dan mungkin dapat menggambarkan kepada kita, alasan para suporter mampu melakukan hal-hal yang menurut kita tidak wajar.

“Nonton bola doang mah seneng. Kita bisa meluapkan emosi yang tidak mungkin kita keluarkan di luar, rumah, atau kantor. Bisa misuh-misuh, dan lain-lain. Apalagi kalau mengurusi organisasi seperti ini, capek. Tapi karena melihat teman-teman yang melakukannya karena kerelaan hati, setelah ngeliat hasilnya di stadion ya seneng jadinya. Capek, tapi seneng.”

Kami pun berpisah. “Kalau mau nonton bola, jangan lupa kabari aku, ya!” Ucap Rio.

Terakhir diperbarui pada 16 Agustus 2018 oleh

Tags: Arema Malangaremanialiga 2liputanmayor haristantopasoepatipersispersis solopresiden pasoepatiSuporterSurakarta
Arief Noer Prayogi

Arief Noer Prayogi

Artikel Terkait

Kirab pusaka malam 1 Suro di kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, tidak hanya upaya menjaga warisan budaya-tradisi turun-temurun. Tapi juga jadi penggerak ekonomi daerah MOJOK.CO
Kilas

Nilai Lain Kirab Malam 1 Suro di Surakarta: Jadi Daya Tarik Lintas Zaman, Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Daerah Jateng

17 Juni 2026
Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga
Pojokan

Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga

1 Desember 2025
Ilustrasi Kualifikasi MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Yogyakarta Seri 1 2025-2026 - MOJOK.CO
Liputan

Drama Kualifikasi MLSC Yogyakarta Seri 1: Tangisan Anggun yang Timnya Tak Lolos Meski Tak Pernah Kalah

16 Oktober 2025
Malang Semakin Menyebalkan, Rindu Era Terbaik Bersama Arema MOJOK.CO
Esai

Kini, Malang Berubah Menjadi Kota yang Asing dan Bikin Sebal, Bikin Saya Rindu Era Terbaik ketika Noh Alam Shah Masih Berseragam Arema

4 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Refleksi untuk orang tua di Jawa Tengah (Jateng): punya peran penting awasi anak agar tidak sibuk main gadget MOJOK.CO

Refleksi untuk Orang Tua di Jateng agar Gadget Tak Kuasai Rumah hingga Anak Lebih Sibuk Tenggelam dalam Layar

29 Juni 2026
Derita 17 Hari Naik Honda Revo Jadi Penagih Utang MOJOK.CO

17 Hari Menjadi Penagih Utang dengan Risiko Kehilangan Nyawa Naik Honda Revo Biru Sudah Cukup Membuat Saya Menyerah

23 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) pastikan pengurusan dokumen izin untuk nelayan gratis MOJOK.CO

Nelayan Kecil di Jateng Kini Bisa Urus Izin Kapal Gratis, Tinggal Lapor kalau Kena Pungli

22 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.