Cerita Perawat di Masa Gawat

Tidak ada masa-masa gawat bagi perawat maupun tenaga kesehatan selain masa pandemi Covid-19. Khusus Indonesia, hingga akhir Desember 2020, tercatat 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19. Terdiri 237 dokter, 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 laboratorium medik.

Jumlah kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat sebagai yang paling tinggi di Asia dan 5 besar di dunia. Ini cerita para perawat di masa gawat pandemi Covid-19

Sebut saja namanya Nita (22), seorang perawat di sebuah rumah sakit di Kota Yogyakarta. Begitu lulus kuliah di tahun 2018, ia langsung diterima bekerja. Masa pandemi Covid-29 membuat perasaannya campur aduk sebagai perawat.

Nit mengungkapkan kesedihannya ketika pasien yang semakin banyak membuat teman-temannya bergantian tumbang dan terkena covid-19. “Nggak cuma lihat temen sakit yang bikin sedih, tapi lihat pasien yang kondisinya sesak nafas sampai kebiruan itu juga bikin sedih banget,”ujar Nita.

Apalagi saat ia menemukan kasus pasien yang jumlah oksigennya berkurang tiba-tiba (happy hipoksia) itu tidak merasa sesak nafas tapi saturasinya rendah dan langsung meninggal, keluarganya jelas sedih banget. “Kita sebagai perawat juga udah berusaha semaksimal mungkin,” ungkap Nita yang suaranya bergetar saat bercerita.

Berada di bangsal isolasi pasien Covid-19 memang menjadi tantangan bagi Nita. Bukan hanya bertugas untuk merawat pasien covid-19, namun juga bertugas untuk wrapping pasien yang sudah meninggal, dan memberikan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Menjadi perawat yang paling muda, Nita saat ditunjuk oleh kepala ruang untuk bertugas di bangsal isolasi saat baru bekerja selama tiga bulan. “Rasa takut pasti ada, yang paling utama adalah takut jika menularkan atau berisiko bagi orang di rumah, khususnya mama dan papa karena aku kan pulang ke rumah,” sambung Nita.

Hal serupa juga dialami oleh Leri (23), bukan nama sebenarnya, yang bertugas sebagai perawat di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit nasional di Yogyakarta. Bekerja di IGD menurut Leri harus mempunyai pengetahuan seperti mengetahui pertolongan pertama, pemisahan kondisi pasien, dan penyakit-penyakit umum yang biasa terjadi.

“Satu tahun bekerja bagi aku yang terpenting adalah skill, jika teori biasanya sudah lupa, dan kalau gaji itu nomor ke sekian karena niat untuk membantu,” ungkap Leri yang mengatakan sedang menunggu vaksin.

Baca juga : Sepucuk Surat dari Perawat yang Jadi PDP Corona

Banyak tantangan yang dihadapi Leri sebagai perawat, terlebih di masa pandemi covid-19 ini banyak menjumpai pasien tanpa gejala. Leri mengungkapkan jika pasien yang telah ia tangani di IGD, jika akan mondok wajib melalukan swab.

Hasil swab pasien akan keluar sekitar 5 jam kemudian. Leri sangat sering yang kemudian mendapati pasiennya tersebut positif. Mau tidak mau Leri pun harus mengikuti perintah dari rumah sakit untuk mengikuti tes swab PCR.

Setiap menunggu hasil tes swab PCR Leri menjadi was-was, cemas, dan takut. Selama menunggu tes swab PCR, perawat tidak diliburkan dan tetap bekerja seperti biasa. Hal itulah yang membuat Leri menjadi tidak tenang karena takut jika dirinya terkena Covid-19 akan berdampak buruk bagi pasien yang dilayaninya.

“Aku bahkan sampai nggak nafsu makan setiap menunggu hasil tes swab PCR itu keluar, rasanya aduh gimana ya, jadi beban pikiran,”lanjut Leri.

Ilustrasi perawat Covid-19 (Photo by Mufid Majnun on Usplash)

Ilustrasi perawat Covid-19 (Photo by Mufid Majnun on Usplash)

Melihat berita Covid-19 yang kian santer, bahkan di Indonesia menembus angka satu juta kasus, ternyata perjuangan yang dilakukan oleh barisan garda terdepan ini pun cukup menyentuh hati.

Sugiarto (29), bukan nama sebenarnya, sudah enam tahun menjadi perawat rumah sakit swasta di Kabupaten Sleman. Tempat Sugiarto bekerja merupakan rumah sakit tipe D atau rumah sakit yang hanya memiliki dokter umum, yang seharusnya tidak menerima pasien covid-19 kini juga harus ikut menerima karena jumlah pasien covid-19 bertambah banyak.

Berawal dari temannya, seorang perawat senior di ICU yang dinyatakan positif covid-19, Sugiarto kemudian mengurus bangsal isolasi covid-19 dan tetap tidak meninggalkan tugasnya di bangsal rawat inap.

Sejauh ini, perawat yang bertugas di bangsal isolasi covid-19 merupakan perawat yang muda-muda. Pasalnya, perawat muda dinilai memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga bisa menahan virus covid-19 yang mendobrak masuk.

Meskipun demikian, perawat yang kini usianya tidak lagi muda tetap bersemangat untuk turut andil merawat pasien covid-19, meskipun bukan di bangsal isolasi covid-19. Sebut saja Wati (43), seorang perawat ICU rumah sakit swasta di Tangerang. Merasakan takut ketika merawat pasien covid-19, Wati memberanikan diri didampingi doa dan rasa pasrah kepada sang pemilik hidup.

Wati mengungkapkan, bahwa di samping rasa takut yang besar, ada rasa rindu yang terselip di hatinya untuk keluarganya. “Sekarang ini, waktu untuk bertemu keluarga semakin terbatas, terkadang sebagai perawat juga harus melakukan isolasi di rumah sakit. Namun saya melakukan ini semua sebagai wujud kepedulian untuk sesama,” ungkap Wati melalui sambungan seluler.

Ketakutan terhadap pandemi Covid-19 yang tidak kunjung berakhir juga dialami Hana, bukan nama sebenarnya, seorang perawat rumah sakit swasta di Jakarta Pusat. Hana mengaku bahwa ia sangat takut kehilangan orang terdekat dan keluarganya akibat menjadi korban Covid-19.

Sebuah pengalaman menarik diceritakan Hana ketika menemui seorang pasien yang sempat melakukan video call kepada keluarganya untuk minta didoakan. Air mata Hana tumpah tatkala melihat, pasien tersebut menghembuskan nafas terakhir.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa virus covid-19 akan berbahaya pada pasien dengan penyakit bawaan. “Nyesek rasanya, saya menangis tidak berhenti,” ungkap Hana.

Perjalanan menjadi garda terdepan dalam melawan pandemi covid-19 tentu melelahkan. Bagaimana tidak lelah, perawat dikenal sebagai orang yang menemani pasien selama dua puluh empat jam, meskipun dibagi tiap waktu kerja tentunya.

Kejenuhan akan aktivitas sehari-hari, ditambah lagi jadwal waktu kerja yang tidak memungkinkan beristirahat cukup, membuat jadi lelah batin. Ditambah dengan hari libur yang saat ini terasa sangat istimewa. Bisa dibayangkan betapa tubuh itu membutuhkan sandaran, pelukan, dan ketenangan.

Nita menceritakan bekerja sebagai perawat di bangsal isolasi covid-19, membuatnya merasakan pengalaman bertugas di rumah sakit dalam lima kali berturut-turut dalam sehari. Beberapa waktu kerja rumah sakit mulai berubah, termasuk di tempat NIta bekerja, tidak lagi tiga wakktu kerja, namun menjadi lima waktu kerja. Sehingga waktu kerja pertama dimulai pukul dua pagi. Alhasil, Nita harus menerobos gelapnya malam dari rumahnya di Sedayu.

Baca Juga : Pemerintah Siapkan Bonus untuk Para Dokter, Perawat, dan Tenaga Medis yang Menangani Corona

Namun, Tiwi (22), bukan nama sebenarnya, merasakan hal berbeda di tempat kerjanya, sebuah rumah sakit swasta di Kabupaten Sleman. Bekerja di bangsal covid-19, pembagian waktu kerja yang diberikan dari rumah sakit hanya dua minggu setiap bulannya.

Sehingga, dua minggu selanjutnya, ia akan bekerja di bangsal rawat inap. Bahkan, jika tidak ingin pulang ke rumah karena takut menularkan pada keluarga, rumah sakit tempat Tiwi bekerja memperbolehkan perawat untuk menginap. “Perasaanku selama bertugas di bangsal isolasi covid-19 ini sangat bangga, di samping itu banyak pengalaman hidup yang aku dapatkan, dan juga perlakuan terhadap pasien covid-19 ini kan berbeda, jadi lebih bisa belajar banyak,” ungkap Tiwi.

Peran keluarga bagi perawat saat bekerjasa di waktu gawat ini sangat besar.. “Orangtuaku selalu berdoa bagi keselamatanku. Bahkan tidak pernah putus untuk memberi semangat. Walaupun aku tahu sebenarnya mereka juga khawatir dengan keselamatan aku,” ungkap Nita.

Perawat (Photo by jonathan on unsplash)

Perawat (Photo by jonathan on unsplash)

Bukan hanya Nita yang mendapat dukungan dari orang tuanya, Tiwi juga mendapatkan hal yang sama. Orang tua Tiwi tidak sekalipun menghalangi pekerjaan anaknya sebagai perawat, terlebih saat tau anaknya bertugas di bangsal isolasi covid-19. Bagi orangtua Tiwi, sudah sepantasnya dan juga kewajibannya di masa pandemi ini, perawat berjuang untuk membantu masyarakat yang sudah terkena maupun mencegah yang belum terkena Covid-19.

Ternyata mencegah masyarakat terkena Covid-19 merupakan perihal yang sulit. Ngeyel, itulah yang kerap kali disayangkan Akhmad (24), perawat di sebuah rumah sakit swasta di Sleman. Bahkan, perawat yang bekerja di bangsal poliklinik ini pernah beradu argumen dengan pasien.

“Saya kan lewat ruang tunggu, lalu ada pasien yang maskernya dilepas. Saya tegur lah pasien itu. Eh, malah marah, bilang kalau pengap dan segala macam,” ungkap Akhmad. Ya begitulah pasien, mungkin mereka belum pernah jadi perawat yang harus pakai alat perlindungan diri lebih pengap, lebih dari sekedar masker.

Tidak hanya Akhmad yang mengalami sulitnya agar pasien sadar dan menjaga tubuhnya sendiri di pandemi covid-19 ini, adapula Tami (21) yang bertugas sebagai perawat bagian skrining di rumah sakit swasta di Kota Yogyakarta. Biasanya, pasien yang akan melakukan skrining, diminta untuk mengganti masker yang dipakai dengan masker dari rumah sakit dan mengisi data diri di buku yang telah disediakan.

Namun, tidak semudah dibayangan rupanya menyuruh pasien melakukan itu semua. Ada pasien yang marah karena merasa terlalu ribet, dan adapula pasien yang merasa sebal karena jika pergi ke rumah sakit berkali-kali, maka harus mengisi data diri berkali-kali juga. “Kita sebagai perawat yang harus pintar jaga suasana hati,” ujar Tami.

Mengerikan, satu kata yang mewakili keadaan dari pandemi covid-19 ini. Jika sebelumnya hanya menyerang tubuh, keadaan yang tidak berhenti malah membuat pandemi covid-19 juga menyerang jiwa. Rahayu juga bercerita bagaimana ia merawat seseorang yang kejiwaannya terganggu karena pandemi Covid-19 ini.

Penyebabnya bisa jadi akibat kecemasan ataupun rasa takut yang berlebihan. Merawat pasien gangguan kejiwaan karena pandemi juga melelahkan, perlu kesabaran, hati yang kuat seperti baja, dan ketelatenan. Bahkan, Rayahu angkat tangan ketika dirinya malah dirasa menganggu bagi pasien.

Tak henti-hentinya doa dipanjatkan agar pandemi covid-19 segera berakhir. Mungkin saat ini, perawat yang bekerja di garda terdepan sudah mulai mendaptkan vaksin, namun masyrakat? Belum dan masih menjadi rencana agar vaksin dapat selesai tahun ini. Karena itu, perawat mengajak masyarakat untuk taat pada protokol yang berlaku.

“Ikuti 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas, serta interaksi,” pesan Wati pada masyarakat. Begitupula Tami, menyarankan untuk anak muda tetap dirumah saja dan jika setelah bepergian selalu mencuci baju dengan bayclin.

“Aku juga masih seumuran kalian, masih pengen main kesana-kesini. Namun, jiwa kemanusiaanku mengalahkan dan membawaku berjuang menjadi garda terdepan,” ujar Tami.