Jogja Tanpa Klakson Itu Omong Kosong, Nggak Usah Berlebihan Bikin Narasi Puji-pujiannya
Tiap kali aku melihat puji-puji “Jogja tanpa klakson” entah di artikel atau media sosial, saya hanya bisa tersenyum sinis. Sebab...
Tiap kali aku melihat puji-puji “Jogja tanpa klakson” entah di artikel atau media sosial, saya hanya bisa tersenyum sinis. Sebab...
Kasus kaca kereta api dilempar batu yang belakangan viral membuat saya murka dan bertanya-tanya: apa yang salah dengan kalian?
Jadi ya, bagaimanapun, angkringan Jogja tetaplah jadi daya tarik. Jadi alasan utama pun tak berlebihan, meski akan banyak yang menolak.
Itulah efek paling mengerikan brain drain: pertanda bahwa negara tersebut gagal bahkan dalam hal paling dasar, yaitu kesempatan.
Gelar orang paling alot di lapangan mini soccer itu nggak akan kepake di kantor. Tidak akan bikin cewek-cewek kagum.
Kenapa saya bilang hidup di Jogja jaminan sehat? Ini ada kaitannya dengan kultur Jogja yang mendukung orang-orang FOMO.
Kira-kira kenapa orang masih bertahan di Jogja, meski UMR Jogja sebegitu tiarap? Ya karena nggak ada pilihan lagi.
Saya tidak sedang menekan dan menyudutkan sopir truk. Hanya saja, efek truk ODOL yang ada tidak bisa lagi diabaikan.
Jadi ya, lupakan menemani dari nol. Orang yang kelewat sering ngomong tentang hal tersebut biasanya nggak nol, tapi minus.
PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta
55581
[email protected]
+62-851-6282-0147
© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.