Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kerja berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan tanpa nunggu work life balance dulu.
Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kerja berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan tanpa nunggu work life balance dulu.
Curhat dan ziarah di makam ibu dianggap sia-sia, lebay, bahkan keliru. Tapi justru jadi tempat pulang terbaik dan memberi rasa...
Ada kesalahpahaman terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO). Dikira frugal (hemat biaya) padahal bisa tetap mahal.
Fasilitas rooftop di kos memang bisa berpotensi kemproh. Tapi tetap jadi tempat healing dan kabur terbaik dari tekanan hidup.
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius. Mau nikmati pit-pitan malah kena mental.
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa: gajian ludes seketika karena dibagi-bagi untuk kebutuhan hingga cicilan.
Cerita Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha buat menopang ekonomi keluarga.
In this economy jadi momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi).
Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri.
PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta
55581
[email protected]
+62-851-6282-0147
© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.