Honda Beat dan Honda Scoopy adalah dua motor Honda yang punya kata ganti yang sama yaitu “penuh derita”. Banyak orang pernah menganggap keduanya sebagai penanda sosial. Hanya orang miskin dan kepepet yang punya Honda Beat atau Honda Scoopy.
Lucunya, masing-masing fans juga ada yang terjebak ke dalam perdebatan yang nggak tak henti. Saya sendiri mencatat perdebatan ini bertahan sampai 10 tahun lebih. Beberapa teman saya, para pemilik “motor miskin” ini masih awet saling menyindir ketika kami ngumpul sambil ngopi.
Oya, kata “miskin” di sini jangan kamu bawa ke hati. Saya memakainya untuk pekerja yang gajinya mentok di angka UMK, atau bahkan di bawahnya, orang yang mengambil kerja tambahan demi menutup akhir bulan, dan orang yang menghitung harga bensin sebelum menghitung perasaan.
Konteksnya nyata, alias, yang terjadi ke kita semua. Di mata negara yang semakin busuk ini, kita adalah sapi perah pajak atau sekumpulan orang miskin yang tetap harus diperas. Dan saya sendiri, pernah punya Honda Beat dan masih punya Honda Scoopy.
Gambarannya kayak gini. Pemerintah DIY menetapkan UMP 2026 sebesar Rp2.417.495, sementara UMK Kota Yogyakarta menembus Rp2.827.593. Peneliti Celios, Bara Muhammad Setiadi, menghitung pengemudi ojek online mesti bekerja 55 jam per minggu untuk mengantongi rata-rata Rp2,84 juta per bulan, sedangkan pekerja kantoran cukup bekerja 41 jam.
Jadi, ketika orang-orang ini bertanya “Beat atau Scoopy?”, pertanyaan sebenarnya jauh lebih getir. Motor mana yang ternyata menyelamatkan pemiliknya dari jurang kemiskinan?
Mesin Honda Beat dan Honda Scoopy itu sama, tapi harga beda jauh dan jujur saja, ini soal gengsi
Honda tidak menyimpan rahasia. Nattawat Akrasukphaisan dari Honda R&D Southeast Asia menegaskan Honda Scoopy dan Honda Beat menggendong mesin eSP 110 cc yang sama, dengan setelan injeksi sebagai satu-satunya pembeda.
Sarwono Edhi, Senior Analyst New Model Service and Publication PT Astra Honda Motor, menohok lebih keras. Honda mengarahkan setelan Scoopy untuk pengguna yang “lebih slow and fashion“.
Baca kalimat itu pelan-pelan. Pabrikan sendiri mengumumkan pengguna Scoopy berkendara lebih santai dan lebih peduli penampilan. Artinya, kamu membayar lebih mahal bukan demi tenaga, bukan demi kecepatan, melainkan demi menjadi orang yang berhenti di lampu merah dengan lebih memesona.
Berapa mahalnya? detikOto mencatat BeAT CBS, varian paling murah, menghuni angka Rp19,155 juta. Honda Scoopy Fashion menempel di Rp23,1 juta.
Selisihnya hampir Rp4 juta, cukup untuk membeli kulkas dua pintu, atau 400 porsi nasi kucing, atau satu motor bekas buat adikmu. Scoopy memang anak emas AHM. Motor ini menyumbang 20 sampai 23% penjualan, sekitar 1 juta unit per tahun. Laris, tapi tidak otomatis masuk akal.
Honda Beat menang di aspal, Honda Scoopy menang di brosur
Kompas pernah menguji Beat dan hasilnya tidak main-main. Honda BeAT Street menempuh 67 kilometer per liter pada rute campur Bogor-Jakarta. Lalu, BeAT Deluxe menorehkan 63 kilometer per liter sebulan kemudian.
Kalau New Honda Scoopy sendiri bisa menembus 58 kilometer per liter saat redaksi Kompas mengajaknya berkeliling Jakarta pada November 2024. Ini masih di bawah klaim pabrikan yang menyodorkan 59 kilometer per liter. Meski selisihnya tipis aja.
Mari berhitung dengan harga hari ini. Pemerintah masih menahan Pertalite di Rp10.000 per liter sampai akhir 2026. Pekerja yang pulang-pergi 30 kilometer dan bekerja 26 hari dalam sebulan membakar 780 kilometer setiap bulan.
Beat menuntut sekitar Rp116.400 bensin per bulan. Sementara itu, Scoopy menagih sekitar Rp134.500. Selisih Rp18.100 itu receh, setara dua porsi ayam geprek.
Masalah utamanya bukan di situ. Motor yang kamu tebus Rp3,9 juta lebih mahal itu baru balik modal dari selisih bensin setelah sekitar 18 tahun. DELAPAN BELAS TAHUN.
Ini jelas lebih lama daripada masa cicilan motor itu sendiri. Sepanjang rentang itu kamu bakal mengganti v-belt tiga kali, menukar aki dua kali, dan mungkin kehilangan kesabaran secara permanen.
Di titik ini, kubu Honda Scoopy selalu menarik kartu as bernama harga jual kembali. Darwin Danubrata, pemilik dealer motor bekas Songsi Motor, menyebut pasar masih memburu Scoopy dan harganya cenderung stabil.
Argumen itu sah, jangan kamu sepelekan. Scoopy memikat pasar lewat desainnya, dan pekerja yang mendadak butuh uang bisa melepasnya tanpa menangis. Honda Beat juga laku, tetapi di pasar bekas kamu beradu dengan ribuan Beat lain yang pemiliknya berdesakan menawarkan unit.
Gimana soal servis dan pajak? Kakak beradik ini bakal sama-sama menguras
Urusan perawatan, keduanya nyaris kembar. detikOto mencatat biaya tune up Honda Beat dan Honda Scoopy berada di kisaran Rp65 ribu sampai Rp100 ribu, roller Rp20 ribu sampai Rp35 ribu, dan v-belt Rp75 ribu sampai Rp150 ribu, plus empat kali servis gratis pada tahun pertama. Selama kamu rajin masuk AHASS, keduanya tidak akan menyandera gaji.
Namun, Scoopy menyimpan satu kelemahan fatal bagi si miskin. Ia tidak punya engkol. Ketika aki mati, dan aki selalu mati di waktu paling krusial memang sialan betul, Beat masih bisa kamu hidupkan dengan injakan kaki. Sementara Scoopy, menuntutmu memanggil bengkel atau mendorongnya sambil menahan malu.
Mojok pernah menulis curhat panjang soal bodi belakang Scoopy yang rentan retak dan mahal saat harus kamu ganti. Terhadap tukang parkir yang gemar menggeser motor sembarangan, Beat menang telak, saya akui.
Lalu ada pajak. Kabupaten/kota kini memungut opsen Pajak Kendaraan Bermotor sebesar 66% dari pokok pajak. detikOto memberi contoh kayak gini:
Motor dengan dasar pengenaan pajak Rp21 juta membuat pemiliknya menanggung Rp235.200 plus opsen Rp155.232, total Rp390.432 per tahun. Pemilik Beat maupun Scoopy sama-sama membayar, meski dasar pengenaan keduanya berbeda tipis.
10 tahun perdebatan menentukan si paling miskin dan saya rasa belum akan berhenti
Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia menunjukkan BeAT eSP mencatat 112.782 unit pada Januari 2016. Sementara itu, Honda Scoopy eSP menyusul dengan 41.438 unit.
AHM juga meluncurkan Beat generasi keempat pada 2016. Presiden Direktur AHM, Toshiyuki Inuma, menyebut Beat sebagai SKUTIK HONDA TERLARIS DI DUNIA.
Sejak itu, posisinya mengeras. Ahmad Muhibbuddin dari AHM menyebut Honda Scoopy menyasar konsumen yang ingin “tampil beda dan menjadi trendsetter“. Semenjak itu, Scoopy menjelma tulang punggung penjualan bersama Beat.
Di ranah media sosial dan circle ngopi, perdebatan berjalan lebih panas. Misal, debat soal luas bagasi, geser ke bobot. Fitur Scoopy lengkap tapi berat. Beat ringan, tapi miskin fitur.
Saya masih ingat ada satu komentar di konten Iwanbanaran. Katanya gini: Scoopy memikat orang tua, sementara anak muda kelas entry level menyerbu Beat. Saya tidak mau membantahnya.
Tempo sendiri menambahkan bumbu yang jarang orang bahas. Putra Pratama, Kapolsek Tambora 2023, menyebut Beat, Vario, dan Scoopy sebagai tiga model yang paling sering maling incar. Tiga tahun kemudian, Mojok menyebut Scoopy sebagai motor orang FOMO yang lupa bahwa kepopulerannya justru membuatnya pasaran.
Tulisan lain di Mojok berjudul “Honda Scoopy, Motor Bobrok yang Hanya Jual Tampang” “menuduh” Scoopy unggul cuma di branding. Sementara itu, Mojok juga mencatat kesaksian Zira (23), mantan pengguna Beat yang pindah ke Vespa demi gengsi dan menyesal karena Honda Beat lebih murah dan lebih nyaman.
Jadi, antara Honda Beat dan Honda Scoopy, mana yang paling mendingan untuk orang miskin?
Jawaban saya? Honda Beat. Dengan Rp19,155 juta, kamu memperoleh mesin yang sama, bensin lebih irit 9 kilometer per liter, engkol penyelamat di pagi hari, dan sisa Rp3,9 juta yang bisa kamu tabung atau pakai sebagai modal kerja tambahan.
Honda Scoopy hanya unggul kalau kamu menghitung fitur, kenyamanan, resale value, dan pengakuan tongkrongan sebagai kebutuhan pokok. Bagi pekerja bergaji UMK, tiga hal pertama menempel di batas mewah; yang keempat, maaf, cuma kosmetik sosial.
Tapi tunggu. Saya tidak akan berpura-pura Beat sebagai jawaban heroik. Untuk orang yang gajinya mentok di bawah UMK, motor terbaik sebenarnya bukan Beat, bukan juga Scoopy, melainkan motor yang tidak menuntutmu lembur demi membayar cicilan 35 bulan, tidak memaksamu memilih antara ganti oli dan makan enak.
Saya punya jawaban untuk itu, yaitu Honda Revo atau Astrea Grand. Dan di lain artikel saya akan membahasnya.
Nah, kalau kamu masih merasa perlu Scoopy supaya tongkrongan mengakui eksistensimu, kamu tidak sedang membeli kendaraan; kamu sedang membeli terapi.
Sekarang silakan bantah saya. Beat menang di angka, Scoopy menang di rasa, dan kita sama-sama tahu orang miskin selalu kalah di ruang rasa.
Pilih kubu kalian, lalu debatkan di kolom komentar sambil saya duduk manis setelah memarkir Honda Vario yang selalu enak kepada saya HEHEHE.