• 39
    Shares

MOJOK.COTidak hanya target-target kasat mata saja yang harus dijadikan resolusi di tahun 2019. Namun, ada resolusi lain yang harus mulai dibiasakan supaya kita tetap hidup dengan waras yakni: resolusi mental.

Hai Jamaah Mojokiyah! Selamat pagi! Selamat menghadapi hari pertama di tahun 2019! Yeaaay! *suara terompet~

Dengan sisa-sisa hingar bingar lantunan kembang api tadi malam, mari sejenak kita mulai menata tahun yang baru ini menjadi pribadi dengan mental yang sehat. Sungguh, menata kesehatan mental kita adalah sesuatu yang maha penting. Pasalnya, topik tulisan ini memang tentang itu dengan mental yang sehat dan bahagia, kita dapat melakukan aktivitas dengan lebih rileks, tenang, bahkan dapat menciptakan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita.

Misalnya, kita akan mudah merasa bahagia hanya dari hal-hal yang sederhana, seperti merasa sangat kaya raya hanya karena membeli 2 botol bensin eceran secara langsung ataupun merasa beruntung hanya karena es teh di gelas kita terlihat lebih banyak 5 ml daripada milik teman makan kita.

Ya, seperti yang kita tahu: emosi itu menular, Saudara. Oleh karena itu, supaya kita dapat menghadapi tahun yang baru dengan lebih waras, ada beberapa resolusi mental—iya, resolusi mental, bukan revolusi mental. Kalau revolusi mental mah, itu nama programnya pemerintah—yang mulai perlu kita biasakan di tahun ini.

Lantas, apa sajakah resolusi mental itu?

Hal pertama yang perlu kita biasakan di tahun ini adalah cerdas dalam memproses informasi. Kita tentu paham, di zaman digital seperti ini, informasi bisa kita dapatkan dengan jalan yang sungguh sangat mudah. Namun sayangnya, tidak semua informasi yang kita dapatkan tersebut adalah suatu informasi yang menyeluruh dan dapat dipertanggung jawabkan. Banyak dari informasi yang bersliweran di layar smartphone kita adalah info yang hanya sepotong-sepotong dan ngawur.

Kalau kita tak berusaha menjadi manusia yang cerdas dan masih mudah mengiyakan saja informasi yang ada—dengan langsung memberikan like, komen, dan nge-share—tentu ini bakal membuat dunia maya menjadi semakin carut marut dan berisik tanpa isi.

Baca juga:  Kenapa Bilang “Aku Pengin Mati” Padahal Jokes Bunuh Diri Itu Nggak Lucu?

Padahal, di tahun politik seperti ini, ada banyak hal yang perlu kita pertimbangkan dengan matang ketika memproses sebuah informasi. Supaya kita tidak semakin terhanyut dalam nuansa perpecahan yang banyak blundernya, oleh karena itu, diperlukan kecerdasan yang mumpuni, setidaknya jika ada informasi yang baru, kita bisa dengan bijaksana memberikan jeda bagi pikiran kita untuk memprosesnya terlebih dahulu.

Cepat itu memang penting, namun yang terpenting tidak gegabah. (((Gegabah itu, beras yang masih ada kulitnya ya? Hahaha. Hahaha.)))

Kedua, sebagai manusia, kita memang tercipta sebagai makhluk sosial. Namun, jangan pernah melupakan diri kita sebagai individu. Dalam kehidupan sosial, kita memang akan selalu berinteraksi dengan orang lain dan tidak semua interaksi yang terjalin itu selalu membuat diri kita baik-baik saja. Oleh karena itu, mempedulikan orang lain memang perlu. Namun jangan lupa untuk peduli dengan diri kita sendiri. Untuk sayang dengan diri kita sendiri.

Hal pertama yang dapat kita lakukan untuk dapat sayang pada diri kita sendiri adalah dengan belajar jujur pada diri kita. Tentang apa yang kita rasakan, yang kita inginkan, dan kondisi yang ada. Lantas menerima hal tersebut. Dengan sebuah penerimaan yang baik, kita akan mudah untuk mengevaluasi diri dan tahu harus bagaimana melangkah. Sebaliknya, jika kita terus denial dengan kondisi diri kita sendiri, kita tidak akan sulit mengoptimalkan potensi diri.

Selanjutnya, proses menyanyangi diri sendiri ini dapat dilatih dengan mengatakan afirmasi positif pada diri kita sendiri. Afirmasi ini akan mendorong alam bawah sadar kita untuk mempercayai hal-hal yang kita katakana tersebut. Misalnya, mengatakan…

“Saya berharga dan mencintai diri saya apa adanya.”

“Saya memaafkan diri saya dan orang-orang yang telah menyakiti saya di masa lalu dan saya berhak untuk hidup bahagia.”

“Saya akan melewati hari ini dengan sukacita! Meski dia masih belum juga balas WA saya!

Katakan saja satu kalimat dengan konsisten dalam waktu 1-2 bulan. Katakan ini 2-5 kali di depan cermin, setiap harinya. Jika kita sudah memiliki benteng ‘sayang kepada diri sendiri’ yang cukup tangguh, niscaya benturan dari luar yang berusaha mengusik kebahagiaan kita, tidak sanggup untuk menerobosnya. Ciuuuuuu~ *anggap ini bunyi serangan rudal, bukan jenis sebuah minuman.

Ketiga, semoga kita tidak lagi menjadi pribadi yang terlalu mudah men-judge diri sendiri memiliki penyakit mental: hanya dengan bersumber dari Google maupun infografis!!! Lalu, mengamini self-judgement tersebut mentah-mentah. Lantas menjadikan penyakit mental hasil dari sel-judgement tersebut sebagai topeng: segala ketidakmampuan diri kita dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan.

Jika kita memang merasa tidak sedang baik-baik saja, tentu kita tidak akan diam saja dan akan mencari pertolongan. Bukannya justru merasa nyaman dengan topeng tersebut dan ‘ingin berlama-lama dilingkupinya’. Sayang, tidak ada orang yang ingin berada dalam kondisi sakit, sebab tidak ada rasa sakit yang enak untuk dinikmati. Jadi, jika memang hasil dari self-diagnosing kita tidak sedang baik-baik saja, jangan ragu meminta pertolongan pada tenaga ahli ataupun orang yang kamu percayai. Jadi dalam kasus ini, mantan yang sudah pernah selingkuh, bukan termasuk orang dapat dipercaya.

Baca juga:  Mengapa Seseorang Suka dengan Ramalan?

Taraaa~ jadi, itulah tiga hal yang perlu dijadikan resolusi mental dengan dibiasakan sejak di hari pertama tahun ini. Iya, tiga dulu saja, jangan banyak-banyak amat. InsyaAllah jika ketiga hal ini dilakukan dengan istiqamah, dapat membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik, yang sukses mengamalkan Dasa Dharma Pramuka.

Lantas, mengapa tidak lebih banyak lagi saja, resolusi mental yang kudu dibiasakan?

Pasalnya, sesuatu yang terlalu banyak didoktrinkan pada diri kita—apalagi dalam jangka waktu yang terbatas—tidak akan dapat merasuk dengan baik, justru akan sulit untuk betul-betul dapat meresap dengan sempurna. Sama seperti sebuah makanan yang terlalu banyak bumbu, justru terasa ‘sengak’ dan mengurangi kenikmatannya.

Sementara jika kita membicarakan perkara kesehatan mental—jika terlalu banyak—yang ditakutkan justru resolusinya sendiri jadi ‘mental’. Hehe. Hehe. Hehe.

  • 39
    Shares


Loading...



No more articles