Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Profesor Hukum Ditilang Polisi: Tak Seorang pun Mau Dipermalukan di Ruang Publik

Audian Laili oleh Audian Laili
19 Juli 2019
A A
rambu lalu lintas
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seorang profesor hukum tidak terima ditilang oleh polisi lalu lintas. Pasalnya, sebagai seorang profesor hukum, beliau yakin betul tidak melanggar hukum.

Tidak seorang pun mau dan rela dipermalukan begitu saja oleh orang lain. Apalagi jika hal tersebut terjadi di depan umum. Pasalnya, masing-masing manusia punya harga diri yang berusaha dijaga. Dan dipermalukan dapat meruntuhkan harga diri seseorang.

Iklan

Layaknya manusia, kita memang tidak mungkin terhindar dari sebuah kesalahan. Termasuk bersinggungan dengan kritikan-kritikan yang diberikan oleh orang lain. Akan tetapi, haruskah kesalahan dan kritikan seseorang dibeberkan di depan banyak orang sehingga memberikan kesan dipermalukan?

Ada sebuah video yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial yang merekam kemarahan seorang profesor hukum pada polisi lalu lintas. Dalam video berdurasi 1 menit 44 detik tersebut, profesor di dalam video tersebut marah-marah karena merasa telah ditilang tanpa dasar hukum yang kuat. Si profesor menyentil polisi yang tidak tahu hukum padahal berprofesi sebagai penegak hukum.

(VIDEO) https://twitter.com/MafiaWasit/status/1151854537994469376

Sebetulnya, rambu-rambunya sendiri memang cukup membuat bingung. Di rambu bagiatan atas tertera rambu (boleh) putar balik. Lalu di bawahnya, tertulis, “R2 putar kembali ikuti isyarat lampu.” Nah, kalimat ini dianggap jadi ambigu. Antara roda 4 boleh putar balik tanpa isyarat lampu. Ataukah roda 4 nggak boleh putar balik dan yang boleh putar balik hanya roda 2 dan itu pun harus mengikuti isyarat lampu.

Yang kemudian dipertanyakan oleh profesor tersebut adalah keterangan mana yang melarang roda 4 untuk putar balik. Dari rambu tersebut, menurutnya boleh-boleh saja roda 4 putar balik. Namun khusus roda 2 harus mengikuti isyarat lampu.

Terlepas dari rambu-rambu yang dianggap ambigu ini, banyak netizen yang kemudian mengapresiasi keberanian sang profesor. Beliau dianggap berani mendebat tilangan polisi lalu lintas yang sering kali senang menilang dengan asal-asalan. Seolah-olah, keberanian sang profesor yang menjelaskan rambu lalu lintas berdasarkan hukum tersebut memanglah patut ditiru. Sekaligus telah menyuarakan kekesalan masyarakat yang selama ini hanya bisa bersungut-sungut manut saat ditilang. Karena nggak punya “ilmu” yang mumpuni untuk membantah.

Di awal-awal profesor hukum tersebut ngasih tahu polisinya soal rambu yang jadi masalah itu, saya merasa senang-senang saja. Karena memang nyatanya, sangat jarang ada orang yang “berani” membatah dengan tegas ketika sedang ditilang oleh polisi lalu lintas. Apalagi kalau itu terjadi pada saya, yang ada saya justru udah keder duluan dan mending iya-iyain polisinya aja supaya semuanya cepat beres. Akan tetapi, saat profesor tersebut mengulang-ulang identitasnya sebagai seorang profesor hukum. Saya malah jadi kehilangan respek.

Saya sebetulnya salut dengan opini yang disampaikan profesor hukum tersebut. Akan tetapi, saya juga menyayangkan sikap yang ditunjukkannya. Bahkan, malah jadi kasihan sama polisinya.

Maksudnya begini, bolehlah kita membenarkan sesuatu. Tapi, apa iya, harus dengan cara yang mempermalukan orang lain? Saya yakin, tidak ada satu pun orang yang mau dipermalukan. Jangankan berada di posisi orang yang sedang dipermalukan. Melihat orang dipermalukan saja, rasanya sungguh nggak nyaman sama sekali.

Sebetulnya menjelaskan aturan yang benar itu, boleh-boleh saja. Hanya saja, cara yang digunakan kok bikin kurang sreg, ya? Apalagi kalau itu dengan sengaja direkam hingga sampai minta polisinnya menujukkan namanya. Ini kan jadinya, bukannya betul-betul memberikan “edukasi” ke masyarakat, jatuhnya kayak sekadar mempermalukan polisi sang penegak hukum yang dianggap nggak tahu hukum.

Bukankah orang yang berilmu itu harusnya punya etika dan cara penyampaian gagasan yang lebih baik, ya? Ya, kalau memang penilangan yang dilakukan polisinya itu salah. Ngingetinnya nggak harus sambil marah-marah dan memperjelas berulang-ulang kali identitasnya sebagai profesor hukum, kan? Apalagi sambil direkam di depan umum lagi~

Mohon maaf nih, Prof. Bukankah akan lebih bijak kalau misalnya membiarkan proses hukumnya berjalan? Bukankah polisi memang diberikan kewenangan untuk menilang? Kalau memang njenengan merasa tidak melawan hukum dan mematuhi aturan hukum, kan nanti bisa dibuktikan di persidangan. Eh, tapi itu cuma pendapat saya loh. Bisa jadi memang salah. Saya mah tahu apa soal hal-hal yang berurusan sama hukum seperti ini.

Iklan

Tapi, kalau setahu saya. Bagaimanapun juga menegakkan kebenaran tapi dengan sikap yang mempermalukan orang lain, itu sulit untuk dibenarkan, sih. Hehe.

Terakhir diperbarui pada 19 Juli 2019 oleh

Tags: ditilangmempermalukanngerekamPolisiprofesor hukum
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO
Tajuk

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
rkuhap, kuhap, polisi.Mojok.co
Fragmen

Catatan Kritis KUHAP (Baru) yang Melahirkan Polisi Tanpa Rem Hukum, Mengapa Berbahaya bagi Sipil?

19 November 2025
Ortu kuras tabungan buat anak jadi polisi malah kena tipu. Sempat bikin stres tapi kini bersyukur tak jadi sasaran amuk tetangga MOJOK.CO
Ragam

Ortu Kuras Tabungan buat Anak Jadi Polisi malah Kena Tipu “Intel”, Awalnya Stres tapi Kini Bersyukur

6 September 2025
Polisi gelontorkan uang banyak untuk gas air mata yang digunakan dalam demo. MOJOK.CO
Kabar

Saat Duit Rakyat Hanya Dipakai buat Membeli Gas Air Mata Kadaluwarsa oleh Polisi

31 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
MLSC, Yogyakarta.MOJOK.CO

Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal

26 Juni 2026
Transisi salon dari sistem pencatatan buku kucel ke aplikasi praktis MOJOK.CO

Generasi Baru Aplikasi Salon: Penunjang Salon UMKM dengan Harga Masuk Akal, Sistem Mudah, dan Berkesan bagi Pelanggan

30 Juni 2026
Cerita awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal MOJOK.CO

Pulang Kuliah dari Skotlandia Pilih Bisnis Tas Lokal di Indonesia: Buka Lapangan Kerja hingga Terlibat Pemberdayaan Perempuan

29 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.