• 75
    Shares

MOJOK.COJangan sampai sakit hati justru membuat kita memilih untuk menyakiti orang lain. Tidak seperti itu seharusnya jalan yang kita tempuh untuk menyembuhkan luka.

Namanya manusia, pasti dalam hidupnya tidak melulu merasakan kebahagiaan. Ada iri, cemburu, kecewa, sedih, dendam, marah, ragu, malu, ataupun patah. Memang tidak mudah, namun ini adalah fase yang harus dilewati tanpa harus menganggapnya sebagai fenomena yang bombastis-bombastis amat. Toh katanya hidup itu berputar, memang nyata adanya. Pengalaman negatif menjadi salah satu prosesnya.

Perasaan sakit dan merasa sangat tersakiti, sering kali membuat kita menyimpan marah dan dendam. Ada perasaan tidak terima diperlakukan semacam itu. Namun, ada satu prinsip yang harusnya kita ingat baik-baik, jangan sampai perasaan tersebut akhirnya malah membuat kita menyakiti orang lain. Lantas, apa bedanya kita dengan mereka, jika kita sama-sama: menyakiti?

Kita aja nggak merasa senang karena telah tersakiti, eh, kok, kita malah—seolah nggak ada pilihan—jadi menyakiti hati orang lain dengan alasan ingin menyebuhkan luka?

Padahal, itu adalah dua hal yang nggak akan ada juntrungannya. Kita perlu mencukupkan pemikiran bahwa menyakiti hati orang lain sama artinya dengan menyembuhkan luka. Begini ya, Kisanak, saya kasih tahu, itu adalah hal yang berbeda.

Misalnya saja, kita baru saja putus dengan kekasih—yang berhasil membuat hati kita porak poranda dan kehilangan arah. Lantas, kita memilih untuk membakar semua barang-barang pemberiannya, mencari-cari kesalahannya—dengan alasan untuk memantapkan hati kita bahwa dia memang nggak worth it untuk dibersamai lagi, ataupun marah-marah dan mengolok-oloknya di depannya langsung maupun di depan teman-teman kita dan dia. Kita kira itu semua adalah cara paling efektif untuk menyembuhkan luka. Padahal, kita tidak sedang menyembuhkan luka, kita hanya sekadar sedang memuaskan ego kita sendiri.

Coba kita pikirkan baik-baik, misalnya jika kita memang ingin menyembuhkan luka kita, untuk apa kita harus mencari-cari kesalahannya lagi? Atau mencari alasan mengapa dia sampai sejahat dan setega itu kepada kita? Jangan-jangan bukannya kita sedang ingin menyembuhkan luka dan melupakan dia, justru di alam bawah sadar kita diam-diam masih muncul keinginan untuk dapat kembali bersama?

Baca juga:  Tidak Ada Patah Hati Terberat karena Semua Terasa Menyakitkan

Sederhana saja, jika kita memang ingin menyembuhkan luka, tentu kita tidak akan menggali informasi yang bakal terasa lebih menyakitkan. Ya, kalau memang mau sembuh, kenapa kita malah memilih jalan yang menyakitkan?

Selanjutnya, kita pikir dengan membuang semua barang pemberiannya dan menghapus semua foto-foto bersamanya di akun media sosial kita, itu akan membantu untuk menyembuhkan luka. Padahal tidak. Itu tidak akan berdampak apa-apa bagi proses penyembuhan luka kita kecuali hanya memberikan kelegaan sesaat—untuk lampiaskan kemarahan—atau memberi informasi teman-teman kita lainnya, bahwa kini kita sudah tak ada ikatan apa-apa lagi dengannya.

Atau justru kita berpikir dengan menceritakan ke orang lain tentang kisah tragis kita dan bagaimana si mantan berperilaku sehingga membuat kita nampak seburuk ini, akan membantu kita menyembuhkan luka. Padahal tidak. Menceritakan hal-hal tersebut tidak akan membantu kita untuk menyembuhkan luka diri sendiri. Yang ada, justru kita sedang menyakiti hati orang lain—meski dia memang telah menyakiti hati kita. Menyakiti hati orang lain hanyalah menimbulkan dendam pada orang yang kita anggap musuh tersebut dan akhirnya justru memunculkan luka batin. Jelas, ini lagi-lagi tidak akan menyembuhkan luka diri kita sama sekali.

Bagaimanapun juga, hal paling mendasar yang sebaiknya kita lakukan untuk menyembuhkan luka adalah belajar untuk memaafkan diri sendiri. Betul, memaafkan diri kita dan pengalaman yang terjadi sebelumnya bukanlah hal yang mudah dan dapat memakan waktu yang cukup lama. Lantas, proses yang melelahkan ini, ternyata membuat kita semakin mudah menyalahkan diri sendiri karena menganggap diri kita gagal dalam mengambil keputusan di saat permasalahan tersebut terjadi.

Meski proses ini sulit, tidak ada alasan kita menyerah untuk memaafkan diri sendiri. Begini Sayang, memaafkan bukan artinya kita mengalah dan menyerah saja dengan kejadian yang menyakitkan tersebut. Ini adalah sebuah proses kita untuk melepaskan rasa bersalah, rasa benci, tidak nyaman, marah—sampai muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Bagaimanapun juga, perasaan negatif itu akan selalu ada dalam proses hidup kita dan tanpa sadar bakal menggerogoti kesempatan untuk berbahagia. Lantas, apakah kita akan terus-menerus seperti itu jika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi kita?

Baca juga:  Lamaran Kerja Ditolak? Bisa Jadi karena Kamu Terlalu Pintar

Selain itu, memaafkan juga bukanlah menyangkal semua perasaan yang tidak menyenangkan tersebut. Sebaliknya, bukannya menyangkal, sebaiknya kita justru belajar untuk menerima perasaan tersebut. Menerima bahwa proses hidup kita memang tidak sempurna. Kemudian memunculkan pikiran bahwa cara terbaik untuk melanjutkan kehidupan ini adalah dengan mengelola perasaan positif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Namun, bukan artinya kita malah menghilangkan konsekuensi yang harus ditanggung oleh orang lain karena tindakannya. Pilihan kita memaafkan di sini, karena ya, kita memang egois untuk lebih mementingkan kesehatan dan kewarasan kita sendiri. Masalah hati kita dengan dia memang selesai. Namun, konsekuensi hukum, moral di masyarakat, dan karma masih tetap akan berlaku, bukan terhapus begitu saja.

Untuk memaafkan diri sendiri ini, hal pertama yang bisa dilakukan dengan mengenali perasaan apa yang betul-betul kita rasakan dan jujur dengan sesuatu yang kita rasakan tersebut. Lalu, ketika kita sudah mengenalinya, kita tidak patut menjadikan ketidaksempurnaan tersebut sebagai alasan kita untuk mengasihani diri. Inilah kesempatan kita untuk bilang pada diri kita: tidak apa-apa kalau memang kemarin salah langkah, saatnya sekarang memaafkan.

Selanjutnya, kita bisa ungkapkan hal tersebut—di depan cermin misalnya—untuk berbicara dengan diri sendiri dan menguatkan diri kita. Setelah itu, kita belajar untuk kembali tegak dan penuh percaya diri dengan citra positif yang dimiliki dan diyakini. Lalu, memulai beraktivitas untuk mengembangkan potensi yang kita punya, dan memahami bahwa ada banyak kebahagiaan lain yang dapat kita peroleh. Jadi, tak selayaknya kita terus-menerus terjebak dalam sakit hati dan alibi penyembuhan luka yang salah.

Namun, jika kita memang merasa tidak mampu melakukan itu semua sendiri, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan dari tenaga profesional maupun support system yang betul-betul kita percaya.

Pokoknya daripada sibuk-sibuk menyalahkan orang lain karena sakit hati yang kita rasakan. Alangkah lebih baik kita tidak menyalahkan siapa-siapa. Hah? Gimana?