Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Nggak Usah Agresif Jadi Penjual, Biar Nggak Bikin Males Beli

Audian Laili oleh Audian Laili
22 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau ketemu sama penjual yang agresif, bukannya malah tertarik dengan barang dagangannya. Saya justru jadi males beli atau sekadar untuk tanya-tanya.

Setiap toko atau produk, pasti punya caranya masing-masing untuk membuat barang dagangannya laku. Tentu nggak apa-apa, wong itu jadi wewenang mereka, kan? Tetapi, maaf nih, sebetulnya, saya sering merasa kurang nyaman kalau ketemu dengan pramuniaga atau penjual yang sungguh agresif betul. Saya tahu, niat mereka memang untuk mencari perhatian kita, supaya kita ngeh dengan produk yang mereka jual. Sayangnya, sikap mereka ini justru bikin saya jadi males beli bahkan sekadar bertanya-tanya soal produknya.

Misalnya nih, ketika saya lagi ke supermarket dan berniat membeli tisu. Saat sedang menikmati kehikmatan dalam memilih tisu tersebut, ujug-ujug datanglah mbak-mbak sales yang menawarkan promo tisu dari perusahaan tempat ia bekerja.

“Mbak, nggak yang merek ini aja? Ini lagi promo, beli dua gratis dua. Lebih hemat loh, Mbak.” Dan seterusnya, dan seterusnya. Ngerocos bahkan tanpa memberi kesempatan saya untuk menyelenya. Saya betul-betul baru bisa memberikan kalimat penolakan, saat kalimat template nan panjang tersebut berakhir.

Ya, saya memahami kalau itu adalah bentuk usahanya, supaya saya ngeh dengan produknya yang lagi promo itu. Ta… tapi… sungguh cara tersebut cukup menganggu sebuah kekhusyukan memilih produk yang terbaik dengan harga yang paling ekonomis. Tak pahamkah mereka-mereka ini dengan kenikmatan tersebut? Lantas, memilih mengusiknya dengan mempromosikan sebuah produk, yang jelas-jelas, saya juga melihatnya, Maemunah??!?!

Begitu pula dengan para sales kosmetik. Begini ya, Mbak-mbak, sebagai sesama perempuan, tentu sampeyan ini juga paham. Kalau mengamati warna-warna lipstik itu cukup menyenangkan bagi mata. Apalagi kalau berkesempatan untuk menjajal testernya. Tapi, kalau dalam kenyamanan tersebut, tiba-tiba diusik dengan kalimat-kalimat, “Betul, Mbak. Itu warnanya memang lagi hype banget. Banyak yang cari dan sering sold out. Nanti sekalian beli sama yang sepaket dengan blush on dan eye shadow-nya, Mbak. Harganya lebih hemat dan ada bonus pouch-nya, loh.”

Iya, Mbak. Iyaaaa. Saya tahu. Saya bisa bacaaaa. Itu tulisannya udah cukup gede dan sudah cukup jelas. Tolong, Mbak. Tolong… berikan saya sebuah ketenangan untuk memilih sendiri produk yang pengin saya beli. Tolong, Mbak, pahami kenikmatan ini, jangan terus-menerus menginterupsi. Saya jadi semakin males beli, loh~

Oke, interupsi mereka memang cukup menyebalkan. Namun, masih tidak seberapa dibandingkan pramuniaga sebuah toko, yang jelas-jelas meletakkan produk-produknya di etalase dan memberikan kesempatan bagi calon pembelinya untuk memilihnya sendiri. Tetapi, mereka justru merusak suasana dengan mengikuti terus ke mana pun saya pergi.

Ehm, begini, loh, apakah tampilan saya ini tampak seperti maling yang bakal diam-diam nyolong barang dagangannya? Ataukah rupa saya ini kelihatan banget kayak orang yang grusa-grusu dan sering ngerusak barang? Memang betul, beberapa kali saya tidak hati-hati dan merusak barang saya sendiri. Tapi, mohon maaf, nih. Saya juga nggak goblok-goblok amat dan masih punya yang namanya etika serta akal sehat untuk memahami aturan umum, “Merusak berarti membeli”, kok.

Jadi, kenapa harus diikuti? Terus, itu kamera CCTV-nya fungsinya buat apa? Hmmm? Percayalah, sikap yang seolah penginnya selalu ada untuk membantu ini, nggak terlalu membantu juga. Yang ada, malah bikin saya males beli.

Ada lagi toko-toko yang sangat berusaha menarik perhatian dengan menempatkan pramuniaganya di depan toko. Lantas, setiap ada orang lewat akan ditawari, “Mau cari apa, Kakak? Baju? Celana? Jaket? Jilbabnya baru datang dan warnanya masih lengkap, nih. Silahkan, dilihat-lihat dulu~”

Bagi orang semacam saya nih, ketika ditawarin seperti itu, justru bikin saya nggak terlalu tertarik untuk masuk ke tokonya dan melihat-melihat barang dagangannya. Tentu saja, juga bikin males beli. Pasalnya, manuver mereka selanjutnya sudah dapat ditebak. Yakni, akan mengikuti pergerakan kita ke mana pun kita pergi. Menjadikan proses memilih, tidak terasa nyaman sekali. Akan semakin tidak nyaman, kalau sebetulnya kita memang awalnya cuma pengin lihat-lihat dan nggak terlalu berniat beli. Semacam, “Ya, kalau ada bagus dan murah, bolehlah.” Tapi ya, gitu. Kalau ada, loh, ya.

Apalagi, kalau ada toko hape yang berusaha menarik perhatian setiap orang yang lewat dengan gila-gilaan. Misalnya, sampai bikin karyawannya joget-joget di pinggir jalan. Selain itu, ada yang mendapat tugas untuk bagi-bagi brosur ke pengendara yang lewat—yang sering diprotes karena bisa bikin macet. Kalau saya sih—saya loh, ya—bakal ragu-ragu banget buat masuk ke dalam tokonya. Atau mungkin sekadar parkir kendaraan di depan toko. Hmmm, gimana, ya? Takut aja, kalau saya nggak bawa tentengan pas keluar toko, terus dikasih tampang sinis sama orang-orang yang sudah susah payah joget-joget di depan.

Jadi, wahai para atasan, tolonglah dipahami. Strategi penjualan yang hard selling seperti ini, menyisahkan ketidaknyamanan bagi kami-kami yang menjadikan belanja sebagai sebuah kenikmatan tersendiri.

Iklan

Eh, atau memang ini sengaja dibikin nggak nyaman, biar jadi kepaksa beli, ya?

Terakhir diperbarui pada 25 September 2025 oleh

Tags: males belipenjual agresifpramuniagasales
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Cerita Mahasiswa Surabaya yang Kerja Jadi Sales: Jam Kerja Kerap Molor, Uang Lemburnya Nggak Banyak, Job Desc Nggak Jelas (Mojok/Ega Fansuri)
Geliat Warga

Cerita Mahasiswa Surabaya yang Kerja Jadi Sales: Jam Kerja Kerap Molor, Uang Lemburnya Nggak Banyak, Job Desc Nggak Jelas

20 April 2024
fresh graduate jadi sales.MOJOK.CO
Ragam

Fresh Graduate Jadi Sales: Sebulan Bisa Gajian 10x Lipat UMR Jogja tapi Tertekan Terus

19 Desember 2023
Liputan

Membongkar Sindikat Yakult Lady: Sang Ahli Susur Gang-gang Perumahan

17 Mei 2020
Melihat Orang-Orang Bekerja Menjual Kecemasan Masa Depan Ala Bimbel dan Kelas Motivasi
Esai

Melihat Orang-Orang Bekerja Menjual Kecemasan Masa Depan Ala Bimbel dan Kelas Motivasi

24 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.