Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Meski Datang dari Aplikasi, Driver Transportasi Online Bukan Mesin

Audian Laili oleh Audian Laili
28 Februari 2020
A A
MOJOK.CO - Meski Datang dari Aplikasi, Driver Transportasi Online Bukan Mesin

MOJOK.CO - Meski Datang dari Aplikasi, Driver Transportasi Online Bukan Mesin

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Berbasa-basi sama driver transportasi online saat kita menggunakan jasa mereka terkadang memang bikin malas. Apakah ini semata-mata hanya karena “perbedaan kelas”?

“Berangkat ke kantor ya, Mbak?”

“Masih kuliah atau kerja, Mbak?”

Beberapa template pertanyaan yang sering ditanyakan driver transportasi online saat saya menumpang kendaraannya ke tempat yang saya tuju.

Terkadang, saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Terkadang juga tidak, atau lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar. Ada yang saya jawab dengan antusias, ada yang sekenanya, ada pula yang saya jawab dengan singkat dan dingin. Sebuah cara yang saya yakini paling ampuh untuk sekadar menunjukkan bahwa saya sedang tidak ingin diganggu. Saya ingin berdiam diri selama perjalanan ini dengan pikiran-pikiran saya.

Sikap dingin ini bukan sekadar persoalan “kelas”. Akan tetapi, betul-betul keinginan untuk diam saja tanpa perlu berbasa-basi dengan orang asing—yang saya yakin tidak hanya saya rasakan sendiri. Saya ingin diam bukan karena saya merasa sebagai “bos” sebab telah membayar jasa mereka. Percayalah, saya diam karena saya memang hanya ingin diam saja. Diam untuk merenung, melamun, dan memikirkan kembali apa yang telah terjadi atau rencana-rencana yang akan saya lakukan nanti. Semisal, makan mie ayam gerobak biru atau yang gerobak coklat saja?

Mungkin kemudahan teknologi saat ini membuat saya lupa. Bahwa mereka bukan mesin. Para driver transportasi online ini juga manusia yang memang caranya dipertemukan dengan saya melalui “tik-tok” teknologi. Ya, harus diakui saya sering kali lupa.

Saya lupa bahwa mereka juga manusia yang sama-sama punya kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Manusia yang butuh didengar ceritanya. Manusia yang butuh mendengar cerita orang lain untuk menambah wawasannya. Mereka bukan sekadar mesin yang bisa melakukan segala sesuatu secara otomatis. Mereka juga punya akal, perasaan, dan keinginan untuk diperlakukan sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Lantas apa yang terjadi kalau para driver transportasi online ini bertemu dengan banyak klien yang dingin macam saya? Mereka bukan hanya tidak berani berbasa-basi dengan pertanyaan yang harus diakui sering kali terasa sok akrab. Akan tetapi, para driver ini bahkan tidak berani bertanya tepatnya titik yang ingin saya tuju.

Sebaliknya, mereka justru rela ribet-ribet membuka map hanya untuk memastikan apakah kendaraannya sudah berhenti di titik yang saya inginkan? Meski kalau dipikir-pikir, ketika mereka tahu tempat yang saya tuju ini sering saya kunjungi, mereka tinggal menanyakan ke saya titik tepatnya. Akan tetapi, demi rating yang stabil, risiko bertanya-tanya semacam itu lebih baik diminimalisir. Biar nggak dianggap menganggu klien, biar dianggap sebagai driver sangat profesional, dsb, dsb. Padahal, itu sungguh ekspektasi yang berlebihan.

Saya misalnya, pernah menggunakan jasa taksi online menuju travel langganan. Berangkat di waktu yang mepet, pesan taksi online juga mepet-mepet. Eh, tak dinyana ternyata jalanan saat itu macetnya naudzubillah. Jelas, perasaan saya jadi tidak baik-baik saja. Saya pengin segera sampai tempat travel supaya nggak ketinggalan, tapi mau diusahakan macam apa pun kendaraan yang saya tumpangi ini hanya mentok sanggup melaju di angka 30 km/jam.

Rasa bete saya kali itu berimbas ke driver yang tanya, “Biasanya lewat mana, Kak?” dan hanya mendapat jawaban, “Lewat mana aja, Pak yang penting nggak macet dan cepet sampai.”

Ya, sebuah jawaban yang sama sekali nggak menjawab apa-apa. Seolah-olah driver ini kalau tidak diingatkan akan mengajak saya masuk ke jalur kemacetan supaya lebih lama bersama. Padahal mah. Kalau bisa memilih, siapa juga yang mau berlama-lama berjibaku dengan jalanan sumpek penuh asap?

Saya kesal karena kemungkinan besar saya akan tertinggal. Lantas saya meletakkan tanggung jawab besar pada driver supaya bisa menemukan jalan yang paling efisien. Padahal dari awal saya yang memang bersiap terlalu lama dan berangkat dengan tergesa-gesa.

Iklan

Ah, memang dasar saya yang dingin dan egois. Siapa tahu kalau sebetulnya kami sama-sama lelah, sama-sama letih, dan justru butuh mengobrol sebagai orang asing atau sebagai sesama manusia untuk saling mengusap peluh dan menguatkan? Siapa tahu, justru dari sana banyak informasi yang didapat, ada jaringan pertemanan yang diperluas, dan bisa jadi tabungan rezeki bagi kami di suatu saat?

Namun lagi-lagi, cara bertemu melalui sebuah aplikasi terkadang membuat kita lupa bahwa para driver transportasi online ini juga manusia. Mereka bukan tool yang bisa kita “atur” semau kita. Bukan mesin yang bisa disuruh-suruh sedemikian rupa hanya karena kita punya kewenangan untuk “menilainya”.

Tapi, yah, kadang masalahnya memang cuma satu sih: mau apa pun kalimat tanya dari driver, yang terdengar di kuping kita cuma “Ahksgwgwhwyshwgsy?” Terutama kalau kita numpangnya ojek online.

BACA JUGA Simalakama Driver Gojek Sebagai Mitra Perusahaan dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 28 Februari 2020 oleh

Tags: basa-basidriver transportasi onlineojek onlinerating
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO
Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
Menormalisasi memberi bintang 5 ke driveri ojek online (ojol) meski tidak memuaskan. Bintang 1 bikin rezeki mereka seret MOJOK.CO
Catatan

Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga

2 Mei 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Jadi ojol di Malang disuruh nyekar ke Makam Londo Sukun. MOJOK.CO
Liputan

Driver Ojol di Malang Pertama Kali Dapat Pesanan Bersihin Makam dan Nyekar di Pusara Orang Kristen, Doa Pakai Al-Fatihah

16 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback di Moto3, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

17 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.