MOJOK.COSeorang perempuan bercerita soal teman-teman gaulnya yang sering menyindirnya karena pakai jilbab syari.

TANYA

Dear Mojok…

Saya Maisyaroh, mau curhat nih. Jadi,  saya hidup di kota dengan pergaulan yang lumayan bebas. Karena terbawa oleh teman, saya pun ikut keluar hingga larut malem. Akhirnya sampai rumah kena omel deh sama ayah bunda.

Jujur, keluarga saya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Jadi, walaupun saya sedikit nakal dan sering keluar malem, tapi saya tetap pakai jilbab syari kebesaran saya. Total ada lima teman cewek sepergaulan saya dan mereka semua  beragama Islam. Namun, di antara teman-teman saya tadi, cuma saya sendiri yang pakai jilbab.

Akhirnya, saya pun disindir oleh mereka. Katanya saya itu sok alim lah, sok suci lah, dan sok-sok yang lain. Padahal kalau menurut ayah dan bunda, jilbab itu penting untuk melindungi perempuan dari fitnah laki-laki yang suka gombal. Dalam ajaran Islam pun jelas anjuran memakainya.

Lantas hal itu membuat saya bimbang, satu sisi ketika saya melepas jilbab maka ayah dan bunda akan marah karena anaknya tidak lagi mematuhi petuah orang tua. Namun, di sisi yang lain temen saya semuanya tidak pakai jilbab, bahkan jilbab bagi mereka adalah bahan kuno yang menghalangi penampilan cantik mereka.

Untuk itu, saya minta saran dari Mojok. Apakah saya harus melepas jilbab saya atau tidak? Kemudian kalau misalnya saya tetap dengan jilbab saya apakah saya perlu mencari teman baru?

Baca juga:  Pentingnya Tidak Menjadi Mahasiswa Baru yang Polos

JAWAB

Hai Maisyaroh. Sebetulnya ini adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Namun, semoga jawaban dari kami ini dapat sedikit membantu kegelisahan sampeyan.

Begini, Mai. Menurut saya, di luar kewajiban seorang perempuan muslim, memutuskan pakai jilbab adalah sebuah urusan personal. Tidak salah orang tua sampeyan mengatur-atur sampeyan untuk pakai jilbab. Sampeyan yang dibesarkan dengan nilai keislaman tentu paham kalau pakai jilbab adalah anjuran bagi perempuan. Jadi, yhaaa, gituuu~

Saya tidak ingin mengomentari soal keputusan sampeyan sebelumnya yang tetap pakai jilbab meskipun memiliki pergaulan yang lumayan bebas. Bagi saya, itu urusan sampeyan. Akan tetapi, yang kurang saya pahami, kenapa teman-teman sampeyan itu ngatur-ngatur dan menganggap sampeyan sok suci atau sok alim dengan jilbab yang sampeyan kenakan? Bukankah soal pakaian yang sampeyan kenakan dan pengin bergaul sama siapa, itu bukan menjadi hak mereka untuk berkomentar?

Mohon maaf nih, mereka ini siapa? Mereka kan hanya orang-orang baru di hidup sampeyan yang sok punya kuasa atas diri sampeyan? Mereka bukan siapa-siapa, Mai. Cuma teman gaul doang, bahkan ngasih makan sampeyan aja nggak, kan? Jadi, untuk apa sampeyan harus bergantung dengan kata-kata mereka yang itu berlainan dengan ketetapan hati sampeyan sendiri?

Teman model gini, sepertinya memang nggak bisa hidup tanpa ikut campur ngatur-ngatur urusan personal orang lain. Mereka adalah orang-orang yang dengan nggak tahu dirinya ngurusin persoalan orang lain. Setelah itu berharap orang-orang di sekitarnya bisa berbuat sesuai dengan kemauannya. Padahal, mah, siapa dia?

Baca juga:  Kos Muslim dan Kecurigaan Kita untuk Bisa Hidup Berdampingan

Saya yakin sampeyan pasti tahu betul mana yang lebih worth it untuk sampeyan pertahankan. Kalau soal “pakaian” saja sampeyan sudah diatur-atur, bagaimana soal yang lain nanti? Boleh-boleh saja mereka menganggap kalau jilbab ini kuno dan menghalangi penampilan cantik mereka. Akan tetapi, mereka nggak berhak mengatur-ngatur sampeyan untuk menanggalkan jilbab syari kebesaran sampeyan juga, kan?

Orang yang suka ngatur-ngatur hidup orang, jelas punya ego yang tinggi. Jadi, nggak perlulah sampeyan capek-capek beradu argumen dengan mereka. Mereka ini hanya hobi didengarkan tapi nggak mau mendengarkan. Jadi, kalau memang sampeyan nggak sreg dengan apa-kata-mereka, yaudah tolak aja dengan tenang. Lalu bilang kalau, “Aku tahu apa yang aku butuh dan mau. Jadi, nggak perlu sok tahu.”

Semoga sampeyan berani untuk memantapkan diri, ya, Mai~

Udah ya, gitu aja, ya. Kalau belum puas sama jawabannya, tanya ke siapa gitu. Wqwq.



Loading...



No more articles