Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pentingnya Tidak Menjadi Mahasiswa Baru yang Polos

Mahasiswa baru haru kuat, bakoh, dan tetap berdiri walau diterpa angin senioritas.

Audian Laili oleh Audian Laili
8 September 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menjadi mahasiswa baru, berarti juga penuh dengan pengalaman baru. Yang sering membuat takut untuk melangkah dan akhirnya memilih menjadi biasa-biasa saja, atau polos lebih tepatnya. Namun, apakah menjadi mahasiswa yang polos situ tidak apa-apa?

Menjadi seorang mahasiswa baru memang sulit-sulit gampang. Sering kali apa yang dilakukan semacam menjadi simalakama. Serbasalah. Niatnya seperti ini, eh dikiranya seperti itu. Apalagi kalau sudah berurusan dengan kakak tingkat, sosok yang sering kali merasa tau segalanya. Walau memang mereka lebih berpengalaman, tapi bukan berarti tidak dapat salah. Namun biasanya, mereka akan menjadi seseorang yang sok tahu lalu mendominasi dan maunya menang sendiri.

Iklan

Lingkungan yang seperti itu, sering kali membuat kita sebagai mahasiswa baru mudah merasa takut. Takut apa? Takut kalau ternyata apa yang kita lakukan itu salah. Nggak bener. Akhirnya, memilih menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. yang manut sesuai dengan peraturan yang ada.

Wah, wah. Nggak bisa kayak gitu juga sih. Maka kali ini, Mojok Institute akan memberikan beberapa saran, agar teman-teman mahasiswa baru sekalian, menjadi mahasiswa yang nggak polos-polos amat. Karena apa? Karena yang belang memang lebih enak. Hadeh, apa sih. Gitu lah ya, pokoknya. Oke, lets see~

1. Berani menggunakan jatah bolos dengan baik dan benar

Menjadi seorang mahasiswa yang rajin memang sebuah kebanggaan dosen dan orang tua. Apalagi kalau tidak hanya rajin masuk, namun juga dapat masuk kuliah dengan on time. Daftar kehadiran di akhir semester pun terpampang nyata, 100%. Uwiihhh, pasti kamu bakal jadi andalan banget nih buat temen-temen lain yang sering bolos.

Tapi, Beb. Btw, kalau saran dari kami, jangan terlalu rajin sewaktu jadi mahasiswa. Memang masuk kuliah adalah kewajiban kamu sebagai mahasiswa. Tapi yang sangat perlu kamu ingat, bahwa kamu juga punya jatah bolos. Iya. Kamu punya jatah bolos yang bisa kamu manfaatkan sebaik-baiknya. Jadi jangan kamu sia-siakan kesempatan ini.

Jam kuliah yang kamu bolongi itu, bisa kamu gunakan untuk nonton drama korea atau masuk ke kelasnya gebetan kamu. Hadeee, mau bolos aja tetep gantinya ikutan kelas lain~

2. Tidak mudah dimanfaatkan oleh kakak tingkat

Seperti yang sedikit disinggung di atas, bahwa kakak tingkat itu tidak seluruhnya benar. Jangan terlalu polos menjadi orang dengan mengamini semua kata-katanya. Mereka juga manusia seperti kita, yang bisa salah.

Ingat hal ini, jika nanti takdir menempatkan kamu berada dalam satu kelompok dengan kakak tingkat, jangan mau dimanfaatin. Jangan sampai tugas yang katanya dikerjakan berkelompok itu, hanya dikerjakan oleh segelintir orang. Lalu si kakak tingkat ini menjadi diantara yang mengerjakan sekenanya atau bahkan tidak mengerjakan apa-apa. Jangan sampai dia cuma berleha-leha lalu setor muka dan nama. Dia juga punya hak dan kewajiban yang sama dengan kamu, Beb. Please, jangan manutan jadi manusia.

3. Tidak merasa takut pakai baju yang sama berturut-turut

Menjadi mahasiswa merupakan kondisi di mana kamu tidak perlu memakai seragam lagi.  Ini adalah kesempatan untukmu bisa mengenakan baju yang kamu banget. Asalkan tetap dalam koridor rapi dan sopan seperti yang disyaratkan. Tapi terkadang kebebasan ini, justru membuat bingung. Bingung enaknya pakai baju yang mana, kemudian takut kalau harus pakai baju yang sama selama berturut-turut. Akibatnya, baju numpuk di gantungan kos. Pasalnya, baju tersebut cuma dipakai sekali, masih belum layak untuk masuk laundry.

Padahal, Beb. Sebenarnya nggak ada yang peduli juga, kalau kamu pakai baju yang sama dua atau tiga hari berturut-turut. Kalau pun ada teman-temanmu yang sok-sokan sosialita itu ngeh dan berkometar. Terus apa? Kamu takut dihempas dari pergaulan yang cuma ngelihat penampilan? Jadi cuek aja deh. Nggak ada kok aturan di kampus yang melarang pakai baju yang sama berturut-turut. Mana kalau ada? Sini deh kirimin buktinya ke Mojok.

4. Tidak mudah terbawa aliran sesat atau pergaulan bebas.

Selama kuliah, jangan sampai kamu menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Yang temenan sama yang itu-itu saja. Kamu harus bergaul dengan siapa saja. Perluas pergaulanmu itu. Ini sangat penting, Beb. Dengan menjalin koneksi serta berjejaring sosial, maka kamu akan menjadi seseorang yang nggak cupu-cupu banget. Pengetahuanmu pun akan meluas.

Akibatnya? Kamu nggak akan mudah dicawe-cawe untuk ikutan aliran-aliran sesat atau pergaulan bebas. Kamu tidak akan mudah didoktrin yang aneh-aneh. Pasalnya, dengan pemikiran yang luas, lalu ada yang ngajakin kamu aktivitas agak aneh, pasti kamu bakal punya pikiran, “Apakah jalan yang kutempuh ini benar?” Pokoknya kamu tidak akan mudah terjebak, Beb.

5. Ada yang datang ke sidang atau wisudamu

Sebenarnya, poin nomor 5 ini hampir sama dengan poin no 4. Tapi karena beda manfaatnya, jadi kami memutuskan untuk dipisahkan saja. Biar pas 5, karena nomor ganjil terasa lebih yahud. Oke lanjut. Btw, ada lagi manfaat untuk tidak menjadi mahasiswa yang terlalu polos dengan memperluas pergaulan. Kamu bisa menunjukkan eksistensimu. Setidaknya dengan pergaulanmu yang luas, kamu bisa mengenal orang-orang seantero kampus –setidaknya fakultas– dari satpam hingga dosen. Dari mahasiswa yang suka naik gunung hingga yang suka kajian di masjid. Dampaknya, ketika kamu sidang dan wisuda, maka ada orang yang akan menghampiri kamu. Memberikan selamat, foto bareng, eh siapa tahu sekalian hadiahnya juga. Sungguh, ini sebuah pencapaian yang bakal membuatmu terharu. Di situlah kariermu dalam berjejaring nampak. Kamu dikenal.

Jadi, apakah kamu tetap memilih menjadi mahasiswa polos? Dengan segala manfaat yang dapat kamu peroleh kalau kamu nggak jadi mahasiswa yang polos-polos amat?

BACA JUGA Merencanakan Selebrasi, padahal Ngajuin Judul Skripsi Saja Belum. Kebiasaan! dan artikel Audian Laili lainnya

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2021 oleh

Tags: aliran sesatbajuboloskakak tingkatMahasiswamahasiswa barupergaulan bebassidangwisuda
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Tinggal di kos dekat kampus niat cari kemudahan di awal menjadi mahasiswa baru (maba), malah jadi pemicu konflik sosial yang merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Kos Dekat Kampus Memang Beri Kemudahan, Tapi Jadi Pemicu Rangkaian Konflik Sosial yang Merepotkan Diri Sendiri

10 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.