Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pola Percintaan Perwira Muda di Lingkungan TNI

Aris Santoso oleh Aris Santoso
19 April 2020
A A
percintaan pernikahan jodoh anggota tni tamtama bintara perwira andika perkasa menantu jenderal akmil secapa kowad mojok.co

percintaan pernikahan jodoh anggota tni tamtama bintara perwira andika perkasa menantu jenderal akmil secapa kowad mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pesan moral tulisan ini: jangan sampai deh ngerasain jadi panitia saat jenderal mantu perwira. Hehehe.

Ada ujaran Betawi yang sudah dikenal luas, “Kalo emang udeh jodo nggak bakal ke mane.” Ungkapan sederhana dan merakyat ini tidak bisa serta-merta dijalankan di lingkungan militer, mengingat dalam jajaran TNI ada semacam pembagian “kelas”, mirip-mirip dengan konsep kasta, dan itu sudah disepakati bersama. Bagi masyarakat awam, pembagian strata atau golongan bisa jadi adalah sesuatu yang menekan, namun bagi anggota TNI dianggap biasa saja.

Dalam militer kita dikenal tiga lapisan berdasar kepangkatan, mulai dari yang paling rendah sampai tertinggi: tamtama, bintara, dan perwira. Selain prospek karier dan kesejahteraan yang berbeda, pembagian strata seperti ini juga berdampak pada perjodohan. Soal perjodohan diatur sangat ketat dalam militer, terlebih bila ingin menikah dengan sesama anggota TNI. Peraturan dimaksud berbunyi, pangkat istri tidak boleh lebih tinggi dari suami.

Korps wanita dalam TNI (Kowad, Kowal, dan Wara) hanya ada dalam strata bintara dan perwira. Oleh sebab itu seorang anggota Kowad misalnya, dengan pangkat bintara, sudah jelas dilarang oleh institusi bila ingin menikah dengan tentara berpangkat kopral (tamtama), seberapa pun besar asmara yang berkobar di antara keduanya. Jalan tengah yang mungkin bisa ditempuh bila ingin berlanjut ke pernikahan, salah satu pihak harus mengundurkan diri. Dari pengamatan selama ini, umumnya sang pria yang mundur alias minta pensiun dini. Selain pangkat lebih rendah, bagi seorang pria (terlebih pensiunan tentara), ruang untuk mencari pekerjaan lain masih lebih terbuka, semisal menjadi tenaga keamanan pusat hiburan.

Tapi pernikahan antara tamtama pria dan bintara wanita sangat jarang terjadi, yang lebih umum adalah pernikahan sesama bintara, atau lebih manis lagi, antara bintara wanita dan perwira pria. Bila sesama bintara, sebisa mungkin karier istri jangan sampai melampaui karier suami. Sang istri harus rela “membuang” kesempatan masuk secapa (sekolah calon perwira) bila prospek suami terlihat agak suram.

Membicarakan soal asmara atau perjodohan di kalangan tentara, tentu yang paling menarik perhatian adalah kisah di kalangan perwira muda, mereka yang baru lulus dari Akmil. Tentu saja, karena perwira adalah calon pimpinan masa depan, baik pada institusi militer sendiri, maupun bila ditempatkan pada birokrasi sipil. Karena prospek cerah seperti itulah, banyak orang tua mendamba bermenantukan seorang perwira (utamanya lulusan Akmil), kemudian anak gadisnya bercita-cita sama pula, yang penting berjuang dulu, berhasil atau tidak itu soal nanti.

Dengan melihat figur elite TNI hari ini, sebenarnya kita sudah bisa membaca bagaimana tren perjodohan di kalangan perwira. Dua figur yang bisa disebut adalah KSAD saat ini, Jenderal Andika Perkasa, dan Mayjen Maruli Simanjuntak, Komandan Paspampres. Kedua jenderal ini adalah menantu dari orang kuat Istana, yang kebeneran juga mantan jenderal, yakni A.M. Hendropriyono (mertua Andika) dan Luhut Binsar Panjaitan (mertua Maruli). Ada sedikit informasi dari Brigjen (Purn.) Slamet Singgih (Akmil 1965) dalam biografinya bahwa dialah yang menjadi (semacam) mak comblang antara Andika dan putri Hendropriyono dulu.

Dari pengamatan selama ini, hubungan asmara antara seorang perwira muda (umumnya masih berpangkat letnan) dengan putri jenderal, termasuk elite sipil (jabatan setingkat menteri), prosesnya relatif cepat, bila diukur masa sejak perkenalan sampai resepsi pernikahan di gedung megah. Itu bisa terjadi karena perwira muda umumnya memang ingin menikah dengan putri pembesar negeri sebagai salah satu cara membantu kariernya di militer kelak.

Kalau kita ingat kembali ujaran Betawi di atas, mestinya jodoh adalah sesuatu yang alamiah. Namun, logika semacam ini tidak bisa berlaku sepenuhnya bagi perwira muda, karena dia melakukan “rekayasa” asmara, agar sebisa mungkin berjodoh dengan anak pembesar. Karena perwira muda lebih memilih anak jenderal atau petinggi negeri, itu sebabnya jarang terjadi pernikahan antara perwira (lulusan Akmil) dengan anggota Kowad karena anak jenderal atau pejabat umumnya enggan menjadi Kowad. Memang ada pernikahan itu (perwira dengan Kowad), tapi jumlahnya tidak signifikan.

Kiasan itu juga menjadi tidak relevan karena kekasih perwira muda sejak masih taruna biasanya lebih dari satu. Hal ini bisa terjadi dalam kisah kasih taruna atau perwira muda karena biasanya ada pihak perempuan yang lebih aktif, atau istilah gaulnya, si perempuan nembak duluan, termasuk dalam kisah asmara Andika.

Semoga ilustrasi berikut dapat membantu. Bagi perwira muda yang akan menikah dengan anak pembesar, “kesibukan” terjadi kira-kira sebulan sebelum Hari-H. Kalau soal resepsi tentu tidak ada masalah, karena sudah ada panitia khusus yang akan mengurusnya, biasanya anak buah calon mertua si perwira juga yang sibuk. “Kesibukan” yang dimaksud adalah terkait asmara (lain hati) dari perwira muda, dia harus segera mengadakan safari “PHK cinta” untuk meredam atau menetralisir hati kekasihnya yang lain, jangan sampai timbul gejolak, sehingga dia bisa maju ke pelaminan dengan tenang. Mereka adalah kekasih yang mungkin sudah terjalin sejak masa remaja, yang harus rela mengalah untuk memberi jalan bagi putri jenderal.

Cerita berikut sayang untuk dilewatkan karena saya mendengarnya secara langsung dari pelaku. Bila seorang jenderal akan mantu, adalah sesuatu yang jamak bila sang jenderal mengerahkan anak buahnya sebagai bagian dari panitia, demi suksesnya acara. Kemudian bila calon menantunya adalah seorang perwira, kolega calon menantu di kantor, termasuk teman seangkatan di Akmil, juga ikut sibuk. Di sini kita telah melihat tumpang tindih antara urusan dinas dan pribadi, namun karena yang melakukan adalah jenderal, warga kelas satu dalam masyarakat kita, tidak ada yang mempersoalkan dari waktu ke waktu.

Dan jangan dikira para anak buah jenderal itu menjalankan tugas jadi panitia itu dengan sepenuh hati. Itu semua tergantung bagaimana track record sang jenderal dan perwira yang menjadi calon menantunya. Singkatnya, bagaimana tingkat kemurahan hati yang punya hajat, dermawan atau tidak. Secara pukul rata semua jenderal adalah orang berada, tapi ada yang suka berderma, ada yang kurang alias kikir. Nah, kalau dapet yang kikir ini, para anak buah jadi rada ngedumel. Memang semua dikerjakan karena merasa nggak enak hati. Apalagi kalau perangai calon menantunya dianggap rada tengil, waduh, wis pecah ndase….

BACA JUGA Naik Pangkat Berjamaah di Tengah Wabah: Semua Ingin Menjadi Jenderal dan esai Aris Santoso lainnya.

Terakhir diperbarui pada 19 April 2020 oleh

Tags: pacaranpercintaanpernikahanperwiraTNI
Aris Santoso

Aris Santoso

Pengamat militer

Artikel Terkait

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO
Ragam

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.