MOJOK.COFrasa “main lari-lari” di lirik lagu “Aisyah Istri Rasulullah” dinilai tidak pantas. Padahal kan emang ada riwayatnya?

Menjadi pelantun lagu religi hits jelang Ramadan adalah jaminan populer. Yaaah, selain ikut ajang pencarian bakat tentu saja. Tanyakan pada Bimbo, Ungu, Maher Zain dan Sabyan jika kamu tak percaya.

Nah, secara kebetulan, tahun ini sepertinya yang kejatuhan bintangnya adalah lagu “Aisyah Istri Rasulullah”. Mau siapapun penyanyinya, pasti langsung viral. Bahkan beberapa orang merasa terserang earworm, karena emang—asli—lagunya easy listening dan liriknya ringan, meski… memancing kontroversi.

Saya katakan memancing kontroversi, karena menurut saya rakyat +62 itu emang doyan terpancing sama keributan. Yah, itung-itung demi melestarikan kearifan lokal dalam wujud budaya debat di sosial media. Mungkin karena selain gabut, netizen juga udah capek dengan perdebatan boleh salat jumat atau tidak di situasi saat ini.

Padahal, sebagai sama-sama orang yang terpelajar, kita harusnya adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Begitu petuah Mbah Pramoedya Ananta Toer. Pertanyaannya, sudahkah kita adil sejak dalam pikiran sebelum protes ke lagu “Aisyah Istri Rasulullah” ini?

Kalau kamu mau memerhatikan lirik lagu ini seperti saya, kamu pasti juga bisa melihat bahwa hampir di setiap bait dari lirik “Aisyah Istri Rasulullah” ini ada riwayat haditsnya.

Mulai dari warna kulit yang putih bersih dan wajahnya yang kemerah-merahan, garis keturunannya yang merupakan putri sahabat Abu Bakar, kisah Nabi minum dari bekas bibir beliau, sampai momen tutup usia Nabi didampingi beliau.

Baca juga:  Tragedi Azan Subuh

Nah, dari yang saya dapati dari perdebatan di sosial media, yang banyak menuai protes adalah bagian lirik “…dengan baginda kau pernah main lari-lari.”

Frasa “main lari-lari” dinilai tidak pantas untuk pasangan mulia ini. Padahal, yang diriwayatkan dalam hadis adalah Nabi pernah mengajak istrinya berlomba lari demi menyenangkan hati istrinya.

Saya menduga orang yang protes baginda Nabi main lari-lari dengan istrinya ini terlalu banyak nonton film india. Wajar kalau otaknya jadi refleks membayangkan adegan Shah Rukh Khan mengejar Aiswarya Rai Bachchan dalam film Mohabbatein.

Oh, jadi maksudnya lomba lari? Bukan lari-larian genit kayak film india itu? Kenapa liriknya nggak dibikin… “dengan baginda kau pernah lomba lari-lari” aja? Biar jelas maksudnya gitu.

Ya, saya nggak tahu kenapa liriknya begitu. Mending tanya aja langsung sama penulisnya yang orang Malaysia itu. Oh iya, kalau kamu mau protes, sekalian saya titip protes kenapa push up alihbahasakan jadi perkosa bumi? Kenapa gitu? Penasaran aja.

Nah, selain protes soal lirik “lari-larian” itu, ada juga yang yang tidak terima lagu ini menceritakan gambaran fisik Aisyah. Berimajinasi kalau Rasul akan tersinggung kecantikan istrinya dilagukan. Sampai menarik batas, lagu “Aisyah Istri Rasulullah” hanya pantas dinyanyikan perempuan dan tidak pantas dinyanyikan kaum Adam. Mampos kau dikoyak-koyak lirik lagu!!!

Seketika saya tampil terdepan menjadi orator.

Baca juga:  Menelan Mentah-Mentah Sunah Rasul Bisa Bikin Salah Kaprah

Sejak kapan ada lagu bias gender heh? Awas aja kalau sampai ditegur aktivis feminis. Kami para lelaki juga menuntut kesetaraan!

Kami juga ingin bebas menyanyikan lagu ini. Bukankah Aisyah bergelar “Ummahatul Mu’miniin” (ibunya orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan)? Bukan “Ummahaatul Mu’minaat” (ibu orang beriman bagi perempuan saja)?

Lalu apa salahnya kami, laki-laki (yang merasa) beriman memuji kecantikan ibunda kami sendiri? Ini sudah melanggar hak asasi anak! Halo, halo, Kak Seto? Halo, UNICEF?

Padahal ya, sebagai seorang suami yang serba-biasa, mendengarkan lagu ini seperti mendengarkan nasehat pernikahan dengan cara yang lebih menyenangkan, rileks, dan santuy. Jadi, meski judulnya adalah “Aisyah”, yang banyak diceritakan dalam lagu ini sebenarnya justru cara Nabi mencintai istrinya.

Perlakuan Nabi kepada istrinya mengesankan bahwa hal pertama yang harus dipahami seorang suami adalah tanda-tanda vital emosi istrinya sendiri.

Tahu kapan harus bermanja, sadar kapan harus berinisiatif menghibur pakai lari-lari, atau tanggap kapan jurus gombal harus digunakan ke istri. Dan jelas, itu semua jadi pelajaran terbaik bagi kami, para suami di seluruh penjuru bumi.

BACA JUGA Yang Tidak Dinyanyikan dalam Lagu Aisyah Istri Rasulullah atau tulisan rubrik ESAI lainnya.