MOJOK.COKasihan betul Ibu Sri Mulyani, Bupati Klaten, yang kena buli sana-sini. Ini pasti konspirasi tingkat paling tinggi untuk level Kabupaten Klaten.

Tak ada yang lebih tabah dari Sri Mulyani, Bupati Klaten yang lagi jadi bahan ghibah se-Indonesia Raya.

Ketabahan Sri Mulyani, Bupati Klaten, bukan karena belakangan ini blio jadi sorotan media massa atas tuduhan conflict of interest setelah menempelkan stiker dirinya pada hand sanitizer yang berasal dari bantauan Kementerian Sosial. Juga bukan karena foto-fotonya yang tersebar di buku-buku pelajaran sekolah dan dituduh pencitraan.

Melainkan, ketabahannya adalah karena blio masih saja teguh bertahan dari busuknya konspirasi yang berusaha menjatuhkan martabatnya sebagai bupati yang peduli dengan nasib rakyatnya.

Tentu saja, semua hal yang dialami oleh Bupati Klaten bukan kesengajaan, melainkan di belakangnya bekerja teori konspirasi yang telah lama menancap di bumi Klaten. Kamu boleh tak percaya, tapi tak apa, saya tetep akan jelaskan. Udah kadung kamu baca sampai sini juga soalnya. Nanggung.

Kamu perlu tahu bahwa sebelum Sri Mulyani menjadi bupati Klaten, blio adalah wakil dari Sri Hartini yang terkena kasus korupsi dan dijatuhi vonis 11 tahun penjara.

Nah, Sri Hartini sebelumnya adalah wakil dari Sunarna yang merupakan Bupati Klaten sekaligus suami dari Sri Mulyani yang kini adalah bupati. Ruwet ya?

Mudahnya gini. Di Klaten hanya ada dua keluarga yang menjadi kepala daerah, yakni HAHA-SUMUL (Haryanto dan Hartini, Sunarna dan Mulyani). Dua keluarga ini bergantian menjadi bupati sejak Pemilukada Pertama 2000 hingga 2015 di mana kini Sri Mulyani masih jadi bupati.

Di titik inilah mulai muncul kecemburuan dari berbagai pihak yang tidak senang dengan langgengnya politik kekeluargaan di Klaten. Padahal, kedua pasangan suami-istri ini, jelas-jelas adalah kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat secara konstitusional. Udah gitu keluarga lagi. Sesuai dengan kearifan lokal: “Apa-apa diselesaikan dengan cara kekeluargaan.”

Selain itu, terpilihnya dua keluarga ini sejak 2000 menunjukkan bahwa kapasitas mereka sebagai pemimpin sungguh luar biasa dipercayai oleh rakyat, sehingga bila perlu kursi kepala daerah di Klaten harus diberikan kepada anak-cucu dari dua keluarga ini saja.

Nah, naiknya pamor dan citra keluarga HAHA-SUMUL, sudah pasti menimbulkan kecemburuan sosial. Di sini hal yang kemudian bukan tak mungkin melahirkan konspirasi global untuk menghancurkan hasil kerja keras HAHA-SUMUL.

Terbukti, pada saat Hartini (Bupati Klaten sebelum Sri Mulyani) menjalani sidang tindak pidana korupsi atas kasus jual-beli jabatan, blio dengan jujur berkata bahwa sebenarnya ada konspirasi yang berusaha menjatuhkannya dari kursi kepala daerah dengan menjebaknya ikut dalam agenda penyuapan yang ada di pemerintahan Klaten.

Baca juga:  Sri Mulyani Pastikan PNS Tetap Dapat THR dan Gaji Ke-13

Jadi sebenarnya, kalau dipahami secara jernih, korupsi yang dilakukan oleh Hartini bukan karena blio ingin merampas uang yang bukan haknya, melainkan karena ada konspirasi yang bermain dalam struktur pemerintahan di Klaten. Hal yang kemudian bikin Hartini jadi kelihatan seolah-olah korupsi.

Begitu juga yang dialami Sri Mulyani. Serangan bertubi-tubi kepadanya benar-benar bikin dada saya sesak. Oleh karena itu, di sini saya akan berusaha membongkar konspirasi jahat yang menimpa Bupati Klaten demi menegaskan kembali betapa besar kepeduliannya terhadap rakyat miskin

Pertama, kita harus sadar bahwa pada musim pilkada gini, banyak aktor gelap yang berusaha keras menggeser citra Bupati Klaten dengan mengembuskan berbagai isu jahat. Dan salah satu hal yang bisa digunakan untuk menggerus elektabilitas beliau adalah ini: kekeringan di Klaten.

Kalau kamu ingat-ingat tentang Klaten bersinar, berita tentang kekeringan mulai identik dengan kota ini.

Padahal, memang iya terjadi kekeringan, tapi bukan karena dinasti HAHA-SUMUL bersikeras mengizinkan beroperasinya perusahan air kemasan di sana (walau didemo oleh masyarakat), melainkan, karena melonjaknya aja kebutuhan terhadap air bersih di Klaten.

Ada semacam konspirasi yang telah menciptakan ketergantungan air pada masyarakat Klaten. Seperti untuk pertanian, untuk mandi, untuk minum, dan sebagainya. Padahal, seandainya masyarakat Klaten tidak butuh air, maka mereka tidak akan merasa kekeringan. Memangnya mereka butuh fotosintetis? Kan nggak.

Jadi, saya curiga ada konspirasi global yang melakukan rekayasa genetik terhadap masyarakat Klaten agar memiliki ketergantungan berlebih terhadap air. Hal demikian dibikin agar menciptakan suasana seolah-olah terjadi kekeringan di Klaten untuk menggerus wibawa HAHA-SUMUL, khususnya citra Sri Mulyani. Bupati sekarang.

Sekarang kita masuk pada bagian terpenting yang terjadi belakangan ini. Yakni, merebaknya baliho, stiker, hingga foto-foto Bupati Sri Mulyani yang seolah seperti hendak numpang kampaye di tengah kesengsaraan rakyat karena pandemi.

Memang iya, ada stiker dirinya yang ditempel di hand sanitizer yang dibagikan gratis oleh Kemensos untuk masyarakat, namun hal itu bukan kesengajaan.

Apalagi ada isu kalau pembagian hand sanitizer itu sekalian berkampanye agar itu kelihatan seolah-olah jadi bantuan langsung dari Bupati Klaten. Hadeh, nggak begitu lho padahal. Semua itu hanyalah perkara kesalahan teknis di lapangan saja. Itu cuma salah tempat tempel stiker aja kok.

Saya yakin pasti awalnya stiker itu mau ditempel di tiang listrik, lampu merah, atau di gerbong kereta Prameks, etapi malah nggak sengaja nempel di botol hand sanitizer bantuan Kemensos. Namanya manusia ya kan, tempatnya salah dan dosa. Lagian, kesalahan kecil gitu aja kok ya ributnya heboh banget.

Baca juga:  Iuran BPJS Kesehatan Fiks Naik Dua Kali Lipat per 1 September 2019

Masalahnya, ada bagian dari masyarakat Klaten yang tak paham bahwa ada konspirasi untuk menjatuhkan wibawa Bupati Klaten. Ini sangat bahaya. Dan itu semua sekarang terjadi hanya karena persoalan teknis penyebaran bansos dari Kemensos. Yaelah cuma urusan teknis lho padahal.

Saya curiga ada kekuatan-kekuatan yang tak mampu dikendalikan oleh Sri Mulyani, di mana jumlah persediaan stiker-stiker dan seluruh atribut kampanyenya tiba-tiba tersedia dalam jumlah yang melimpah, padahal blio mungkin tak pesan bahan kampanye sebanyak itu. Sri Mulyani sendiri telah melakukan klarifikasi terhadap isu miring yang menimpa dirinya.

Masalahnya, sebagai pemimpin yang sangat religius blio bisa saja tak mau melakukan tindakan mubazir dengan membuang-buang atribut kampanyenya yang kebanyakan itu. Akhirnya, muncul dilema. Aduh, atribut kampanye ini mau diapain yak?

Kalau dibuang kok namanya nggak bersyukur, kalau dipasang di pinggir jalan kok kesannya receh, kalau dibakar kok malah bau sangit nanti. Ya udah dipasang aja sekalian di bantuan dari Kemensos tadi oleh tim suksesnya.

Nah, itulah yang dimaksud dengan kesalahan teknis di lapangan, sebab perkara kampanye bukanlah kehendak hati dari Sri Mulyani, melainkan adanya kekuatan yang memaksa dia untuk menggunakan atribut kampanyenya saat pembagian bansos demi menghindari perbuatan mubazir.

Mana mungkin Sri Mulyani pengen numpang kampanye walaupun sekarang musim Pilkada? Hadeh yang benar aja. Asal kamu tahu aja ya, dengan kekuasaan politik kekeluargaan HAHA-SUMUL sebesar seperti sekarang ini, Sri Mulyani itu sebenarnya sudah tidak butuh kampanye lagi.

Apa yang blio lakukan itu sebenarnya adalah upaya untuk memberi kerjaan kepada para tim sukses. Coba kalau Bupati Klaten nggak bikin-bikin acara begituan? Mau kerja apa mereka para tim sukses itu? Kampanye pakai motor blombongan di tengah pandemi? Bisa ditenggelamin cairan disinfektan sama warga malah mampooos nanti.

Buat kamu semua yang suka nyinyir dan menyerang Bupati Klaten Sri Mulyani, pesan terakhir dari saya:

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 13 pemuda maka akan kuguncang kas negara, dan beri aku satu bupati doyan kampanye sembunyi-sembunyi maka akan langgeng itu politik dinasti.”

BACA JUGA Dinasti Politik Mbulet ala Klaten atau tulisan Ang Rijal Amin lainnya.