Jogja di Sepotong Sayap Olive Fried Chicken

Olive Fried Chicken diciptakan sebagai bentuk rasa terima kasih pendirinya kepada Jogja. Mojok.co ngobrol dengan pendiri sekaligus pemilik gerai ayam goreng yang dilantik netizen sebagai oleh-oleh khas Jogja selain gudeg dan bakpia ini.

Meski banyak yang ingin menjadi mitra, pemiliknya tetap konsisten tidak akan membuka waralaba. Olive Chicken adalah Jogja dan sekitarnya. Tidak akan ke mana-mana.

Pasangan suami istri Kunardi Sastrawijaya (46) dan Aurora Sri Rahayu (44) berbincang dengan Mojok.co di konter Karen Chicken di Soragan, Bantul.

Kalau ada yang bertanya-tanya, siapa model anak yang jadi ciri khas Olive Chicken selama bertahun-tahun, itu adalah anak Kunardi Sastrawijaya dan Aurora. Namanya Karen. Nama itulah yang kemudian dijadikan brand saudara Olive Chicken: Karen Chicken.

Karen Chicken adalah merek ayam goreng yang dipersiapkan Olive Chicken untuk melebarkan sayapnya ke berbagai wilayah di Indonesia. “Kalau Olive Chicken biarlah di Jogja dan sekitarnya. Kalau Karen Chicken, seperti tagline-nya, dari Jogja untuk Indonesia,” kata Kunardi yang akrab dipanggil Pak Kun.

Awal mulai merintis usaha, Pak Kun tidak menyangka Olive akan sedemikian dikenal dan disukai. Saat ini, ada sekitar 115 cabang Olive Chicken di Jogja, Solo, dan Kebumen. Jumlah tersebut belum termasuk Olive Chicken di Semarang yang dikelola oleh kakaknya. Setidaknya, seribu orang mencari nafkah di tempat makan andalan mahasiswa kere ini.

Maaf, Olive Chicken tidak akan membuka waralaba

Alasan Olive Chicken tidak mau diwaralabakan atau franchise ada hubungannya dengan kelahiran Olive Chicken pada 2011 silam. Sebelum mendirikan Olive, Pak Kun memiliki usaha ayam goreng yang disokong oleh investor. Usaha ini cukup menjanjikan dan memiliki beberapa cabang.

Namun, sebuah peristiwa membuat Pak Kun mundur. Saat itu pihak investor meminta Pak Kun untuk mengganti pemasok ayam yang biasanya ia pakai. Alasannya, ayam dari pemasok yang disodorkan investor harganya lebih murah beberapa rupiah. Investor tersebut berharap bisa menekan biaya produksi.

Pak Kun menolak usulan itu. Ia beralasan, pemasok ayam yang ia pakai adalah salah satu pihak yang punya andil saat ia merintis usaha tersebut. Komitmennya, ia akan tetap menggunakan pemasok yang pertama kali membantunya memulai usaha.

Pak Kun tidak peduli meski harganya sedikit lebih mahal dari yang ditawarkan oleh si investor. Tidak mendapatkan titik temu, Pak Kun memilih mundur dari usaha tersebut. Setelah itu ia mendirikan Olive Chicken.

Kunardi Sastrawijaya dan Aurora Sri Rahayu, pendiri dan pemilik Olive Fried Chicken. Foto oleh Agung Purwandono/Mojok.co.

Kunardi Sastrawijaya dan Aurora Sri Rahayu, pendiri dan pemilik Olive Chicken. Foto oleh Agung Purwandono/Mojok.co.

Sejak peristiwa itulah Pak Kun menutup diri dari investor. Termasuk tidak mau mewaralabakan usahanya. Ia memahami investor pasti menginginkan keuntungan atau cepat balik modal. “Tidak salah, tapi itu bukan prinsip saya dalam berbisnis,” kata Pak Kun.

Bisnis bagi Pak Kun, utamanya adalah bersenang-senang, bukan mengejar keuntungan. Itu prinsip yang ia pegang. Jika ia mewaralabakan Olive, orang yang menjadi mitra atau franchisee pasti sejak awal dalam pikirannya ingin mengejar keuntungan.

Ia memilih membuka cabang satu per satu. Meski lambat, inilah pilihan aman. Bisa saja ia sebenarnya mengajukan pinjaman di bank untuk mempercepat perkembangan usaha, tapi hal itu tidak dilakukannya. “Saya tidak ingin berutang,” katanya.

Istrinya, Aurora Sri Rahayu, mengatakan, saat mereka sudah memiliki 16 cabang, mereka belum memiliki rumah. “Pak Kun meminta bersabar, menunggu 1-2 tahun sampai memiliki 20 cabang. Baru beli rumah,” kata Aurora.

Aurora memahami sikap suaminya. Ia sudah tahu betul bagaimana karakter Pak Kun. “Saya pacaran delapan tahun, sangat tahu karakternya. Konsisten pada tujuannya,” kata Bu Aurora.

Bu Aurora menceritakan, ia mulai pacaran dengan Pak Kun saat masih semester 4. Saat itu mereka berdua kuliah di Universitas Sanata Dharma. Aurora mengambil jurusan Manajemen, sementara Pak Kun mengambil jurusan Pendidikan Akuntansi. Gelarnya S.Pd., gelar yang kerap jadi guyonan Bu Aurora.

“Sarjana Penuh Derita,” katanya, tertawa.

“Lah, gimana tidak penuh derita, saya tahu bagaimana perjuangan dia dulu. Saat pacaran dia rela ke tempat saya di Jalan K.H. Ahmad Dahlan, depannya kantor Balai Kota lama, naik sepeda dari Sapen. Bahkan pernah jalan kaki,” katanya.

Kalau dari Google Maps, jarak kira-kira kos-kosan Pak Kun ke rumah Bu Aurora sekitar 6 kilometer.

Kisah setengah potong tahu bacem

Soal guyonan Sarjana Penuh Derita, Pak Kun hanya tertawa. Ketika ada orang bilang orang Tionghoa identik dengan ekonomi yang mapan, ia menceritakan masa kecil hingga remajanya yang penuh kerja keras di Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sejak kecil, ia bersama enam saudaranya sudah digembleng untuk mandiri. Untuk mendapatkan uang jajan, ia sudah bekerja sejak kecil. “Saya itu pernah kerja nyuci genteng, ngangkut pasir, nyangkul sawah orang, jadi pemulung juga pernah, tukang jahit sepatu, keliling kampung jualan kue. Kami terbiasa bekerja,” kata Pak Kun.

Menurut Pak Kun, bekerja keras saja tidak cukup. Ia percaya, apa yang diperoleh saat ini tidak lepas dari berkat Tuhan. Ia menganggapnya sebagai titipan dari Tuhan. Ia hanya menjalankan apa yang dititipkan kepadanya.

Alasan itulah yang membuatnya yakin bahwa campur tangan Tuhan ada dalam usaha Olive Chicken. Karena itu, meski seorang Kristen, ia rutin menggelar pengajian untuk para karyawannya yang 90 persen lebih adalah muslim. Pandemi Covid-19 membuat kegiatan rutin tersebut sementara berhenti.

Saat menginjakkan kaki di Yogyakarta sekitar tahun 1993, Pak Kun harus bersiasat untuk hemat. Ia berhitung, agar bisa “hidup” di Jogja, maksimal pengeluarannya setiap hari tak lebih dari seribu rupiah.

Makan pagi, ia menghabiskan 350 rupiah dengan lauk setengah potong tahu bacem. Sedangkan malam hari, sisa uangnya digunakan untuk membeli makanan dengan menu telur atau ayam goreng mentega. Ia ingat, saat itu harga semangkok soto gerobak di Jogja seporsinya dijual 500 rupiah.

“Saya akan mengingatnya terus, bagi saya ini kebaikan dari Jogja. Maka suatu waktu saya ingin membalas kebaikan Jogja. Olive adalah bentuk rasa terima kasih saya untuk Jogja. Makanya Olive tidak akan buka cabang yang jauh dari Jogja,” kata Pak Kun.

Olive Chicken lahir tujuannya adalah memberi kesempatan bagi orang-orang yang memiliki pendapatan kecil namun menginginkan ayam goreng yang enak. Pak Kun berkaca dari dirinya yang pernah mengalami masa-masa prihatin. Ia pernah ingin makan menu ayam goreng tepung di KFC atau di McD, atau merek lokal seperti Jogja Chicken, namun saat itu ia tidak bisa menjangkaunya.

Saat melahirkan Olive, ia berpikiran harga ayam yang ia jual harus bisa dijangkau orang-orang yang punya pendapatan kecil. Menu paket sayap goreng di Olive ia akui tidak mengambil untung. Ia yakin, tidak ada warung fried chicken yang menjual ayam gorengnya 7.000 rupiah sudah komplit dengan nasi dan es teh.

Menu yang tidak mengambil keuntungan tersebut akan terus ia pertahankan sampai kapan pun selama Olive Chicken ada. Itu adalah bentuk rasa terima kasihnya pada Jogja.

Dari mana ia mendapat keuntungan? “Subsidi silang, keuntungan dari menu yang lain,” katanya.

Meski Olive dikenal sebagai ayam goreng yang murah, namun Pak Kun meyakinkan standar untuk memasaknya tidak beda dengan ayam goreng tepung merek-merek luar negeri. Baginya kepuasan pelanggan adalah nomer satu.

Ia mengisahkan ada saat-saat ketika harga bahan baku ayam naik. Saat ia kesulitan mendapatkan ukuran ayam yang biasa digunakan di Olive, maka pilihannya adalah ukuran ayam yang lebih besar dan ayam yang lebih kecil. Ia akan memilih ukuran ayam yang lebih besar daripada ayam yang lebih kecil. Harganya tetap sama.

“Saya tidak mau mengecewakan konsumen, lebih baik saya rugi untuk beberapa hari daripada ditinggalkan mereka,” katanya.

Rahasia rasa Olive Chicken

Olive Chicken dikenal karena kerenyahan kulitnya dan dagingnya yang juicy menggoyang lidah penikmatnya. Rasanya tidak jauh beda dengan ayam goreng bikinan KFC.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by MDC (@mojokdotco)

Perihal itu, Bu Aurora menceritakan satu aktivitas mereka saat masih pacaran. Secara tidak sadar, mungkin ini ada hubungannya dengan rasa Olive Chicken yang banyak orang bilang mirip dengan KFC.

Setiap malam Minggu, mereka biasa kencan di KFC Malioboro. Jalan kaki dari rumah Aurora di Jln. K.H. Ahmad Dahlan. Tiba di sana, mereka berdua hanya pesan satu menu, satu potong ayam goreng dan satu minuman.

Pelayan di tempat itu sampai hafal dengan keduanya. “Bayangkan, Mas, kurang lebih selama tiga tahun kami makan seperti itu, sepiring berdua. Bukan karena romantis, tapi memang uangnya hanya cukup untuk beli satu,” kata Aurora tertawa.

Pak Kun mengatakan soal resep Olive Chicken sebenarnya tidak ada yang istimewa. Bersama istrinya ia meracik sendiri bumbu ayam goreng. Sejak berdiri hingga sekarang ia tidak mengubah resep itu.

Menurutnya Olive Chicken menjadi istimewa karena bahan baku ayam yang digunakannya adalah ayam segar. Pak Kun juga menetapkan standar halal dan kesehatan mulai dari pilihan ayam hingga proses pemotongan.

Ayam yang dipasok hari itu maka hanya dipakai hari itu. Tidak pernah masuk ke freezer atau lemari pendingin.

Ada yang bilang ayam goreng Olive masih mentah karena begitu dagingnya dibuka, keluar cairan. “Itu juicy, menandakan bahwa ayamnya masih segar. Beda kalau ayam itu sudah masuk di freezer, biasanya kering,” katanya.

Masa terberat yang dihadapi oleh Olive Chicken adalah masa-masa awal pandemi Covid-19. Rencana bisnisnya yang akan “menyerang” Jakarta dan Surabaya dengan brand Karen Chicken tertunda. Ia harus berjuang agar tidak sampai memecat karyawan.

Sementara itu ia melihat banyak orang yang kesulitan mendapatkan makanan. Outlet Olive Chicken tidak beroperasi karena aturan pemerintah. Namun, langkah tidak biasa ia lakukan di awal pandemi. Setiap hari selama hampir satu bulan, ia berbagi Olive Chicken secara gratis. Tidak kurang 300-400 kotak Olive Chicken ia berikan kepada orang-orang secara cuma-cuma.

“Saat itu saya berpikir, remuk, remuk sekalian. Kalaupun Olive Chicken akan tutup karena Covid, dia harus meninggalkan sesuatu. Harimau mati meninggalkan belangnya, Olive Chicken mati dikenang karena nilai kebaikannya,” ujarnya sambil menerawang.

Namun, yang dikhawatirkan Pak Kun Olive akan mati, nyatanya tidak terjadi. Karena berbagi itulah, justru Olive Chicken memiliki energi kembali. Kini setiap harinya, antara 6-7 ton ayam segar dihabiskan di outlet-outlet Olive Chicken.

Karenanya ia percaya, Olive maupun Karen bisa bertahan dan berkembang atas izin Tuhan. “Ini yang mungkin disebut rida Tuhan. Dari awal saya percaya, Olive Chicken bukan soal bisnis, tapi juga berbagi. Saya percaya tangan yang terbuka lebih baik daripada menggenggam. Kalau tangan menggenggam semakin kuat, maka yang diterima akan sedikit,” katanya.

Sampai sekarang pemasok bahan Olive Chicken mulai dari ayam, beras, hingga saos masih sama dengan pertama kali saat ia membuka usaha ayam goreng. Bagi Pak Kun, orang-orang yang mempercayai mimpinya punya hak untuk diangkat dan diberi kesempatan berkembang.

“Awal-awal saya membuka usaha, mereka yang mau memberikan pesanan yang kita minta, meski jumlahnya kecil atau eceran. Pemasok beras saya itu dulunya di kerja di tempat game, sekarang dia punya alat untuk memproduksi beras sendiri,” katanya.

Keputusan untuk mendirikan Karen Chicken dilatarbelakangi peminat Olive Chicken yang ternyata bukan hanya mahasiswa, tapi juga keluarga. Ia bersama istrinya kerap melihat keluarga yang berdesak-desakan di outlet Olive yang kecil. Tidak nyaman.

Ayam goreng Olive Chicken yang dicandai jadi makanan khas baru Yogyakarta. Foto oleh Agung Purwandono/Mojok.co.

Ayam goreng Olive Chicken yang dicandai jadi makanan khas baru Yogyakarta. Foto oleh Agung Purwandono/Mojok.co.

Ia memutuskan untuk membuka gerai Karen Chicken yang sasaran utamanya memang untuk keluarga. Untuk rasanya sama dengan Olive, hanya ragam menunya lebih banyak, termasuk jenis minuman. Tempatnya lebih luas dan ada wahana permainan yang bukan kaleng-kaleng.

“Harapannya, ketika orang tua menikmati ayam goreng, mereka bisa menyaksikan anak-anaknya bermain,” Pak Kun menambahkan. Karen Chicken juga dipersiapkan akan ada di kota-kota selain Jogja dan sekitarnya.

Pak Kun dan Bu Aurora mengatakan tidak pernah melihat ayam goreng lain sebagai pesaing. Apalagi sampai saling menjatuhkan. Kalau bisa justru berteman. “Jangan fokus pada yang lain, fokus saja memperbaiki kekurangan kita, itu lebih bermanfaat,” katanya.

Ia menyadari banyak outlet Olive Chicken yang saat ini perlu diperbaiki. Hal utama yang ia lakukan adalah memperbaiki SOP layanan sesuai dengan aturan pemerintah di masa pandemi.

Akan dibawa ke mana Olive Chicken ke depannya, baik Pak Kun dan Aurora mengatakan, warga Jogja tidak perlu khawatir karena Olive Chicken tidak akan ke mana-mana. Seperti harapan warga Jogja, Olive Chicken ingin menjadi bagian oleh-oleh khas Jogja seperti gudeg dan bakpia.

BACA JUGA Menelusuri Paket Nasi Dada Ayam Paling Enak di Jogja dan liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.

 

[Sassy_Social_Share]