MOJOK.COKFC di Atlanta, Amerika Serikat baru saja pamer menu daging tiruan rasa daging ayam. Daging kaleng-kaleng ini dibikin dari sayuran. Ealah, gitu aja pamer.

Dr. Viru Shastrabhuddi namanya. Wajahnya galak. Sejak lahir kayaknya juga sudah begitu sih. Semakin galak lagi karena kumis lebatnya terus bergetar setiap kalimat meluncur keluar. Ini belum ketambahan dengan suara berat yang mengitimidasi mahasiswa baru di hadapannya.

Saat memberi pidato penyambutan di hadapan maba, dengan bangga Dr. Viru memperkenalkan teknologi luar biasa di genggamannya. Pena astronot. Pena yang diklaim bisa digunakan astronot di luar angkasa. Di ruang hampa.

Kata Rektor Imperial College of Engineering di India ini, “Setelah jutaan dolar dihabiskan, para ilmuwan berhasil menciptakan pena ini. Bisa menulis dari berbagai sudut. Dalam suhu apa pun. Tanpa gravitasi, lancar.”

Mata para mahasiswa berbinar kagum. Di hadapannya sedang dipamerkan sebuah—menurut Dr. Viru—“simbol kesempurnaan”. Sebuah pena yang bisa digunakan di luar angkasa. Hm, pena yang keren sekali.

Tiba-tiba di kerumunan mahasiwa ada yang mengangkat tangan. Nama si mahasiswa ini Ranchoddas Shamaldas Chanchad. Dia mengajukan pertanyaan sederhana, “Pak, jika di luar angkasa pena tinta dan bolpoin tidak bisa digunakan, kenapa astronot tidak mencoba memakai pensil saja?”

Langsung saja air muka Dr. Viru jadi luar biasa jeleknya. Pertanyaan macam apa itu? Oh, iya mungkin bukan itu kalimat tanya yang tepat, tapi: Kenapa tidak pernah terpikirkan sebelumnya ya?

Oke, oke, kamu tak perlu buru-buru googling nama rektor yang dimaksud. Apalagi sampai mencari peristiwa riil itu tercatat di media mana. Saya jamin, kamu tak bakal menemukannya sama sekali kecuali potongan gambar atau poster film 3 Idiots (2009) karya Rajkumar Hirani dan diperankan megabintang Bollywood Aamir Khan.

Baca juga:  Tahu Tempe, Kedaulatan Pangan, dan Reza Rahadian

Pernyataan bombastis Dr. Viru dan pertanyaan Rancho ini perlu saya kasih sebagai pembuka karena adegan itulah yang langsung terlintas di kepala saya ketika membaca berita di Beritagar hari ini. Tentang waralaba Kentucy Fried Chicken (KFC) di Atlanta, Amerika Serikat sukses dengan uji coba menu barunya: membuat ayam goreng tanpa ayam pada 27 Agustus 2019 silam.

Wuiiih, gimana tuh?

Jadi begini. Ayam yang digoreng dan disajikan KFC Atlanta ini merupakan hasil olahan “daging nabati” buatan KUD Beyond Meat. Eh nggak ding, nggak ada KUD-nya. Beyond Meat adalah produsen daging tiruan yang dibikin dari sayuran. Saking miripnya dengan daging betulan, diklaim daging nabatinya punya tekstur, rasa, aroma, dan kandungan nutrisi yang sama dengan daging asli. Ngewri.

Paling tidak klaim ini bisa dibuktikan ketika ayam goreng tanpa ayamnya KFC Atlanta ludes diborong pembeli cuma dalam lima jam. Jika tidak betul-betul enak, mustahil rasanya kalau menu ini bisa habis secepat itu kan. Meski, yaaah, kita bisa saja nyinyir, menu itu habis karena gaya hidup ramah lingkungan memang sedang keren aja di Amerika Serikat. Jadi beli ayam-tanpa-ayam di KFC Atlanta itu bukan soal rasa, melainkan gaya hidup.

Hal ini dibuktikan dengan melonjaknya pasaran daging nabati di Amerika. Permintaan yang melonjak ini bisa dipahami, masyarakat Amerika sedang gandrung-gandrungnya dengan daging tiruan. Katanya sih, untuk meminimalisir pemasan global akibat daging.

Akan tetapi terlepas dari hal itu, menurut prediksi, permintaan daging palsu ini akan meningkat pada 2025. Bahkan diklaim peningkatannya sampai dua kali lipat dibandingkan yang sekarang. Ebuset.

Suksesnya KFC Atlanta menyajikan ayam-tanpa-ayam ini sebenarnya bukan hal baru. Produsen yang sama ternyata juga sudah menggandeng mitra dagang lainnya. Dari sandwich sampai burger. Di Amerika, Beyond Meat bahkan bikin burger dengan nama Beyond Burger. Hm, memang beyond beneran tuh burger.

Baca juga:  Lika-Liku Pacaran Backstreet yang Cuma Bikin Capek

Tentu saja, daging-daging palsu ini dikembangkan dari laboratorium—alih-alih di sawah, ladang, atau kandang. Dibantu dengan ilmu pengetahuan canggih beserta peneliti-peneliti hebat dan menghabiskan dana cukup banyak. Jangan dibandingkan dengan peternak-peternak Indonesia yang memakai peralatan seadanya dengan tanggungan utang untuk beli bibitnya.

Beberapa pihak memang tidak berharap banyak dengan tren daging tiruan ini. Apalagi jika yang menggunakannya adalah perusahaan sekelas KFC di Atlanta. Lha iya dong. Ini kan perusahaan fried chicken, ayam goreng. Ayam. AYAAAM, WOY!

Masa iya daging ayamnya nggak asli tapi malah dibangga-banggain? Dalam bayangan saya ini agak aneh. Kayak perusahan minuman botol yang bangga memakai pemanis buatan ketimbang gula asli. Mau dibilang sesehat apapun, ya lebih baik nggak pakai gula sekalian. Sama seperti kalau emang nggak mau makan daging ayam ya nggak usah makan daging ayam sekalian.

Membaca laporan tersebut, tiba-tiba saya jadi membayangkan kalau produk daging tiruan yang diujicobakan KFC Atlanta dipasarkan ke Indonesia sekalian. Jika benar-benar ada rencana seperti itu, saya dengan jelas akan menolaknya dengan keras.

Oh, bukan. Bukan karena saya peduli peternak di Indonesia. Apalagi sampai punya niat mulia mengkhawatirkan bagaimana peternak di Indonesia bisa hidup kalau produknya jadi harus bersaing dengan daging-daging tiruan yang diimpor dari Amerika ini.

Saya menolak karena alasan sederhana. Apa hebatnya membuat daging tiruan dari laboratorium dengan peneliti-peneliti hebat berpendidikan tinggi kayak gitu?

Baca juga:  Belanja dengan Kedok Meredakan Stres, Apa Betul Bisa Bikin Bahagia?

Maaf ya, bukan bermaksud membanding-bandingkan nih, Lek Sam. Begini lho. Bangsa saya ini, sudah bisa membuat “daging tiruan” sejak dulu kala. Jauh sebelum orang-orang ente bisa bikin daging tiruan itu.

Bahkan diperkirakan masyarakat Nusantara sudah bikin makanan ajaib yang setara kandungan gizinya dengan daging tiruan bikinan Amerika itu sejak abad ke-17. Artinya, satu abad sebelum negara Amerika merdeka. Nah lho, apa nggak suangar itu?

Oh iya, daging tiruan khas Nusantara ini murni diciptakan dengan peralatan seadanya. Tanpa perlu penelitan belibet, tanpa perlu pakai cairan kimia yang dihitung per mililiternya, atau menghabiskan jutaan dolar di ruang laboratorium.

Tak perlu dibikin oleh ilmuwan yang pakai jas dokter, cukup dengan emak-emak pakai jarik atau bapak-bapak pakai caping bertelanjang dada. Tak perlu dibuat di dalam laboratorium steril, namun cukup dibikin di dalam kamar, di teras rumah, dan hanya memerlukan daun pisang untuk memaksimalkan proses reaksi kimianya.

Lebih sangar lagi, daging tiruan milik bangsa kami ini kaya akan nutrisi dan diakui sebagai “daging”-nya sayuran. Hal inilah yang jadi alasan kenapa daging tiruan milik kami ini digilai juga oleh kaum vegetarian di seluruh dunia.

Maka izinkan saya untuk bertanya dengan logika yang dipakai Ranchoddas Shamaldas Chanchad ke Dr. Viru saat menanyakan pena astronot di awal tulisan tadi ke orang-orang di Amerika.

“Jika di Amerika orang kepingin makan daging, tapi nggak ingin makan daging dan perlu ada perusahaan yang menghabiskan dana penelitian untuk bikin daging tiruan, kenapa sih kalian tidak coba makan tempe saja?”

BACA JUGA Kok Kita Harus Ikutan Budaya Beberes KFC? Buat Apa? atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.