Dipingit, Cara Efektif Mengawinkan Burung

Punya orientasi ternak atau breeding burung tidak ada salahnya. Namun, terpenting punya ilmunya. Salah satu yang harus dikuasai ada ilmu menjodohkan atau membuat burung mau kawin dan beranak pinak. Tidak mudah…

Kalau teori untuk mengawinkan burung agar berkembang biak sebenarnya mudah, tinggal letakan burung jantan dan betina berdampingan, pasti kawin. Itu teorinya, praktiknya tidak semudah itu.

Salah satu cara yang biasa digunakan oleh para peternak adalah penerapan dari ilmu tresna jalaran seka kulina atau cinta karena terbiasa. Burung yang sulit berjodoh akan dipingit dulu. Jika pada manusia artian dipingit adalah calon manten laki-laki dan perempuan tidak boleh bertemu, istilah pingit pada burung berbeda.

Di sini  burung jantan dan betina diletakan di satu kandang, namun terpisah sekat. Bisa melihat tapi tidak saling bertemu. Sehingga mau tidak mau hanya burung itu yang dilihat oleh burung lainnya. Lama kelamaan karena setiap hari yang dilihat itu-itu saja, akhirnya mau kawin juga.

Tresna jalaran seka kulina, cinta karena terbiasa (bertemu) itu juga ada di burung. Nah filosofi dalam perkawinan seharusnya seperti itu, sebelum menikah calon pengantin itu dipingit, mereka tidak boleh kemana-mana itu ada tujuannya,” kata Mbah Pawiro serius.

Apa tujuannya Mbah?

“Tujuannya biar nggak ketemu mantan.. ha..ha…..ha,” kata Mbah Pawiro.

Menurut Mbah Pawiro orang yang memelihara burung harus bisa membaca gerak gerik burung yang sedang birahi atau minta kawin. Setiap jenis burung punya tanda-tandanya.

Duh, sulit dijelaskan, harus lihat langsung. Ya seperti manusia, kalau pendekatannya terlalu kasar, burung betinanya biasanya takut-takut nggak nyaman. Misalnya kalau Merpati, burung jantannnya mbekur-mbekur, yang betina sayapnya digerak-gerakan, pokoknya begitulah,” kata Mbah Pawiro malu-malu.

Baca Juga : Outfit Bapak-bapak Pecinta Burung Sesuai Burung Kesukaannya

Sebutan Merpati tak pernah ingkar janji menurut Mbah Pawiro ada benarnya. Merpati hanya akan punya satu pasangan yang akan bersama-sama mulai dari pendekatan hingga merawat anak. Maka seringkali, Merpati dijadikan gambaran atau harapan ketika orang menikah hendaknya seperti Merpati.

“Merpati itu saat pacaran ya dengan satu burung saja, terus ciuman atau loloh-lolohan, membuat sarang bersama, kemudian setelah betina bertelur, Merpati jantannya mau ikut mengerami telurnya, saat menetas, burung jantan juga ikut ngloloh atau memberi makan,”kata Pawiro.

Tapi, mungkin ada peternak yang protes, Merpatinya mau sama siapa saja. Itu juga sebenarnya seperti gambaran kehidupan manusia. Orang kalau berumah tangga, istrinya cuma satu, tapi dia bisa saja tergoda.

“Lah ibarat orang, kalau digoda disuruh makan bakso, ya dimakan. Kalau ada cewek cantik terus dipaksa kawin ya dikawin, tapi tidak mau bertanggungjawab, ibaratnya tidak mau memberikan nafkah, Merpati kalau dipaksa ya seperti itu,” kata Mbah Pawiro yakin.

Soal kawin mengawinkan burung, Anggit dari JSP Farm punya tips agar bisa sukses. “Sabar itu rumusnya. Ojo kesusu,” katanya. Seperti manusia, hal yang harus dipertimbangkan untuk mengawinkan burung adalah dari sisi faktor usia memang matang untuk berumah tangga. Pola birahi setiap burung harus dilihat dengan saksama. Pola makannya juga harus diperhatikan.

“Tidak bisa dipaksakan harus kawin sekarang, prosesnya pelan-pelan. Misalnya diletakan dalam satu kandang yang sama namun disekat. Sama dengan konsep dipingit seperti yang disampaikan Mbah Pawiro. Nanti dilihat kalau mereka tidurnya sudah berdampingan meski dibatasi sekat, baru disatukan. Itu waktunya bisa 2-3 minggu,” kata Anggit yang memelihara 4 jenis burung, Jalak Bali, Kacer, Murai, dan Cucak Rawa.  Jika memang sudah sama-sama siap dan berjodoh proses perkawinan bisa lebih cepat.

“Kalau dipaksakan, pasangannya bisa mengalami KDRTM, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Manuk. Jenis Kacer jantan misalnya, kalau dipaksakan berjodoh bisa menghajar betinanya sampai mati, karena jenis burung teritorial, begitu juga dengan jenis Murai,” kata Anggit yang aslinya adalah Dosen di Fakultas Teknik Universitas Islam Indonesia (UII).

Untuk mengurus burungnya yang jumlahnya ratusan, ia dibantu oleh pekerja yang senang dan memahami tingkah laku burung. Adanya orang kepercayaan yang ia percaya, membuat burung tetap gacor.

Anggit mengingatkan bagi orang yang mau beternak, burung bukanlah mesin, jadi tidak bisa terus-terusan untuk melakukan reproduksi. Mereka mahluk hidup juga yang perlu sering-sering diajak komunikasi. “Saya suka ngomong sama mereka, minta mereka cepet ngendog ha..ha..ha,” kata Anggit.

Anggit juga sebisa mungkin menjual anakan burung yang sudah disapih oleh induknya. Kalau ia lepas masih baru menetas beberapa hari, kalau burung itu hidup maka menjadi berkah bagi dia maupun pembeli. Tapi kalau mati, pasti sama-sama merasa bersalah.

Selain itu, diusia yang lebih dewasa, burung-burung tersebut harganya lebih mahal. Misalnya untuk usia dua bulan untuk jenis Kacer ia lepas perpasang Rp 700 ribu, sedang paling mahal adalah jenis Cucak Rawa dengan usia yang sama harganya sampai Rp 11 juta.

Tips untuk membuat kawin burung juga diberikan oleh Elya Kurniawan (23) yang beternak aneka jenis burung impor jenis Siskin serta Kenari. karena tujuan beternak adalah breeding yang artinya indukan burung akan terus melakuan reproduksi maka faktor perawatan menjadi penting. Termasuk tahu bagaimana menangani saat burung sakit. “Kalau cuma asal punya saja tapi nggak tahu cara merawatnya, biasanya nggak lama dia akan bosan, ganti hobi lagi,” katanya.

Makanan dan nutrisi menjadi penting. Diakui Elya dalam beternak, seseorang biasanya mengejar kuantitas, maka kondisi burung harus diperhatikan. Asupan vitamin dan makanan tambahan menjadi keharusan.

Untuk jenis Red Siskin ia punya formula 4 banding 1. Artinya satu jantan akan mengawini 4 betina. Setiap selesai dikawinkan dengan betina yang satu maka segera dikawinkan dengan betina yang lain. Namun, bisa saja, sik pejantan ‘ngambek’ tidak suka dengan betina yang sudah disiapkan. Solusinya Elya menyiapkan pemain ‘cadangan’ yang bisa dimainkan agar si jantan mau kawin.

Begitu juga saat mau mengawinkan dere atau burung Siskin betina yang baru pertamakali kawin, ada cara tersendiri. Terpenting adalah membuat burung yang masih perawan itu merasa nyaman dulu. Jika sudah didekatkan burung betina sudah mau buat sarang maka artinya dia mau dengan jantan yang dijodohkan.

Masa kawin tiap jenis-jenis Siskin berbeda, untuk Red Siskin rata-rata di usia 7 bulan sudah siap berreproduksi, sedang yang hijau baru setelah berusia 1 ,5 – 2 tahun. Itu mengapa jenis hijau lebih mahal. Elya menjual burung mulai dari anakan hingga remaja antara Rp 1 juta hingga Rp  7 jutaan, tergantung jenis dan usia burung.

Bagi peternak burung, masa krusial yang mereka tunggu-tunggu adalah saat melepas anakan burung untuk dijual. Jarang sekali mereka menjual indukan. Baik Anggit, Elya maupun mbah Pawiro mereka sepakat, lebih baik menjual anakan burung yang sudah disapih atau sudah bisa makan sendiri.

Khusus Mbah Pawiro, ia bahkan belajar banyak dari cara mengasuh anak dari Burung Merpati. Begitu sudah bisa makan sendiri, induk Merpati biasanya memberikan tanda ‘mengusir’ anaknya agar menjauh biasanya dengan cara disampluk menggunakan sayap, dikon lunga.

“Saya besok juga akan seperti itu, anak saya kalau sudah besar akan saya minta untuk merantau, merasakah pahit getir kehidupan, usia-usia SMA atau kuliah, mondok di pesantren atau ngekos, saya selalu pegang filosofi burung dara,” kata Mbah Pawiro.

Termasuk filosofi jajan bakso mbah?

“Hush…nek kui ora!!” katanya tertawa.

Seri Liputan “Beternak Burung”

  1. Dipingit, Cara Efektif Mengawinkan Burung
  2. Untuk Kamu yang Beternak Burung, Modal Sayang dan Kurungan Saja tak Cukup