Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Kata Kotor dalam Bahasa Daerah: Berbeda Kosakata, Artinya Sama Jua

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
5 April 2018
A A
anjing mojok.co

Ilustrasi anjing. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Coba koleksi kata kotor dalam berbagai bahasa yang kamu tahu. Rata-rata sih merujuk pada hal-hal yang sama. Kalau nggak hewan, ya organ tubuh.

Saya pernah berkuliah di Bandung Coret alias Jatinangor dengan dikelilingi orang-orang yang berbahasa Sunda dan bertutur lemah lembut. Saya yang putri asli Cilacap jadi (sedikit) populer dengan nickname “Inyong” serta bahasa Ngapak yang eksotis.

Perbedaan bahasa ini sempat menjadi “jurang pemisah”. Saya, yang waktu itu lagi kasmaran tapi LDR, dengan semangatnya bercerita ke teman yang asli Sukabumi, “Eh, urang abis ditelepon Mamas, loh!” Tentu saja mamas yang saya maksud adalah lelaki yang kala itu menjadi kekasih saya. Tiba-tiba, si cewek Sukabumi ini kelihatan panik, “Ih naon sih Lia ngomong mamas!”

Usut punya usut, kata yang saya ucapkan tadi bermakna sangat berbeda di tanah Sunda, yaitu… alat kelamin pria. Meski mengejutkan, saat itu saya sedikit merasa bangga karena mendapat satu kosakata baru. Tak ayal, tingkat “Sunda banget” yang saya rasakan naik 0,135%.

Namun, ada juga seorang teman saya yang tetap penasaran dengan bahasa Ngapak. Maka, ia menghampiri saya di sela-sela praktikum Farmakologi lalu berbisik, “Li, ajarin urang bahasa Jawa, dong.”

Baru sedetik saya menggangguk, teman saya ini langsung kegirangan dan berkata, “Sekarang aja, Li. Asu!”

Saya kaget, mengira bahwa teman saya ini misuh-misuh mendadak. “Heh, ngomong apa maneh?!!”

“Lah, kenapa? Asu itu kan bahasa Jawa?” Doski kaget.

Ya bener, sih, tapi kan urang kaget…. Asu, emang!

Bukan hanya teman saya dan saya sendiri, perilaku semacam ini sebenarnya dilakukan oleh banyak orang lainnya. Dalam memahami sebuah bahasa baru, beberapa orang percaya bahwa langkah utama dan terpenting adalah mengetahui kata umpatan dalam bahasa tersebut. Pun dalam penggunaan bahasa, kata-kata yang digolongkan dalam ungkapan makian kini sering pula dipakai sebagai kata yang menunjukkan derajat kedekatan dengan teman.

Contohnya? Teman saya menyimpan kontak sahabatnya dengan nama yang epic: “Mb*t Kek T*i”.

*terdengar suara teriakan terkejut seseorang di sini*

Sedikit banyak, saya suka diam-diam mengamati betapa bervariasinya kata-kata umpatan dan makian ini, lalu bertanya-tanya sendiri: kenapa harus ngomong anjing? Kenapa harus sontoloyo? Kenapa anu dan ini? Hmm~

Dikutip dari Ajip Rosidi, setidaknya ada enam kelompok kata yang sering kali menjadi kata-kata umpatan. Mereka adalah

Iklan
  1. kata-kata yang berhubungan dengan agama,
  2. kata-kata yang berhubungan dengan kelamin,
  3. kata-kata yang berhubungan dengan nama bagian tubuh,
  4. kata-kata yang berhubungan dengan fungsi bagian tubuh,
  5. kata-kata yang bermakna kurang lebih sama dengan kata bodoh,
  6. dan kata-kata yang berupa nama-nama binatang.

Dalam klasifikasi tersebut, kata asu yang diucapkan dengan antusias oleh teman saya jelas masuk dalam golongan nomor 6. Sama dengan kata asu tadi, kata-kata yang masuk jenis tersebut adalah: ibo (kera) dan paneki (kelelawar) dari bahasa Kaili; bagudung (tikus) dalam bahasa Batak; cicing (anjing) dari bahasa Bali; kampret (kelelawar), serta masih banyak kata dari bahasa daerah lainnya yang pasti you-you semua lebih paham (FYI, Indonesia punya lebih dari 700 bahasa daerah!).

Bagaimana dengan golongan yang lain?

Hmmm, marilah kita “menjelajahi” Indonesia dengan untaian kata-kata makian yang, menurut Leigh dan Lepine dalam buku Advanced Swearing Handbook, adalah bagian dari kehidupan manusia, yang bahkan telah seumur dengan bahasa manusia~

Tak hanya nama binatang, jenis makian yang paling umum dipakai adalah padanan kata bodoh dari berbagai macam daerah. Sebagai contoh adalah kata bungul (Banjar), lengob (Banyumasan), oto (Batak), hingga beleng (Bugis).

Selain mam*s yang tidak sengaja saya ucapkan di atas—eh tunggu sebentar, kenapa saya refleks menyensor kata tersebut setelah mengetahui artinya?—munculnya kata makian, meski lazim dipakai di kehidupan sehari-hari, ternyata tetap bersifat tabu bagi sebagian orang. Salah satu alasan munculnya ketabuan ini adalah ketidakpantasan atau ketidaksantunan. Termasuk dalam hal ini adalah penggunaan kata yang berkaitan dengan bagian-bagian tubuh, fungsinya, dan beberapa kata makian lain.

Jadi—balik lagi—selain kata mam*s, beberapa daerah di Indonesia menggunakan pola yang sama dalam susunan kata makian, semacam m*m*k (Jawa), h*nc*ut (Sunda), t*l*ng (Sulawesi), nd*s k*l*ng (Bali), t*i las* (Makassar), dan lain sebagainya.

Mengikuti daftar ini, muncul pula kata-kata seperti s*ndal* (Makassar), k*mp*ng, k*c*k (Palembang), hingga j*nc*k dan d*mp*t (Jawa).

Gimana? Udah mumet lihat banyak tanda bintang gara-gara kebanyakan sensor?

Nggak papa, teman-teman, nggak papa. Seenggaknya, sekarang kalau ada yang gombalin kita dan bilang, “Matamu bersinar bagaikan bintang,” kita udah tahu maksud dia apa.

Tersenyumlah, lalu dekati telinganya untuk berbisik, “Jancok.”

Eh, sorry, lupa nyensor. Hehe~

Terakhir diperbarui pada 5 April 2018 oleh

Tags: arti jancukasubahasa daerahkata kotormakianumpatan
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Esai

Menjunjung Tinggi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia tapi Berlogat Jakarta

30 Oktober 2018
Esai

Adil Sejak dalam Pikiran Memandang Bahasa Daerah di Bulan Bahasa

22 Oktober 2018
Esai

Asal Pakai Bahasa Arab, Siapa Bilang Semua Lagu dan Umpatan Jadi Religius?

15 Oktober 2018
Pojokan

Makian Matamu ala Buwas dan Pentingnya Memaki Seperti Prabowo Atau Ahok

19 September 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO

Suzuki Satria FU: Dulu Motor yang Bikin Tampan dan Idaman Pasangan, Tapi Kini Terasa Jamet dan Memalukan

22 April 2026
Supra Fit: Motor Honda yang Bikin Kecewa dan Gak Bikin Bangga MOJOK.CO

Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

21 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.