MOJOK.CO Misteri nama asli Upin dan Ipin mulai terkuak dan menemui titik terang. Tapi, bagaimana dengan misteri-misteri lainnya?

Sepupu saya di Cilacap sepertinya ada bakat jadi poliglot. Selain bisa bahasa Indonesia, bahasa Ngapak, dan sering saya cekokin bahasa Inggris, dia juga bicara bahasa Melayu dengan cengkok yang memukau. Usut punya usut, ini semua berkat “kerja keras” Upin dan Ipin yang muncul di televisi rumahnya.

Upin dan Ipin adalah tokoh dari serial animasi Malaysia berjudul sama. Mereka digambarkan sebagai tokoh kembar berkepala botak dengan pembeda berupa 1 helai rambut. Yang botak plontos bernama Ipin, sedangkan yang punya sedikit sekali rambut adalah Upin.

Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul waktu saya mencoba mengikuti Upin sekaligus Ipin berakting. Keheranan ini berlanjut setelah sebuah cuitan mendadak ramai di media sosial soal nama asli Upin. Dalam sebuah tangkapan layar yang sepertinya muncul dari adegan dalam serial tadi, tertulis jelas nama lengkap Upin: Aruffin bin Abdul Salam.

Respons netizen langsung bermunculan. Tak sedikit dari mereka punya pertanyaan yang sama dengan saya: Apakah mereka sebenarnya berasal dari Sunda karena huruf “F” saja dilafalkan sebagai huruf “P”???

Terlepas dari misteri “apakah-Upin-dan-Ipin-orang-Sunda”, setidaknya ada hal yang terkuak dari munculnya nama lengkap Upin: Ipin mungkin saja bernama Ariffin bin Abdul Salam, dan ayah mereka berarti bernama Abdul Salam.

Ya, ya, ya, misteri soal orang tua Upin-Ipin memang belum terpecahkan. Dari berbagai sumber, orang tua Upin dan Ipin hanya disebutkan sudah meninggal dunia tanpa ada penjelasan lebih lengkap.

Tapi, kalau dipikir-pikir, masih banyak pertanyaan-pertanyaan misteri soal hal-hal yang tak dijabarkan dalam serial Upin dan Ipin.

*JENG JENG JENG*

Pertama, kenapa Upin-Ipin harus botak—sekaligus tidak botak?

Banyak pihak menyebutkan hal ini terkait dengan biaya produksi. Tapi, yang jadi pertanyaan, kenapa tokoh Upin harus banget digambarkan punya rambut sehelai di kepala, yang kadang tampak ngeruwel, persis seperti lambang di atas kepala Lala si Teletubbies?

Kalau hanya untuk mudah dibedakan dari Ipin, memangnya nggak bisa, ya, kalau rambutnya dibikin agak banyak sedikit, biar nggak sendiri-sendiri banget? Kamu nggak tahu ya kalau ditinggal sendirian itu kadang bikin sedih dan pengin nangis?

Yang unik, dari fakta ini, keheranan saya kian menyempit: Bagaimana cara Upin keramas kalau rambutnya cuma sehelai saja? Ah, saya bahkan penasaran, memangnya tangan Upin bisa mencapai puncak rambutnya sendiri, ya???

Kedua, latar belakang orang tua Upin dan Ipin tetap membuat publik penasaran.

Seperti yang sudah disebutkan, banyak pihak percaya bahwa orang tua Upin, Ipin, dan Kak Ros sudah meninggal. Namun, latar belakang dan penyebabnya masih belum bisa dipastikan. Tadinya saya sempat mengira jangan-jangan orang tua mereka meninggal gara-gara dibunuh Voldemort dan sehelai rambut Upin adalah bekas luka yang ditinggalkan si penyihir jahat, sebelum akhirnya saya sadar bahwa ini adalah kisah anak-anak, bukannya Harry Potter.

Dalam sebuah episode, pertanyaan ini terjawab. Opah, nenek Upin-Ipin (yang nama aslinya juga menjadi misteri), menjelaskan bahwa ayah kedua cucunya ini merupakan seorang tentara. Ia bahkan menunjukkan seragam lengkap tentara, yang oleh masyarakat Malaysia disebut Askar.

Terus, ibunya gimana?

Loh, kok, masih nanya? Kalau bapaknya tentara, ibunya ya sudah pasti…

…istri tentara.

Ketiga, kisah cinta antara Mail dan Mei Mei.

Seperti Upin dan Ipin yang awalnya muncul sebagai figuran di film Geng Pengembara Bermula, tokoh Mail dan Mei Mei dalam serial ini justru menarik perhatian penonton dengan kisahnya sendiri. Entah bagaimana mulanya, tapi gosip soal kisah cinta (tentu saja cinta monyet) antara Mail dan Mei Mei cukup banyak beredar.

Kegalakan Mei Mei pada Mail disebut-sebut sebagai pertanda rasa suka diam-diam karena (katanya) perempuan cenderung jutek dan cuek pada laki-laki yang disukainya.

Ah, masa, sih? Bener nggak, nih?

Tentu saja saya tidak akan menjawab pertanyaan ini karena saya kan bukan Mei Mei.

Yah, mau gimana lagi; nama saya kan April, bukan Mei. Plis, deh.



Tirto.ID
Loading...

No more articles