Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pentingnya Komunikasi dalam Hubungan karena Kita Bukan Deddy Corbuzier

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
9 Februari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selain kesetiaan, kepercayaan, dan kejujuran, komunikasi dalam hubungan tetap menduduki peringkat pertama yang harus diperjuangkan. Cieeee~

Ini terjadi saat saya masih duduk di bangku SMP. Seorang kawan menyukai kawan lainnya dan ingin menyampaikan perasaannya dengan segera. Surat cinta pun ditulis. Tapi, siapa penulisnya? Teman saya yang justru berbeda kelas—yang dianggap lebih jago menulis surat. Lah?!

Iklan

Si kawan-yang-jatuh-cinta duduk diam di sudut meja, membiarkan perasaan cintanya ditafsirkan lewat kata-kata oleh orang lain. Saya heran: seberapa yakin dia bahwa perasaannya seluruhnya akan tersampaikan melalui orang lain dan bukannya dengan komunikasi yang ia bangun sendiri?

Sejak SMA hingga kuliah, saya pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Kami sangat berbeda, meski ada beberapa hal yang membuat orang-orang yakin kami diciptakan untuk satu sama lain. Saya merasa dia adalah orang yang baik, sementara dia yakin saya adalah perempuan yang asyik-asyik saja diajak berkompromi.

Suatu hari, malam minggu tiba. Saya berniat menanti pesan masuk darinya yang mengabarkan dia akan datang bertemu, seperti semua teman kos saya lainnya. Belum sempat membuka hape, saya memutuskan berselancar di Facebook dengan laptop hanya untuk menemukan sebuah komentar teman laki-laki kekasih saya yang berbunyi, “Nanti nggak malam mingguan?”—yang kemudian dibalas dengan penuh percaya diri oleh si pacar: “Nggak, nanti mau nonton anime. Lia bukan tipe yang ribet harus malam mingguan, kok.”

Saya membacanya dengan sedikit tertohok. Memang benar, saya bukan perempuan yang mengamini bahwa malam minggu adalah malam suci semua pasangan di dunia, tapi bukan berarti saya tak ingin juga turut ‘merayakannya’ bersama pacar, kan? Dan lagi, kenapa dia bisa seyakin itu saya tidak menunggunya datang untuk malam mingguan?

Di dunia kerja, saya bertemu pasangan yang menarik. Keduanya orang baik dan tampak saling percaya satu sama lain. Suatu hari, si pria didekati seorang perempuan yang mengaku ingin berteman. Dalam beberapa kesempatan, si perempuan basa-basi bertanya, “Kita ngobrol begini, apa pacarmu nggak cemburu?”

“Ah, tenang saja,” jawab si pria, “pacarku itu bukan tipe pencemburu, kok. Hal seperti ini bukan masalah besar baginya.”

Yang tidak diketahui pria tadi adalah: kekasihnya baru saja bercerita pada saya betapa ia sesungguhnya terganggu dengan keberadaan teman perempuan kekasihnya yang hampir setiap hari mengajaknya bicara lewat chat—pagi dan sore.

Oh, dan tak akan saya lupakan sebuah kisah teman saya yang lain: ia menahan jengkel setiap kali pacarnya kentut di depannya karena baginya hal itu terasa jorok dan tak pantas dilakukan. Tapi, apakah ia mengatakan keberatannya pada sang pacar? Tentu tidak—karena ia cenderung merasa “nggak enak dan nggak tahu gimana ngomongnya”.

Apa yang menjadi fokus saya pada keempat kisah di atas—dan banyak cerita asmara lainnya—adalah munculnya missing link yang sebenarnya tampak begitu terang. Di kasus pertama, teman saya yang jatuh cinta memang belum secara resmi menjalin hubungan, tapi ia sudah ‘melanggar’ aturan pertama dalam hubungan—setidaknya bagi saya.

Mencintai seseorang—dan memutuskan untuk mengakuinya—membutuhkan kejujuran. Setelah bulat tekad untuk menyampaikannya, komunikasi menjadi jembatan terbesar. Tentu saja, pelakunya harus dirinya sendiri, bukan orang lain. Lah, kalau perkara menulis surat cinta—alias menulis perasaan—saja dia sudah menyerahkannya pada orang lain, lalu bagaimana dengan komitmen hubungan mereka kalau nanti bisa terbangun? Mau diwakilin, gitu, pacarannya? Hadeh!

Kasus kedua dan ketiga, kalau diamati, memiliki pola yang sama. Satu pihak dalam sebuah hubungan yakin betul bahwa pihak lainnya akan bersikap A, sementara pihak lainnya merasa berhak bersikap B. Saya memutuskan diam saja saat mengetahui kekasih saya merasa saya tak perlu malam mingguan, padahal saya ingin sekali bertemu setelah berhari-hari sebelumnya kami sibuk sendiri-sendiri dengan tugas kuliah. Pertemuan kami tak terjadi malam itu, dan malam minggu berikutnya, yang kemudian justru membuat saya sebal dan uring-uringan.

Teman saya, di kasus ketiga, juga tetap diam dan berusaha menunjukkan sikap biasa-biasa saja saat mengetahui pacarnya berteman dengan si kawan perempuan. Padahal, diam-diam, dia tak henti-henti menangis dan berasumsi jelek setiap kali pacarnya menerima pesan pendek dari kawannya tadi. Tak jarang pula dia berpikiran negatif demi mengimbangi perasaan cemburu: apakah dia jauh lebih baik dariku? Apakah dia jauh lebih menyenangkan dariku?

Selanjutnya? Ya sudah, perang dunia pertengkaran pun pecah.

Kisah keempat adalah contoh paling sederhana soal minimnya komunikasi dalam hubungan. Teman saya keberatan pacarnya kentut di depannya, tapi pacarnya merasa bahwa ia baik-baik saja dengan keadaan ini. Apakah kentut membuat teman saya tidak mencintai pacarnya? Tentu saja tidak—ia hanya ingin pacarnya lebih bisa menempatkan diri dan, sayangnya, ia tidak mengomunikasikannya dengan baik.

Selanjutnya? Ya sudah, perang dunia pertengkaran pun pecah (lagi). Gara-gara kentut!

Tuntutan kita (hah, kita???) pada kekasih soal tingkahnya yang tak sesuai harapan memang bisa terjadi kapan saja, terutama saat kita (hah, kita???) akhirnya menyadari bahwa komunikasi tak dibangun sebelumnya. Daripada datang dan bicara empat mata (delapan mata kalau kita pakai kacamata, hehe!), akan jadi jauuuuh lebih mudah bagi kita untuk berasumsi dan hidup dalam pikiran-pikiran sendiri.

Iklan

Padahal, FYI aja nih, Pemirsa: pikiran-pikiran bisa jadi senjata pembunuhan yang paling ampuh di dunia ini. Pikiran-pikiran datang dalam bentuk asumsi (“Jangan-jangan dia…”) ataupun labeling (“Dia egois banget, sih!”)  yang bisa menumpuk di titik jenuh dan meledak dalam pertengkaran.

Di tengah-tengah argumen ini, keyakinan semacam “Ternyata kita memang nggak cocok” atau “Kamu ternyata nggak seperti yang aku duga” pasti akan muncul. Padahal, pertanyaan awal tadi bisa dilempar keras-keras pada kita semua—saya, teman-teman saya, juga kamu: memangnya situ sudah mengomunikasikan semuanya jelas-jelas pada pasangan? Memangnya situ sudah benar-benar memaksimalkan komunikasi dalam hubungan?

Selain kesetiaan, kepercayaan, dan kejujuran, tak ada lagi yang lebih penting dari komunikasi dalam hubungan. Kamu mungkin merasa pasanganmu tidak memahamimu, tapi—hey—bagaimana kalau sebenarnya hal sebaliknya juga terjadi: kamu tak memahami pasanganmu?

Akui sajalah, hubunganmu dan pasangan adalah hubungan dua individu yang berbeda dan perlu bicara, bukannya hubungan antara Deddy Corbuzier dan penonton random di acara sulap yang ujung-ujungnya beradegan ‘membaca pikiran’….

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: deddy corbuzierkejujurankentut di depan pasangankomunikasi dalam hubunganpacarpacaransetia
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Mereka yang Disuruh Putus Orang Tua Pacar karena Bukan Mahasiswa: Sakit, tapi Tak Perlu Repot-repot Kasih Pembuktian MOJOK.CO lebaran

Cerita Pilu 2 Pria yang Hubungannya Kandas Menjelang Lebaran, Ada yang Bawa-bawa Agama dan Dianggap Tak Punya Masa Depan!

9 April 2024
Casual Date: Sebuah Kenikmatan Tanpa Batas yang Berbahaya MOJOK.CO

Casual Date: Kenikmatan Tanpa Batas dan Berbahaya yang Tidak untuk Dirasakan Semua Orang

28 Februari 2024
Seorang Gadis Terjerat Pinjol Demi Memenuhi Kebutuhan Pacarnya yang konyol MOJOK.CO

Seorang Gadis Terjerat Pinjol Demi Memenuhi Kebutuhan Pacarnya yang konyol

1 Januari 2024
Punya Pacar yang Lagi Skripsian itu Nggak Enak, Beneran Nyusahin! MOJOK.CO

Punya Pacar yang Lagi Skripsian Itu Nggak Enak, Beneran Nyusahin!

19 Desember 2023
Beratnya Menjalin Hubungan Romansa dengan Cowok Beda Agama MOJOK.CO

Beratnya Menjalin Hubungan Romansa dengan Cowok Beda Agama

28 September 2023
menulis nama pacar di skripsi. MOJOK.CO

Mereka Tidak Menyesal Menulis Nama Pacar di Skripsi Meski Berakhir Putus

27 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

27 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.